SATELITNEWS.COM, TANGSEL—Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) Kota Tangerang Selatan (Tangsel), Ahmad Dohiri memastikan telah melakukan pemanggilan terhadap pengembang proyek properti Green Wood County Serpong, pada Kamis (9/4). Pemanggilan itu terkait persoalan banjir yang terjadi beberapa waktu lalu.
Dohiri menjelaskan, pemanggilan tersebut dilakukan dalam rangka klarifikasi terkait dokumen perizinan, khususnya menyusul terjadinya banjir beberapa waktu lalu. Dari hasil pemeriksaan sementara, proses perizinan proyek tersebut masih berjalan dan telah mengantongi sejumlah rekomendasi teknis.
“Jadi dia kan dipanggil itu kan dalam konteks klarifikasi surat-surat perizinannya, terkait dengan kondisi kemarin menimbulkan banjir di sekitar. Dari aspek perizinan sih memang dia dalam proses PPG, sudah ada rekom-rekom sudah ada,” ujarnya saat dikonfirmasi, Selasa (14/4).
Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa pihak pengembang tengah melakukan perubahan pada sistem pembuangan air (drainase). Hal ini dilakukan karena saluran lama dinilai tidak lagi memadai untuk menampung dan mengalirkan debit air ke titik pembuangan.
“Terkait dengan peil banjir dia melakukan perubahan, karena memang peil banjir yang lama itu tidak memungkinkan untuk aliran saluran air dibuang ke situ, sehingga dia mengajukan baru,” ucapnya.
Perubahan tersebut berdampak pada belum selesainya kajian teknis terkait pengendalian banjir. Akibatnya, pengembang belum dapat mengambil langkah maksimal dalam pengamanan jalur aliran air.
Baca Juga: Lima Pemuda Ditangkap Warga Pondok Aren, Dua Orang Bawa Celurit
“Ini sedang mengajukan baru, makanya belum ada dari kajian peil banjir, sehingga mereka tidak bisa melakukan tindakan-tindakan pengamanan keluar jalur airnya,” lanjutnya.
Dohiri menyampaikan, berdasarkan data yang disampaikan pengembang, banjir yang terjadi bukan semata akibat pembangunan Green Wood County Serpong. Persoalan utama justru terletak pada ketidakseimbangan antara infrastruktur di sekitar.
“Tapi karena memang saluran air besar 3 meter, dengan Terrace Serpong itu nyatu kan? Besar itu 3 meter, sedangkan pembuangan keluarnya itu punya BSD. Nah ini yang harus dibicarakan antara 3 pengembang itu,” jelasnya.
“Tidak bisa diselesaikan Green Wood saja atau Perumahan Terrace Serpong saja. Jadi memang harus bertiga dirembuk. Karena ini terkendalanya satu-satunya saluran air yang bisa dibuang dari 2 komplek komersial perumahan itu adalah ke saluran yang punya BSD,” imbuhnya.
Dohiri menegaskan, dari aspek perijinan, pihak pengembang memang belum mengantongi PBG dikarenakan masih mengurus sudut elevasi air akan diarahkan kemana.
“Sebenarnya kalau untuk langkah-langkah yang lain dia sudah melakukan cuma kan belum sesuai dengan peil banjir,” ungkapnya.
Baca Juga: Layanan SIM Keliling Tangerang Selatan Sabtu 5 September 2026, Cek di Sini Jadwalnya
Walaupun begitu, Dohiri mengaku belum memutuskan apakah proyek dapat berjalan sembari menunggu proses izin selesai. Bahkan, pihak pengembang meminta untuk tetap diperbolehkan untuk membangun kantor marketing perumahan tersebut.
“Itu kan sifatnya kan gak permanent. Dia cuma setahun katanya kan untuk tempat mungkin marketing aja. Tapi saya masih koordinasi dengan tim DCKTR dengan DPTSP apakah boleh tanpa izin PBG misalnya mendirikan marketing kan sifatnya sementara kan nanti dibongkar,” jelasnya.
Diberitakan sebelumnya, peristiwa banjir yang baru pertama kali terjadi di Perumahan Serpong Terrace, Kelurahan Buaran, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), memicu keresahan warga. Banjir setinggi sekitar 40 sentimeter itu diduga kuat dipicu oleh aktivitas pembangunan yang belum mengantongi izin resmi yang berada tidak jauh dari perusahaan tersebut.
Romli, petugas keamanan Perumahan Serpong Terrace mengungkapkan bahwa kondisi ini sangat berbeda dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Ia menegaskan bahwa meskipun hujan deras kerap terjadi, wilayah tersebut tidak pernah mengalami banjir separah ini.
“Air meluap sampai sekitar 40 sentimeter, ini baru pertama kali terjadi. Dulu walaupun hujan deras, tidak sampai seperti ini. Sekarang ada pembangunan baru di dekat sini, dampaknya terasa sekali,” ujar Romli saat ditemui, Selasa (7/4).
Menurutnya, sebelumnya kawasan tersebut memiliki sistem drainase yang cukup baik, termasuk sodetan air di sekitar taman bunga yang mampu mengalirkan air dengan lancar. Namun sejak adanya proyek pembangunan baru, kondisi tersebut berubah drastis.
“Dulu kita punya sodetan dekat taman bunga, itu aman. Sekarang sejak ada pembangunan, malah jadi banjir. Warga juga tidak menyangka,” tambahnya. (eko)
























