SATELITNEWS.COM, LEBAK–Musim wisuda dan perpisahan sekolah membawa berkah bagi perajin buket di Kabupaten Lebak. Meningkatnya tren pemberian hadiah simbolis membuat permintaan buket kreatif melonjak, sehingga pelaku usaha rumahan mampu kantongi omzet jutaan rupiah dari momen tahunan tersebut.
Salah satu pelaku usaha yang merasakan dampak positif musim wisuda yakni Pingki (29), perajin buket asal Kampung Cilengsir, Desa Banjarsari, Kecamatan Warunggunung, Kabupaten Lebak. Memasuki periode perpisahan sekolah tahun ini, usaha buket yang dikelolanya mulai kembali ramai menerima pesanan. Berbagai jenis buket seperti camilan, boneka, hingga uang tunai banyak diminati masyarakat sebagai hadiah untuk siswa yang telah menyelesaikan pendidikan.
Meski permintaan meningkat dibanding hari biasa, Pingki menyebut jumlah pesanan tahun ini belum mampu menyamai musim wisuda tahun sebelumnya. Menurutnya, perubahan konsep acara perpisahan sekolah yang lebih sederhana turut memengaruhi jumlah permintaan. “Kalau sekarang memang ada peningkatan, tetapi belum seramai tahun lalu. Mungkin karena perpisahan sekolah sekarang tidak terlalu ramai sesuai arahan dinas,” ujar Pingki, Minggu (14/6/2026).
Ia mengungkapkan, pada musim perpisahan sekolah tahun 2025, jumlah pesanan buket yang masuk ke usahanya mencapai lebih dari 300 unit. Sementara hingga awal Juni 2026, pesanan yang diterima baru berada di angka lebih dari 100 buket.
Kondisi tersebut turut berdampak terhadap pendapatan usaha. Jika pada musim wisuda tahun lalu omzetnya mampu menembus lebih dari Rp12 juta, tahun ini pendapatan yang terkumpul sementara berada di kisaran Rp7 juta.
Meski mengalami penurunan dibanding tahun sebelumnya, usaha yang dirintis sejak 2023 itu tetap menjadi sumber tambahan penghasilan bagi keluarga. Dalam sehari, Pingki mampu menyelesaikan beberapa pesanan dengan waktu pengerjaan menyesuaikan tingkat kesulitan desain dan permintaan pelanggan.
Baca Juga: Mahasiswa Punya Peluang Bangun Bisnis Startup
Dari berbagai produk yang tersedia, buket snack menjadi salah satu jenis yang paling banyak diminati kalangan pelajar. Selain harganya lebih terjangkau, model tersebut dinilai cocok diberikan sebagai hadiah perpisahan. “Yang paling banyak dipesan anak sekolah biasanya buket snack karena lebih terjangkau. Ada juga yang pesan buket uang dan boneka,” tuturnya.
Seiring berkembangnya tren, desain buket pun ikut berubah. Saat ini, model buket berbentuk bulan sabit menjadi salah satu pilihan favorit pelanggan karena memiliki tampilan yang dianggap unik dan elegan. Harga buket yang ditawarkan Pingki cukup bervariasi, mulai dari Rp35 ribu hingga lebih dari Rp1 juta. Besaran harga tergantung ukuran, desain, serta isi yang digunakan dalam pembuatan buket.
Di sisi lain, pelaku usaha buket juga menghadapi tantangan berupa kenaikan harga bahan baku. Salah satu komponen yang mengalami kenaikan yakni plastik pembungkus yang menjadi bagian utama dalam pembuatan buket. Pingki menyebut harga plastik yang sebelumnya sekitar Rp30 ribu per kemasan kini meningkat hingga lebih dari Rp50 ribu. Kendati biaya produksi naik, ia memilih mempertahankan harga jual agar pelanggan tetap bertahan.
“Saya belum menaikkan harga karena takut pelanggan komplain. Apalagi sudah banyak pelanggan tetap yang sudah tahu harga normalnya,” katanya.
Salah seorang pelanggan, Leni (36), warga Kampung Pasir Bedil, Desa Cempaka, Kecamatan Warunggunung, mengaku memilih buket berbentuk bulan sabit untuk hadiah wisuda anaknya karena desainnya berbeda dan tetap terjangkau. “Saya pilih model bulan karena bentuknya unik, elegan, dan harganya juga masih ramah di kantong,” kata Leni. Menurutnya, buket kini sudah menjadi bagian dari tradisi pemberian hadiah dalam berbagai momen penting. “Setiap ada acara wisuda atau perpisahan biasanya saya pesan buket di sini,” ujarnya. (mulyana)
Baca Juga: Omzet Budidaya Ikan Nila Merah di Kanupaten Pandeglang Melambung
