SATELITNEWS.COM, LEBAK–Menghadapi kemarau ekstrem yang diperkirakan berlangsung hingga September 2026, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak menyiapkan skenario darurat untuk menjamin pasokan air bersih bagi warga terdampak. Selain mengusulkan perpanjangan status siaga darurat kekeringan, BPBD juga akan menempatkan toren komunal dan menggandeng perusahaan melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) guna memperluas layanan distribusi air bersih.
Langkah tersebut dilakukan menyusul terus bertambahnya wilayah yang mengalami krisis air bersih. Hingga Kamis (30/7/2026), BPBD telah mengintervensi tujuh kecamatan yang meliputi 18 desa dengan cakupan sekitar 4.000 kepala keluarga (KK). Total air bersih yang telah disalurkan mencapai 153 ribu liter.
Sekretaris BPBD Kabupaten Lebak, Febby Rizki Pratama mengatakan, status siaga darurat kekeringan yang telah ditetapkan selama dua pekan besar kemungkinan akan diperpanjang kembali selama dua pekan ke depan. Keputusan itu diambil berdasarkan hasil pemantauan di lapangan dan rapat koordinasi yang memperkirakan dampak kemarau masih akan meluas hingga September.
“Pemkab Lebak sudah menetapkan status siaga darurat kekeringan selama dua minggu sampai Juli ini. Kemungkinan besar akan kita perpanjang dua minggu ke depan karena situasinya semakin meningkat. Hasil rakor juga menyatakan kekeringan ini akan meluas sampai September,” kata Febby kepada wartawan, saat ditemui di kantornya di Jalan Ir Juanda, Kecamatan Rangkasbitung.
Menurutnya, fokus penanganan BPBD saat ini adalah memenuhi kebutuhan air bersih masyarakat yang terdampak kekeringan. Namun tingginya permintaan belum dapat diimbangi dengan kemampuan distribusi yang dimiliki BPBD. “Kekeringan yang kita intervensi adalah krisis air bersih. Sampai hari ini sudah ada tujuh kecamatan dan 18 desa yang kita layani dengan cakupan sekitar 4.000 KK. Total air bersih yang sudah didistribusikan mencapai 153 ribu liter,” ujarnya.
Meski demikian, jumlah warga yang telah menerima bantuan masih jauh di bawah kebutuhan riil di lapangan. Dari sekitar 7.000 KK yang mengajukan bantuan air bersih, baru sekitar 4.000 KK yang dapat dilayani. “Kami akui memang belum balance antara permintaan dengan kemampuan distribusi. Permintaan yang masuk sekitar 7.000 KK, sementara yang baru terlayani sekitar 4.000 KK,” ucapnya.
Baca Juga: Hujan Mulai Rajin Mengguyur Lebak, Warga Diminta Siaga
Febby menjelaskan, keterbatasan armada menjadi kendala utama dalam percepatan distribusi air bersih. Saat ini BPBD hanya memiliki dua unit mobil tangki yang harus melayani wilayah Kabupaten Lebak dengan kondisi geografis yang luas dan jarak antardesa yang berjauhan. “Memang ada delay karena persoalan armada dan jarak. Kita hanya punya dua tangki, sedangkan wilayah Kabupaten Lebak sangat luas. Yang jelas setiap usulan akan tetap kami layani secara bertahap,” jelasnya.
Untuk mengantisipasi semakin meluasnya krisis air bersih, BPBD telah menyiapkan sejumlah langkah. Selain mengoptimalkan distribusi menggunakan armada yang tersedia, BPBD juga akan menempatkan toren komunal di desa-desa terdampak sehingga air bersih dapat dimanfaatkan bersama oleh masyarakat tanpa harus menunggu mobil tangki mendatangi setiap rumah.
“Kami sudah melakukan pemetaan wilayah yang masuk zona krisis air bersih. Skenario pertama tetap menyalurkan air bersih menggunakan mobil tangki yang ada. Skenario kedua menempatkan toren komunal di daerah terdampak sehingga distribusi tidak harus langsung ke rumah warga. Kami juga akan menggandeng CSR dari beberapa perusahaan,” terangnya.
Ia menyebutkan, dari tujuh kecamatan yang telah diintervensi, Kecamatan Warunggunung menjadi wilayah dengan cakupan terbanyak yakni empat desa, disusul Kecamatan Sajira sebanyak tiga desa. Jumlah wilayah terdampak diperkirakan akan terus bertambah apabila musim kemarau berlangsung sesuai prakiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
“Musim kemarau berdasarkan prakiraan BMKG berlangsung sampai September. Puncaknya diperkirakan terjadi pada Agustus, kemudian September memasuki masa pancaroba dan November mulai memasuki musim hujan,” katanya.
BPBD mengimbau masyarakat agar menggunakan air secara hemat serta meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi kebakaran hutan dan lahan selama musim kemarau. Warga diminta tidak melakukan pembakaran lahan maupun aktivitas lain yang dapat memicu munculnya titik api. “Kami mengimbau masyarakat tetap bersiaga, bijak menggunakan air bersih, serta tidak membakar lahan maupun aktivitas lain yang berpotensi memicu kebakaran. Saat ini kondisi kemarau ekstrem terus meningkat sehingga kewaspadaan harus terus ditingkatkan,” pungkasnya. (mulyana)
Baca Juga: El Nino Mengancam, Polres Lebak Siapkan Sumur Bor




















