SATELITNEWS.COM, LEBAK – Kemarau panjang mulai memberi tekanan serius terhadap ketersediaan air bersih di Kabupaten Lebak. Sedikitnya 42.056 jiwa atau 25.729 keluarga yang tersebar di 30 desa pada 11 kecamatan tercatat terdampak kekeringan.
Di tengah meningkatnya kebutuhan masyarakat, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Lebak kewalahan melayani permohonan tersebut akibat keterbatasan armada. Saat ini, BPBD hanya mengandalkan dua mobil tangki untuk melayani permintaan air bersih dari berbagai wilayah.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kabupaten Lebak, Suhada, mengatakan penyaluran air dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan laporan dari pemerintah desa. “Armada kami hanya dua. Jadi, yang kami prioritaskan adalah desa yang lebih dahulu memberikan rekomendasi atau usulan kebutuhan air,” kata Suhada, Minggu (9/8/2026).
Menurutnya, kondisi geografis Kabupaten Lebak yang cukup luas membuat distribusi air membutuhkan pengaturan agar bantuan dapat diberikan sesuai kebutuhan masyarakat. “Kami tentu ingin semua wilayah yang membutuhkan bisa segera dilayani. Tetapi dengan armada yang tersedia, penyalurannya harus dilakukan secara bergiliran,” ujarnya.
Suhada menjelaskan, BPBD tidak menetapkan jumlah air yang sama untuk setiap desa. Volume distribusi disesuaikan dengan permintaan serta kondisi warga di lapangan. “Tidak semua desa kebutuhannya sama. Jadi jumlah air yang dikirim menyesuaikan permintaan dan kondisi di lokasi,” katanya.
Hingga saat ini, BPBD mencatat 231.000 liter air bersih telah didistribusikan ke sejumlah wilayah terdampak. Meski demikian, bantuan tersebut belum seluruhnya menjangkau desa yang masuk dalam daftar wilayah kekeringan.
Baca Juga: Banten Masuki Musim Kemarau Panjang, Diprediksi Hingga September
Suhada mengatakan, pihaknya terus melakukan pemantauan untuk mengetahui perkembangan kondisi masyarakat. Data wilayah terdampak dan distribusi bantuan juga dihimpun melalui Pusat Pengendalian Operasi Penanggulangan Bencana (Pusdalops). “Data lengkapnya ada di Pusdalops. Kami di lapangan lebih banyak melakukan pencatatan dan pemantauan, termasuk melihat kebutuhan masyarakat,” tuturnya.
Berdasarkan pemetaan BPBD, wilayah yang terdampak kekeringan meliputi Kecamatan Sajira, Curugbitung, Wanasalam, Cilograng, Warunggunung, Cimarga, Leuwidamar, Rangkasbitung, Cirinten, Gunungkencana dan Cihara. Kecamatan Cirinten menjadi salah satu daerah dengan jumlah warga terdampak cukup besar. Empat desa, yakni Badur, Parakanlima, Cibarani dan Cirinten, masuk dalam daftar wilayah yang mengalami kesulitan air.
Desa Cirinten tercatat memiliki 7.703 jiwa dari 1.396 keluarga terdampak. Kemudian Badur sebanyak 2.759 jiwa, Parakanlima 2.607 jiwa, dan Cibarani 496 jiwa. Namun, dalam rekapitulasi BPBD, belum seluruh desa tersebut mencantumkan volume bantuan air yang telah diterima.
Sementara di Kecamatan Sajira, distribusi air tercatat menyasar Desa Sukajaya sebanyak 24.000 liter, Bungurmekar 12.000 liter, dan Paja 12.000 liter. Adapun Desa Mekarsari belum tercatat memperoleh distribusi dalam rekapitulasi tersebut. “Makanya kami terus memperbarui data. Karena kondisi di lapangan bisa berubah, dan kebutuhan masyarakat juga bisa bertambah,” ujar Suhada.
Di Kecamatan Curugbitung, Desa Lebak Asih tercatat memiliki 762 keluarga atau 3.048 jiwa terdampak dan menerima 18.000 liter air. Sedangkan Desa Cilayang dengan 502 keluarga atau 2.008 jiwa terdampak memperoleh 6.000 liter.
Kekeringan juga melanda Kecamatan Cilograng. Desa Cikatomas tercatat memiliki 4.461 jiwa dari 1.496 keluarga terdampak dan menerima 12.000 liter air. Desa Gunungbatu dengan 3.026 jiwa terdampak memperoleh bantuan dengan volume yang sama.
Baca Juga: 2 Bulan Kemarau Panjang, 9.391 KK Di Pandeglang Terdampak Krisis Air Bersih
Di Warunggunung, Desa Cibuah tercatat memperoleh 35.000 liter air melalui bantuan Taruna Siaga Bencana (Tagana). Desa Pasir Tangkil menerima 10.000 liter, Jagabaya 12.000 liter, sedangkan Banjarsari yang memiliki 3.740 jiwa terdampak memperoleh 6.000 liter.
Untuk Kecamatan Wanasalam, Desa Muara tercatat menerima 12.000 liter bagi warga Kampung Karangkencana. Sementara Desa Wanasalam, khususnya Kampung Cikarang, masuk daftar wilayah terdampak tetapi belum disertai keterangan volume bantuan dalam rekapitulasi. Suhada menyebut, keterlibatan berbagai pihak menjadi penting untuk memperluas jangkauan pelayanan kepada masyarakat.
“Kalau hanya mengandalkan BPBD, kebutuhan masyarakat tidak akan terpenuhi. Karena itu, penanganannya juga melibatkan Tagana, PMI, BBWS untuk wilayah selatan, serta pihak lain seperti perusahaan,” katanya. Menurut Suhada, kolaborasi tersebut diharapkan dapat membantu pemerintah dalam memenuhi kebutuhan air masyarakat yang tersebar di banyak wilayah.
“Yang paling penting masyarakat yang membutuhkan bisa mendapatkan air. Kami berupaya melayani berdasarkan laporan dan kebutuhan yang masuk,” ujarnya.
Bantuan juga telah disalurkan ke sejumlah wilayah di Kecamatan Leuwidamar, Cimarga, Rangkasbitung, Gunungkencana dan Cihara. Di Leuwidamar, desa yang masuk daftar terdampak antara lain Jalupangmulya, Leuwidamar, Cisimet, Cibungur dan Leubak Parahiang.
Di Gunungkencana, Desa Ciakar tercatat memiliki 531 keluarga atau 2.124 jiwa terdampak. Sementara Desa Cihara di Kecamatan Cihara mencatat 465 keluarga atau 838 jiwa terdampak kekeringan.
Suhada mengatakan, air yang dikirim melalui mobil tangki diprioritaskan untuk kebutuhan paling mendasar, terutama minum dan memasak. “Air bersih yang kami distribusikan bukan untuk mandi atau mencuci, tetapi untuk kebutuhan memasak dan minum,” katanya.
Untuk kebutuhan lain, lanjut dia, sebagian masyarakat masih memanfaatkan sumber air yang ada di sekitar permukiman. “Untuk kebutuhan lainnya, sebagian masyarakat masih memanfaatkan sungai yang masih memiliki air,” ujarnya.
Di sisi lain, BPBD terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan kondisi sumber air masyarakat. Sebab, jika kemarau berlangsung lebih lama, kebutuhan terhadap pasokan air bersih berpotensi meningkat. “Kami tetap memantau kondisi di lapangan. Kalau ada laporan dari desa mengenai kebutuhan air, tentu akan kami tindak lanjuti sesuai kemampuan armada yang ada,” tutur Suhada.
Dengan jumlah warga terdampak mencapai 42.056 jiwa, penanganan kekeringan membutuhkan dukungan banyak pihak. Selain distribusi air, pembaruan data juga menjadi bagian penting agar bantuan dapat diarahkan kepada wilayah yang paling membutuhkan.
Suhada berharap dukungan dari berbagai unsur dapat terus berjalan selama masyarakat masih menghadapi kesulitan mendapatkan air bersih. “Penanganan ini tidak bisa dilakukan sendiri. Kami berharap semua pihak bisa bersama-sama membantu masyarakat yang sedang membutuhkan air bersih,” pungkasnya.(mulyana)

















