SATELITNEWS.COM, TANGSEL-Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan wilayah Provinsi Banten kini telah memasuki musim kemarau panjang. Kondisi tersebut diperkirakan akan berlangsung hingga September 2026.
Kepala BMKG Wilayah II, Hartanto, mengatakan masyarakat perlu meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak musim kemarau, mulai dari potensi kekeringan hingga meningkatnya risiko kebakaran akibat cuaca yang kering.
“Untuk wilayah Banten khususnya Kota Tangerang Selatan sudah memasuki musim kemarau,” ujar Hartanto saat dikonfirmasi, Rabu (29/7).
Hartanto juga menjelaskan fenomena cuaca yang belakangan dirasakan masyarakat, yakni udara sangat panas pada siang hari namun berubah menjadi dingin pada malam hingga dini hari.
Menurutnya, kondisi tersebut dipengaruhi oleh Angin Monsun Australia yang bertiup menuju Benua Asia melewati wilayah Indonesia dan Samudera Hindia. Angin tersebut membawa massa udara yang relatif dingin dan kering karena berasal dari daratan Australia.
“Kondisi dingin pada malam hingga dini hari beberapa hari terakhir disebabkan Angin Monsun Australia yang membawa udara kering dengan kandungan uap air yang rendah. Selain itu, angin dari arah Timur hingga Tenggara membuat pertumbuhan awan berkurang,” jelasnya.
Minimnya tutupan awan pada malam hari juga menyebabkan panas yang tersimpan di permukaan bumi lebih mudah terlepas ke atmosfer. Akibatnya, suhu udara turun cukup signifikan sehingga udara terasa lebih dingin dibanding biasanya.
Baca Juga: Beras Premium Melonjak dari Hulu, Inflasi September 3,28 Persen
Hartanto mengingatkan, selama periode tersebut, masyarakat diminta mengantisipasi berbagai dampak yang mungkin terjadi, terutama berkurangnya ketersediaan air bersih.
Dirinya mengimbau masyarakat menggunakan air secara bijak serta menyiapkan cadangan air untuk menghadapi kemungkinan kekeringan selama musim kemarau. Selain itu, ia menegaskan agar masyarakat tidak melakukan pembakaran sampah karena kondisi cuaca yang kering dapat mempercepat penyebaran api dan memicu kebakaran lahan maupun permukiman.
“Diharapkan tidak melakukan pembakaran sampah untuk mencegah terjadinya kebakaran yang semakin meluas,” jelasnya.
Di sisi lain, masyarakat juga diminta menjaga kondisi kesehatan selama cuaca panas dengan memperbanyak konsumsi air putih, menggunakan pelindung kulit seperti sunscreen saat beraktivitas di luar ruangan, serta rutin memantau informasi cuaca dan iklim terbaru melalui kanal resmi BMKG.
Dengan masih berlangsungnya musim kemarau hingga beberapa bulan ke depan, BMKG berharap masyarakat dapat meningkatkan kewaspadaan dan mengambil langkah-langkah pencegahan agar dampak cuaca ekstrem dapat diminimalkan.
Sebelumnya, Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Teuku Faisal Fathani mengatakan bahwa Indonesia sudah masuk ke dalam kategori fenomena El Nino kuat. “Untuk saat ini kondisinya sudah masuk ke El Nino kuat,” ujar Faisal usai bertemu Presiden Prabowo Subianto di Istana, Jakarta, Selasa (28/7) malam.
Baca Juga: DPRD Kota Tangerang Dorong Penyediaan Air Bersih dan Salat Istisqa
Menurut Faisal, El Nino bisa terjadi akibat suhu di permukaan laut di Samudra Pasifik mengalami kenaikan hingga 0,5 derajat lebih tinggi. Dia memaparkan, jika kondisi itu sudah tercapai, maka Indonesia masuk dalam kategori El Nino aktif. Selanjutnya, Faisal menyampaikan bahwa fokus BMKG untuk menghadapi El Nino adalah melalui ketersediaan air melalui waduk-waduk, serta antisipasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
Dia mengatakan, ada enam provinsi yang selama ini menjadi fokus utama, yakni Riau, Jambi, Sumatra Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. “Pengisian waduk dengan modifikasi cuaca dan lain sebagainya juga dengan untuk mengantisipasi kebakaran hutan dan lahan melalui pembasahan dari lahan-lahan yang mudah terbakar ini melalui modifikasi cuaca. Tadi diperkuat banyak tentang modifikasi cuaca,” katanya. (eko)




















