SATELITNEWS.COM, SERANG – Camat Baros, Kabupaten Serang, Tb Jefri Januar, menyampaikan sejumlah persoalan yang dihadapi wilayahnya kepada Sekretaris Daerah (Sekda) Kabupaten Serang, Zaldi Dhuhana.
Mulai dari kondisi kantor kecamatan yang mengalami kebocoran, kekeringan lahan pertanian, hingga tingginya kasus pelecehan seksual terhadap anak.
Curhatan tersebut disampaikan Jepri, saat Sekda Kabupaten Serang berkunjung ke Kantor Kecamatan Baros, Kamis (13/8/2026).
Jefri mengatakan, kondisi gedung kantor Kecamatan Baros cukup memprihatinkan, terutama ketika memasuki musim penghujan.
Hampir seluruh ruangan mengalami kebocoran, bahkan saat hujan deras sejumlah bagian kantor sempat terendam banjir.
“Kalau kondisi kemarau begini kita nyaman, tapi kalau datang musim hujan itu hampir setiap ruangan bocor. Bahkan kalau hujan besar, sempat banjir,” ujar Jefri, Kamis (13/8/2026).
Baca Juga: Kunjungan Wisatawan di Anyer – Cinangka Kabupaten Serang Tembus 3,5 Juta
Menurut Jefri, kondisi tersebut sudah berlangsung cukup lama. Hingga kini, kantor kecamatan belum mendapatkan rehabilitasi secara menyeluruh, dan hanya beberapa kali dilakukan perbaikan kecil.
“Alhamdulillah, hari ini kedatangan Pak Sekda. Mudah-mudahan ke depan, bisa didorong sehingga kami bisa melaksanakan tugas lebih nyaman. Karena kalau sedang bocor, itu mengganggu pelayanan. Kita sibuk saat bocor mengeringkan ruangan,” tambahnya.
Jefri mengungkapkan, bagian atap kantor sudah banyak yang lapuk dan bahkan pernah mengalami kerusakan hingga ambrol. Perbaikan dilakukan secara bertahap, dengan kemampuan yang ada karena keterbatasan anggaran.
“Kondisi atap memang sudah lapuk, pernah ambrol. Kita rapikan sedikit demi sedikit, karena tidak ada anggaran. Kita sebetulnya khawatir, tapi bagaimana lagi, kita punya kantornya di sini,” ujarnya.
Jepri mengaku, pihak kecamatan telah beberapa kali mengajukan perbaikan. Namun, pihaknya memahami kondisi keuangan pemerintah daerah. Karena itu, ia berharap rehabilitasi dapat dilakukan secara bertahap.
Terlebih, Kecamatan Baros juga memiliki rencana pemindahan kantor ke kawasan alun-alun kecamatan, yang lokasinya berdekatan dengan Polsek dan Koramil.
Baca Juga: Taat Bayar PBB, Pemkab Serang Undi 2 Tiket Umrah Untuk Warga
“Sudah saya curhatkan ke Pak Sekda. Minimal bisa dibangun secara bertahap, walaupun rencananya kita akan pindah ke alun-alun Kecamatan Baros,” tandasnya.
Selain persoalan kantor, Jefri juga menyampaikan masalah kekeringan yang melanda sejumlah lahan pertanian di wilayah Baros, khususnya kawasan yang berbatasan dengan Kecamatan Petir, Curug dan wilayah Pandeglang.
Ia mengatakan, masyarakat di wilayah tersebut kerap mengeluhkan minimnya pasokan air untuk pertanian, salah satu wilayah yang terdampak berada di Desa Sidamukti, dengan hampir dua hektare sawah mengalami kekeringan.
“Untuk kekeringan pertanian di wilayah bawah, yang berbatasan dengan Petir, Curug dan Pandeglang, sering mengadu kekurangan air. Di Sidamukti, hampir dua hektare kekeringan sawah,” pungkasnya.
Kemudian Persoalan lain, yang menjadi perhatian serius Pemerintah Kecamatan Baros adalah kasus kekerasan dan pelecehan seksual terhadap anak.
Jehri menyebut, kasus tersebut cukup banyak terjadi di wilayah Baros. Karena itu, pihak kecamatan bersama unsur terkait terus melakukan upaya pencegahan dan edukasi kepada masyarakat.
Salah satu inovasi yang dilakukan adalah, program kunjungan ke sekolah untuk memberikan edukasi kepada anak dan orang tua.
“Kami melakukan upaya pencegahan dengan melakukan inovasi, ceramah dengan berkunjung ke sekolah. Tapi kami minta bertemu orang tua,” tukasnya.
Dalam kegiatan tersebut, orang tua juga diberikan pemahaman mengenai pengawasan penggunaan telepon seluler oleh anak. Salah satu yang dikenalkan adalah, aplikasi Google Family Link.
Menurut Jefri, aplikasi tersebut dapat membantu orang tua memantau penggunaan telepon seluler anak, termasuk mengatur aplikasi yang dapat diunduh, waktu penggunaan perangkat hingga lokasi anak melalui fitur GPS.
“Kita ajarkan mereka aplikasi Google Family Link, yang bisa memantau penggunaan HP pada anak. Jadi mendownload aplikasi harus izin orang tua, kemudian jam berapa HP dimainkan oleh anak, terus anak ada di mana ada GPS-nya,” tuturnya
Sementara itu, Sekda Kabupaten Serang Zaldi Dhuhana mengakui, kondisi Kantor Kecamatan Baros memang membutuhkan perhatian. Berdasarkan peninjauannya, kerusakan atap cukup parah sehingga perbaikan tidak bisa dilakukan secara parsial.
“Saya melihat kondisi lingkungan perkantoran, memang informasi dari camat banyak yang bocor dan kondisi atap tidak diperbaiki. Kalau ingin diperbaiki, atap harus diganti semua,” ungkap Zaldi.
Ia memastikan, kondisi tersebut akan menjadi salah satu perhatian pemerintah daerah. Namun, Zaldi menyebut kondisi serupa juga ditemukan di sejumlah kantor kecamatan lainnya sehingga penanganannya harus dilakukan secara bertahap sesuai kemampuan anggaran.
“Solusinya memang ini menjadi prioritas anggaran kita, walaupun mungkin ada beberapa kecamatan yang kondisinya sama. Tapi satu-satu harus kita perbaiki agar dokumen pemerintahan tidak rusak. Kita akan lihat apa dulu yang bisa kita perbaiki,” ujarnya.
Zaldi menargetkan upaya perbaikan dapat mulai dilakukan pada tahun depan. Proses pembangunan dan rehabilitasi nantinya akan ditangani melalui Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (DPUPR) Kabupaten Serang.
“Perbaikan diupayakan pada tahun depan. Proses pembangunan ada di DPUPR,” katanya.
Selain persoalan infrastruktur, Zaldi juga menyoroti tingginya kasus pelecehan seksual terhadap anak di wilayah Baros. Ia mengatakan persoalan tersebut perlu ditangani secara serius dan tidak hanya mengandalkan penanganan setelah kasus terjadi.“Kita ingin mendalami masalah di Baros. Terungkap kasus pelecehan seksual pada anak di Baros cukup tinggi. Ada yang masih diproses, ada yang belum diproses,” ungkapnya.
Zaldi mengapresiasi langkah Kecamatan Baros yang mulai memanfaatkan teknologi untuk membantu orang tua mengawasi aktivitas anak di dunia digital melalui Google Family Link. Menurutnya, pengawasan terhadap anak harus dilakukan secara bersama-sama, baik oleh pemerintah, sekolah, aparat keamanan maupun keluarga.
“Itu salah satu upayanya. Kasusnya juga banyak, kita ingin mengedukasi sekaligus memantau perguruan silat supaya tidak terulang lagi seperti di Waringinkurung. Orang tua juga harus ada pembinaan terhadap anak, jangan acuh,” tuturnya.
Di sisi lain, persoalan kekeringan lahan pertanian di wilayah perbatasan Petir juga menjadi perhatian pemerintah daerah. Zaldi mengatakan kondisi tersebut perlu didalami agar kebutuhan pengairan bagi lahan pertanian masyarakat dapat segera ditangani. (sidik)




















