SATELITNEWS.COM, TANGERANG — Kader dan alumni Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) diminta tidak sekadar mengikuti arus perubahan zaman. Wakil Ketua MPR RI Bambang Wuryanto atau yang akrab disapa Bambang Pacul menekankan pentingnya mempelajari cara berpikir Bung Karno sebagai bekal membaca persoalan bangsa dan dinamika politik saat ini.
Pesan tersebut disampaikan Bambang Pacul saat menghadiri Lokakarya Kebangsaan bertajuk “Kemerdekaan, Kedaulatan dan Masa Depan Indonesia: Menimba Api Pemikiran Bung Karno untuk Menjawab Tantangan Zaman” di Mahogany Ballroom Aryaduta Karawaci, Kabupaten Tangerang, Rabu (19/8/2026).
Kegiatan tersebut digelar Fraksi PDI Perjuangan MPR RI bersama Dewan Pakar Nasional Persatuan Alumni (PA) GMNI. Lokakarya menjadi ruang untuk membahas kembali pemikiran Bung Karno sekaligus mengaitkannya dengan persoalan bangsa dan tantangan politik masa kini.
Sejumlah tokoh hadir sebagai pembicara, di antaranya mantan Ketua Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia Prof. Arief Hidayat, anggota DPR RI Abidin Fikri, dan anggota DPR RI Andreas Hugo Firera.
Bambang Pacul mengatakan lokakarya tersebut menjadi momentum untuk mengolah pemikiran, khususnya bagi kader dan alumni GMNI.
“Saya diundang sebagai Wakil Ketua MPR RI oleh Fraksi PDI Perjuangan. Hari ini sedang melakukan lokakarya tentang pemikiran Bung Karno. Hari ini adalah hari olah pikir,” kata Bambang Pacul.
Baca Juga: Putus Rantai Rentenir dan Bank Emok, PT LKM AKR Edukasi Warga Kadu Curug
Menurut dia, salah satu warisan penting Bung Karno yang masih relevan digunakan untuk membaca persoalan bangsa adalah metode berpikir atau denkmethod.
Bambang Pacul menyebut terdapat dua metode berpikir yang dipelajari dari pemikiran Bung Karno, yakni dialectical materialism dan historical materialism. Kedua pendekatan tersebut, kata dia, dapat digunakan untuk membaca kondisi sosial, termasuk memahami dinamika elektoral.
“Saya menganalisis sosial dengan dua ini. Karena saya mempelajari elektoral, ini penting. Nah, pakai itu pikiran Bung Karno. Ini perintah, saya pelajari sampai tuntas,” ujarnya.
Di sisi lain, Bambang Pacul mengingatkan kader GMNI agar tidak menjadikan kepentingan pribadi sebagai ukuran utama dalam menjalankan aktivitas organisasi maupun pengabdian.
Ia menyoroti kecenderungan sebagian orang yang selalu mempertanyakan keuntungan atau manfaat pribadi dari setiap aktivitas.
“Pertanyaannya selalu tunggal, ‘Manfaate opo?’ Kalau kamu ikut arus yang kayak begitu, ‘Manfaate opo’, kamu jangan ikut GMNI. Karena Bung Karno mengajarkan bukan seperti itu,” katanya.
Baca Juga: Pemkab Tangerang Tekan Stunting Lewat Inovasi Terpa Gantung
Menurut Bambang Pacul, pemikiran Bung Karno justru menempatkan pengabdian kepada bangsa dan negara sebagai bagian penting dalam kehidupan. Semangat tersebut, menurutnya, perlu tetap dijaga oleh kader GMNI dan alumni GMNI di tengah perubahan zaman.
“Bung Karno mengajarkan bagaimana kita berbakti kepada nusa dan bangsa. Dalam pengabdian itulah hidupnya merasa manfaat,” ujar Bambang Pacul.
Ia juga menekankan pentingnya sikap cerdik dalam membaca situasi di lapangan. Menurutnya, penggunaan metode berpikir Bung Karno tidak cukup jika tidak disertai kemampuan menerapkannya sesuai konteks zaman.
Karena itu, Bambang Pacul berharap peserta lokakarya tidak sekadar menganggap pemikiran Bung Karno sebagai gagasan masa lalu yang tidak lagi relevan. Sebaliknya, gagasan besar tersebut perlu dipelajari, diendapkan, kemudian disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masyarakat saat ini.
“Jangan ngomong, ‘Wah ora cocok karo zamane iki.’ Ya itu tugasmu, pikiran besar itu nanti diendapkan kemudian dicocokkan dengan denkmethod dan state of mind. Hidup hari ini tekniknya bagaimana? Begitu,” kata dia.
Bambang Pacul mengatakan semangat sosialisme dan gotong royong yang menjadi bagian dari pemikiran Bung Karno juga perlu diterjemahkan dalam praktik kehidupan politik dan kebangsaan hari ini.
Lokakarya tersebut diharapkan menjadi ruang pertukaran gagasan bagi kader GMNI serta alumni GMNI untuk memahami kembali pemikiran Bung Karno dan mencari relevansinya dalam menjawab persoalan Indonesia saat ini. (ari/aditya)






















