SATELITNEWS.COM, JAKARTA—Partai Gerindra masih memimpin peta elektoral partai politik, meski elektabilitasnya menurun dalam dua pengukuran terakhir, menurut survei Poltracking Indonesia pada Agustus 2026.
Elektabilitas Gerindra berada di 23,2 persen, turun dari 25,9 persen pada Mei dan 23,5 persen pada Juli. PDI Perjuangan berada di posisi kedua dengan 11,6 persen, disusul Partai Golkar 10,4 persen.
“Partai Gerindra dengan elektabilitas 23,2 persen, masih unggul dibanding partai-partai lainnya yang mendukung pemerintahan saat ini,” kata Peneliti Poltracking Indonesia Yoki Alvetro dalam konferensi pers yang disiarkan secara daring, Rabu (23/9/2026). “Elektabilitas ini kita potret pada 14 sampai 20 Agustus dan gambarannya seperti ini. Ini menggunakan simulasi bilik suara,” lanjutnya.
Penurunan itu terjadi setelah elektabilitas Gerindra mencapai 26,1 persen pada Maret 2026 dan 25,9 persen pada Mei. Angkanya kemudian turun menjadi 23,5 persen pada Juli dan 23,2 persen pada Agustus. Pada Oktober 2025, elektabilitas Gerindra tercatat 24,1 persen.
Pergerakan serupa terlihat pada PDI Perjuangan. Elektabilitas partai itu turun dari 15,7 persen pada Oktober 2025 menjadi 15,4 persen pada Maret, 14,4 persen pada Mei, 12,3 persen pada Juli, dan 11,6 persen pada Agustus.
PKB menunjukkan pergerakan yang lebih berfluktuasi. Elektabilitasnya berada di 8,4 persen pada Oktober 2025 dan 8,1 persen pada Maret, kemudian naik menjadi 8,5 persen pada Mei dan 9,8 persen pada Juli. Pada Agustus, angkanya turun menjadi 6,2 persen.
Baca Juga: Golkar Kabupaten Tangerang Perkuat Pendidikan Politik Kader
“Tren elektabilitas Gerindra, PDI-P, dan PKB cenderung mengalami sedikit penurunan,” kata Yoki.
Golkar dan Demokrat menunjukkan pergerakan berbeda. Elektabilitas Golkar tercatat 9,5 persen pada Oktober 2025, 9 persen pada Maret, 9,2 persen pada Mei, 11,4 persen pada Juli, dan 10,4 persen pada Agustus. Demokrat bergerak dari 5,4 persen menjadi 5,6 persen, 6,1 persen, 6,9 persen, lalu 6,1 persen pada periode yang sama.
Pada Agustus, PKB dan Demokrat berada setelah tiga partai teratas dengan masing-masing 6,2 persen dan 6,1 persen. NasDem memperoleh 4,4 persen, PAN 3,4 persen, PKS 3,3 persen, PSI 2,3 persen, dan PPP 1,9 persen. Perindo berada di 0,6 persen, Partai Buruh 0,5 persen, dan Hanura 0,3 persen. Ummat, PBB, Garuda, PKN, dan Gelora masing-masing 0,1 persen.
Sebanyak 25,3 persen responden tidak tahu atau tidak menjawab ketika ditanya partai politik atau calon anggota DPR RI yang akan dipilih.
Survei yang sama menunjukkan rendahnya kedekatan publik terhadap partai politik. Sebanyak 49,7 persen responden menyatakan percaya terhadap keberadaan partai politik, sedangkan 37,1 persen menyatakan tidak percaya. Hanya 12,3 persen yang merasa dekat dengan partai politik, sementara 66,8 persen menyatakan tidak merasa dekat.
Dalam pilihan legislatif, 53,3 persen responden lebih cenderung memilih calon anggota legislatif, sedangkan 24,7 persen memilih partai politik. Sebanyak 57,6 persen responden menyatakan tidak tahu atau tidak mengenal anggota DPR RI yang mewakili daerahnya, sedangkan 26,2 persen menyatakan tahu atau mengenalnya.
Baca Juga: Rampungkan Muscam Lebih Cepat, Intan: Berkat Soliditas Golkar Kabupaten Tangerang
Pengetahuan mengenai ambang batas parlemen juga masih terbatas. Hanya 17,7 persen responden yang mengetahui bahwa ambang batas parlemen atau syarat partai politik untuk lolos ke DPR RI saat ini sebesar 4 persen, sedangkan 64,7 persen menyatakan tidak tahu.
“Di antara yang menjawab tahu ambang batas parlemen (17,7 persen), publik menilai ambang batas parlemen yang paling tepat adalah tetap 4 persen (49,0 persen),” kata Yoki.
Sementara itu, 17,8 persen responden memilih ambang batas parlemen di atas 7 persen. “Lalu ada 7,6 persen respons memilih ambang batas parlemen 6 persen, dan 6,1 persen memilih diturunkan menjadi 0 persen,” ujarnya.
Dukungan partai terhadap pasangan calon presiden dan wakil presiden juga ditanyakan dalam survei tersebut. Sebanyak 44,6 persen mengatakan dukungan tersebut tidak memengaruhi pilihan mereka terhadap partai politik, sedangkan 32,8 persen menyatakan memengaruhi.
Ketika pertanyaan diarahkan pada pilihan pasangan capres-cawapres, 44,5 persen responden mengatakan dukungan partai politik terhadap pasangan tertentu tidak memengaruhi pilihan mereka, sedangkan 33 persen menyatakan memengaruhi.
Pengukuran dilakukan pada 14-20 Agustus 2026 melalui simulasi bilik suara. Responden ditanya partai politik atau calon anggota DPR RI yang akan dipilih jika pemilu digelar saat survei berlangsung.
Survei Poltracking menggunakan metode stratified multistage random sampling terhadap 1.220 responden di 38 provinsi. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara tatap muka oleh pewawancara terlatih. Klaster survei menjangkau seluruh provinsi secara proporsional berdasarkan data Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilu 2024, sedangkan stratifikasi dilakukan berdasarkan proporsi jenis kelamin pemilih.
Survei memiliki margin of error sekitar ±2,9 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen. (rmg/xan)
















