SATELITNEWS.COM, TANGERANG—Pengelolaan sampah di Indonesia mulai bergeser dari pola kumpul, angkut, dan buang menuju pengurangan serta pemilahan sejak dari sumber.
Perubahan ini membuat kebutuhan terhadap infrastruktur pendukung semakin penting, terutama di rumah tangga, perkantoran, kawasan industri, fasilitas pendidikan, kesehatan, dan ruang publik.
Pemilahan dari sumber dapat meningkatkan kualitas material yang masih bernilai daur ulang sekaligus mengurangi volume sampah yang berakhir di tempat pemrosesan akhir (TPA).
Pendekatan ini juga sejalan dengan pengembangan ekonomi sirkular.
Arah kebijakan tersebut diperkuat melalui Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2008 tentang Pengelolaan Sampah, PP Nomor 81 Tahun 2012, serta Perpres Nomor 97 Tahun 2017 tentang Kebijakan dan Strategi Nasional (Jakstranas) Pengelolaan Sampah Rumah Tangga dan Sampah Sejenis Sampah Rumah Tangga.
Dalam RPJMN 2025–2029, peningkatan kualitas lingkungan, penguatan ekonomi sirkular, dan percepatan penyelesaian persoalan sampah menjadi bagian dari agenda pembangunan. Pemerintah juga mendorong penghentian praktik open dumping di TPA.
Sementara, Permen LHK Nomor P.75/MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2019 menetapkan peta jalan pengurangan sampah oleh produsen dengan target 30 persen pada 2029. Permen LHK Nomor 14 Tahun 2021 turut memperkuat peran bank sampah dalam pengelolaan sampah dan ekonomi sirkular.
Baca Juga: ALVAboard Rekosistem Perkuat Ekosistem Sirkular, Dorong Industri Hijau di Asia Tenggara
Implementasi kebijakan tersebut berkembang di berbagai daerah, termasuk Tangerang Raya melalui pengembangan TPS3R dan peningkatan layanan persampahan. Pemilahan kini juga diterapkan di perusahaan, kawasan industri, gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, rumah sakit, institusi pendidikan, hingga kegiatan berskala besar.
Namun, keberhasilan pemilahan tidak hanya bergantung pada kesadaran dan regulasi. Keterbatasan kapasitas, material wadah yang tidak sesuai, penanda kategori yang kurang jelas, serta desain yang tidak mendukung kebutuhan operasional dapat menghambat konsistensi pemilahan.
Chief Marketing Officer (CMO) ALVAboard, Christabelle Priscilla, mengatakan infrastruktur menjadi salah satu faktor penting dalam memastikan sistem pemilahan berjalan efektif.
“Kesadaran masyarakat merupakan fondasi penting dalam pengelolaan sampah. Namun ketika semakin banyak institusi mulai menerapkan pemilahan sampah dari sumber, kualitas fasilitas pendukung juga menjadi faktor yang menentukan keberhasilan implementasinya,” ujar Christabelle.
Menurut dia, kebutuhan fasilitas pemilahan kini semakin luas, tidak hanya di instansi pemerintah, tetapi juga perusahaan, kawasan industri, perkantoran, pusat perbelanjaan, rumah sakit, institusi pendidikan, hingga penyelenggara kegiatan besar.
Untuk mendukung kebutuhan tersebut, ALVAboard mengembangkan Eco Bin berbahan Polypropylene (PP) Corrugated Sheet/Board. Material ini memiliki karakteristik ringan, tahan air dan kelembapan, serta dapat digunakan kembali (reusable) dan didaur ulang (recyclable).
Baca Juga: SAIH Nilai Fasilitas TPS3R di Tangsel Tak Siap Kelola Sampah
Eco Bin menggunakan sistem knockdown atau flat-pack sehingga lebih ringkas dalam penyimpanan, distribusi, dan mobilisasi. Wadah ini tersedia dalam pilihan warna sesuai kategori pemilahan dan dapat disesuaikan dengan identitas visual pengguna.
ALVAboard juga menilai pemilihan fasilitas perlu mempertimbangkan efisiensi jangka panjang, termasuk daya tahan, frekuensi penggantian, perawatan, dan biaya selama masa penggunaan atau total cost of ownership.
Bagi perusahaan yang menerapkan prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG), fasilitas pemilahan dapat menjadi bagian dari infrastruktur pendukung kebijakan lingkungan.
“Ketika pemilahan sampah mulai menjadi bagian dari budaya organisasi, maka fasilitas yang digunakan juga perlu dirancang agar mampu mengikuti kebutuhan operasional tersebut,” kata Christabelle.
ALVAboard merupakan unit bisnis ALVA Group yang berbasis di Tangerang dan bergerak di bidang manufaktur solusi kemasan berbahan corrugated plastic atau PP Corrugated Board. Produk yang dikembangkan antara lain layer pad, bin box, kemasan makanan , kemasan distribusi, serta Eco Bin. (made)

















