SATELITNEWS.ID, CIBADAK—Naiknya harga kacang kedelai membuat usaha tempe dan tahu di Lebak ikut ‘terguncang’. Seperti yang dirasakan pelaku usaha tersebut di Kampung Ranca Caruluk, Desa Bojong Leles, Kecamatan Cibadak.
Mereka harus mengalami penurunan omzet lantaran harga bahan bakunya yang naik. Seorang pembuat tempe dan tahu di Kampung Ranca Caruluk, Desa Bojong Leles, Ahmad mengatakan, sejak naiknya harga bahan baku, ia harus memutar otak agar usahanya tetap berjalan. Sebab, dengan tingginya harga kacang kedelai membuat dirinya harus mengurangi pembelian bahan serta mengurangi ukuran kemasan tempe itu sendiri.
“Agar usaha saya tetap berjalan, maka saya kurangi ukuran kemasan tempenya. Karena, kacang kedelainya mahal,” ujar Ahmad, kemarin. Ahmad mengaku, sebelumnya, harga kacang kedelai di bulan Oktober 2020 Rp 7.500 namun perlahan terus mengalami kenaikan hingga saat ini mencapai Rp 9.500/Kilogramnya.
“Tidak hanya saya, melainkan 29 pembuat tempe dan tahu di Kampung Ranca Caruluk juga mengeluhkan kondisi ini. Saya berharap pemerintah harus bisa intervensi agar kacang kedelai kembali normal sediakala,” tandasnya.
Seorang suplier warga Kecamatan Cibadak, Lutfi mengatakan, ia harus mencari cara agar kacang kedelainya bisa laku terjual. Sebab, harganya yang nyaris diangka Rp10 ribu membuat sejumlah pengrajin mengurangi pembeliannya. “Kini harganya (kacang kedelai) mencapai Rp 9.500/Kilogramnya,” kata Lutfi, kemarin.
Selama ini, sebelum terjadinya kenaikan, ia tidak pernah mendapat komplain dari 30 orang pembuat tempe dan tahu di Kampung Ranca Caruluk, Desa Bojongleles, Kecamatan Cibadak. Namun, sejak naiknya harga bahan baku tempe ini membuat dirinya geleng kepala. “Di Kampung Ranca Caruluk, saya suplai kepada 30 pengrajin tempe dan tahu. Mereka saat ini mengurangi pembeliannya. Mungkin untuk menghindari kerugian,”tandasnya.(mulyana/made)