SATELITNEWS.ID, RANGKASBITUNG—Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Kabupaten Lebak belum bisa berbuat banyak menyikapi kenaikan harga kacang kedelai. Satu-satunya yang dilakukan saat ini adalah berkoordinasi dengan Pemerintah Provinsi Banten.
Kepala Bidang Perdagangan Disperindag Lebak, Agus Reza mengatakan, kenaikan terhadap bahan baku pembuatan tempe dan tahu terjadi secara global. Karenanya, ia belum bisa berkormentar lebih banyak terkait kondisi ini.
“Kelangkaan yang berimbas terhadap naiknya kacang kedelai ini tidak hanya di Banten tetapi secara global. Jadi kita belum bisa berbuat apa-apa selain dari koordinasi dengan Pemprov Banten,” ujar Agus saat ditemui Satelit News di ruang kerjanya, kemarin.
Menurut Agus, tingginya harga kacang kedelai imbas dari kebutuhan meningkat masyarakat. Terlebih, kedelai yang masuk ke Lebak merupakan impor dari Tiongkok.
“Dari informasinya yang kita terima, saat ini permintaan cukup tinggi dari Negara Tiongkok. Ini mungkin yang menjadi penyebab terjadinya kelangkaan. Sebab, kacang kedelai yang masuk ke Lebak itu impor dari Tiongkok,” kata Agus.
Tidak hanya dari Tiongkok, kedelai yang masuk ke Indonesia ini juga dari Thailand. Katanya, tahun 2008 pernah terjadi kelangkaan seperti ini. Dan saat itu juga ada intervensi dari pemerintah berupa subsidi.
Baca Juga: Pemkot Tangsel Mulai Intervensi Balita Bermasalah Gizi di Serpong
“Tapi, untuk tahun ini kita belum tahu, masih menunggu kebijakan kondisi ini (kacang kedelai),” katanya. “Kita juga terus berkoordinasi dengan pihak Pemprov Banten apakah ada kebijakan OP (operasi pasar) atau bagaiamana, kita masih menunggu informasi lanjutnya,” tambahnya.
Tidak hanya kacang kedelai, saat inu harga cabai juga mengalami kenaikan. Namun. Dalam hal ini Indag belum bisa menyimpulkan penyebabnya. “Kita masih mencari tahu apa yang menjadi penyebab terjadinya kenaikan harga cabai. Apalagi, cabai yang masuk ke Lebak ini juga dari luar Banten yakni Lampung dan Jawa,” ujarnya.
Diberitakan sebelumnya, naiknya harga kedelai membuat pelaku usaha tempe dan tahu, di Kampung Ranca Caruluk, Desa Bojong Leles, Kecamatan Cibadak mengeluh. Harganya bahan bakunya yang nyaris Rp10 ribu per Kilogram membuat omzet produsen tahu dan tempe merosot.
“Agar usaha saya tetap berjalan, maka saya kurangi ukuran kemasan tempenya. Karena, kacang kedelainya mahal,” ujarnya pembuat usaha tempe dan tahu di Kampung Ranca Caruluk, Desa Bojong Leles, Ahmad. (mulyana/made)
























