SATELITNEWS.ID, PANDEGLANG—Budidaya maggot atau larva mulai dilakukan warga Desa Kaduronyok, Kecamatan Cisata. Budidaya ini dinilai jarang dilakukan oleh masyarakat maupun kelompok tertentu di Kabupaten Pandeglang.
Pelaku budidaya, Muhamad Suherman mengatakan, maggot merupakan binatang sejenis larva yang dihasilkan dari fermentasi beberapa bahan limbah padi atau sekam, yang dicampur dengan bahan lainnya, seperti minuman yakul, roiko (bumbu masak) dan bahan lainnya.
Suherman menjelaskan, maggot atau larva itu diperuntukan bagi pakan hewan ternak dan budidaya ikan air tawar. Bahkan katanya, maggot itu bisa mendorong percepatan pertumbuhan ikan dan hewan ternak seperti ayam.
“Untuk menghasilkan maggot dari bahan baku yang diolah, pengelola hanya membutuhkan waktu selama tiga pekan, mulai dari fermentasi hingga panen. Dari satu kilo bahan baku yang diolah, itu bisa menghasilkan satu kilo gram maggot,” kata Suherman, Kamis (7/1).
Suherman mengungkapkan, harga maggot basah mencapai Rp8 ribu/ Kg dan maggot yang sudah dikeringkan bisa mencapai Rp80 ribu sampai Rp100 ribu/Kg.
Mulanya, dia hanya coba-coba dan iseng melakukan fermentasi berbagai bahan baku untuk menghasilkan maggot. Bahkan uji coba yang dilakukannya itu hanya menyediakan sebanyak 20 Kg sekam yang dicampur dengan dua botol minuman yakul, dua sachset bumbu masak, 1/4 gula pasir dan satu liter air hangat.
“Setelah itu difermentasi selama tiga hari, kemudian setelah dapat tiga hari ditabur ke dalam bak atau tempat yang lebih besar. Setelah dapat beberapa hari keluarlah maggot,” jelasnya.
Namun lanjut dia, dari bahan baku yang sudah diolah untuk menghasilkan maggot, harus dibuahi oleh BSF (black soldier fly) binatang sejenis lalat. Karena jika tidak dibuahi oleh BSF itu tidak bakal jadi maggot.
Setelah timbul maggot lanjutnya, bahan yang sudah diolah itu juga dicapur lagi dengan limbah sayuran, supaya pertumbuhan maggotnya lebih bagus lagi.
“Mulanya kami coba-coba, ternyata memang menghasilkan. Makanya sekarang bikin tempat yang agak besar, supaya bisa mengolah bahan yang lebih banyak lagi,” tambahnya.
Saat ditanya apakah dalam budidaya maggot itu terdapat kendala. Ia mengaku, kendalanya hanya musim penghujan dan semut. Namun kalau kendala semut bisa diantisipasi dengan kapur ajaib.
Suherman juga mengaku, untuk kelancaran produksi dalam budidaya maggot tersebut, pihaknya masih mengalami keterbatasan, seperti belum adanya alat pengering dan tempat yang memadai.
“Alat pengering memang sangat kami butuhkan. Selain itu juga tempat pengolahan masih ala kadarnya,” pungkasnya.
Saat meninjau lokasi budidaya maggot, Kepala Dinas Perikanan (Diskan) Pandeglang, Suaedi Kurdiatna mengaku, sangat mengapresiasi dan mendukung kegiatan budidaya maggot yang dilakukan oleh warga tersebut. Bahkan kata dia, sesuai yang diketahuinya selama ini, pembudidaya maggot itu baru ada dua di Pandeglang, yakni di Cisata dan Cimanuk.
“Stelah mendapatkan informasi bahwa di Kadiluronyok ini ada budidaya maggot, terketuk hati saya untuk melihat langsung kegiatan itu. Ternyata ini sangat bagus, karena maggot itu untuk dijadikan bahan makanan ikan dan hewan ternak,” katanya.
Pihaknya juga menyarankan kepada pengelola agar dibuat kelompok budidayanya, karena dia akan coba mendorong untuk bisa mendapatkan bantuan yang menjadi kebutuhan pengelola dan juga akan dibantu pemasarannya.
“Kegiatan ini (budidaya maggot) memang tidak membutuhkan biaya mahal, tapi penghasilannya cukup menjanjikan. Makanya saya sangat mendukung ada warga yang memiliki kreativitas budidaya maggot ini,” tandasnya. (nipal/aditya)