SATELITNEWS.ID, SERANG–Sebanyak 31 persen warga Banten menolak untuk mengikuti vaksinasi Covid-19. 42 persen warga bersedia divaksin sedangkan 25 persen lainnya masih pikir-pikir. Fakta itu terungkap dalam rilis hasil survei nasional Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), Selasa (23/3).
Warga Banten masuk dalam tiga besar yang menolak vaksinasi di pulau Jawa. Urutan pertama adalah DKI Jakarta yang kemudian diikuti Jawa Timur di urutan kedua. Hasil survei SMRC menyebutkan, persentase warga DKI Jakarta yang menolak untuk divaksin Covid-19 sebanyak 33 persen sedangkan Jawa Timur 32 persen. Sementara persentase terendah penolakan untuk divaksin ditemukan di Jawa Tengah (20%).
“Ini temuan yang mengkhawatirkan, mengingat DKI adalah daerah yang yang memiliki tingkat penyebaran Covid-19 tertinggi di Indonesia,” kata Direktur Riset SMRC Deni Irvani dalam rilis survei nasional SMRC “Satu Tahun Covid-19: Sikap dan Perilaku Warga terhadap Vaksin” yang dilakukan secara daring, Selasa (23/3).
Survei yang mencakup semua provinsi di Indonesia itu dilakukan pada 28 Februari 2021 sampai 8 Maret 2021 dengan metode wawancara tatap muka. Survei melibatkan 1.220 responden yang dipilih secara acak, dengan margin of error 3,07 persen.
Menurut Deni, tingginya tingkat penolakan terhadap vaksin Covid-19 tampak sejalan dengan persepsi tentang keamanan vaksin. Di DKI Jakarta, sebagaimana juga di Sumatera, persentase warga yang tidak percaya bahwa vaksin dari pemerintah aman mencapai 31 persen. Di sisi lain, hanya 19 persen warga Jawa Tengah yang tidak percaya vaksin dari pemerintah aman.
Secara nasional, persentase warga warga laki-laki yang menyatakan tidak bersedia divaksinasi ada sebanyak 33 persen. Angka tersebut lebih tinggi dari perempuan, yakni sebanyak 26 persen.
Baca Juga: Kepuasan Terhadap Pemerintahan Prabowo Tinggi, Ekonomi Masih PR
Persentase warga berusia di bawah 25 tahun yang menyatakan tidak bersedia divaksin (37%), lebih tinggi dari kelompok usia 26-40 tahun (28%), 41-55 tahun (23%), dan lebih dari 55 tahun (33%).
Persentase warga yang berpendidikan maksimal SD yang menyatakan tidak bersedia divaksinasi (34%), lebih tinggi dibandingkan kelompok berpendidikan tertinggi SMP (26%), SMA (29%), dan lebih dari SMA (26%).
Bila dilihat etnisitas, persentase terbesar etnik warga yang tidak mau divaksin adalah Madura (58%) dan Minang (43%). Sedangkan yang paling tinggi persentase bersedia divaksin adalah Batak (57%) dan Jawa (56%). Kemudian jika dilihat dari sisi agama, persentase warga muslim yang tidak bersedia divaksin (31%), lebih tinggi dari non-muslim (19%).
Hasil survei nasional tersebut menunjukkan hanya 46 persen warga yang secara tegas menyatakan bersedia melakukan vaksinasi Covid-19. Sementara itu sekitar 28 persen menyatakan tidak mau divaksin dan ada 23 persen yang menyatakan masih ragu.
“Hanya ada sebanyak 46 persen warga yang secara tegas menyatakan bersedia melakukan vaksinasi Covid-19. Ini temuan yang perlu mendapat perhatian serius,” kata Deni Irvani.
Menurutnya, bila pencegahan penyebaran Covid-19 hendak dicapai secara efektif, maka sedikitnya diperlukan minimal 70 persen warga yang memiliki kekebalan tubuh terhadap virus Corona. Artinya, hanya bila angka 70 persen tercapai maka Indonesia akan memiliki herd immunity yang diperlukan untuk menghentikan pandemi Covid-19.
Baca Juga: KPK: SPI 2025 Naik, Tapi Masih Rentan
Dikatakan Deni, terdapat sejumlah faktor yang mungkin mempengaruhi kesediaan seseorang untuk divaksin. Pertama, soal keyakinan bahwa vaksin aman.
Survei menunjukkan ada sebanyak 64 persen warga yang percaya bahwa vaksin aman bersedia untuk divaksin. Sementara hanya ada 16 persen warga yang percaya vaksin aman bersedia untuk divaksin.
Kedua, pengaruh dari adanya kampanye menolak vaksin. Sekitar 35 persen warga yang pernah mendapat ajakan untuk menolak vaksin menyatakan bersedia divaksin, sementara 47 persen warga yang tidak pernah mendapat ajakan menolak vaksin bersedia divaksin.
Ketiga, rasa kekhawatiran atau ketakutan akan penularan Covid-19. Survei menemukan bahwa 59 persen warga yang menyatakan sangat takut tertular vaksin menyatakan bersedia divaksin, sementara hanya 38 persen warga yang menyatakan tidak takut tertular Corona menyatakan bersedia divaksin.
Keempat, persepsi tentang masih terus bertambahnya kasus penularan Covid-19. Survei menemukan bahwa 52 persen warga yang percaya jumlah terinfeksi Covid-19 semakin banyak menyatakan bersedia divaksin, sementara hanya 39 persen warga yang tidak percaya jumlah terinfeksi Covid-19 semakin banyak menyatakan bersedia divaksin.
“Agar kebijakan vaksinasi ini berjalan efektif, pemerintah perlu melaksanakan serangkaian langkah. Pemerintah perlu melawan kampanye anti vaksin, meyakinkan rakyat bahwa vaksin aman, meyakinkan publik bahwa bahwa pandemi belum berakhir,” ucapnya.
Terkait vaksin, Menteri Kesehatan RI Budi Sadikin Gunadi menyatakan Indonesia sudah mendapatkan 360 juta lebih dosis vaksinasi sebagai upaya mencegah penularan Covid-19 di Tanah Air.
’’Alhamdulillah kita bisa dapat dosis vaksinasi untuk 181,5 juta rakyat Indonesia. Karena satu orang dua dosis maka 360 juta lebih dosis sudah didapat,” ujarnya di sela memantau pelaksanaan vaksinasi Covid-19 untuk ratusan kiai di Kantor Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur di Surabaya, Selasa (23/3).
Budi menjelaskan vaksinasi di dunia diharapkan dapat mencapai 70 persen kekebalan komunal dari jumlah 7,8 miliar manusia, atau artinya ada 5,5 miliar dosis atau sekitar 11 miliar dosis yang sangat dibutuhkan dengan cepat.
Terdapat empat jenis vaksin yang diperoleh Indonesia, yaitu Sinovac, AstraZeneca, Novavac, dan Pfizer dan diharapkan tuntas pelaksanaan vaksinasinya dalam kurun waktu 12 bulan. ’’Kapasitas produksi vaksin di dunia sekitar 3-4 miliar. Jadi, ketika dapat maka tidak bisa memilih, sebab istilahnya kita rebutan seluruh dunia,’’ ucapnya. (jpg/gatot)
























