SATELITNEWS.ID, SERANG–Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Kabupaten Serang menyebut, produksi garam di Kabupaten Serang hingga kini belum mampu masuk ke industri. Karena, kadar NaCLnya baru mencapai 93 persen. Sementara untuk bisa masuk ke industri, kadarnya harus 99 persen.
Kepala DKPP Kabupaten Serang, Suhardjo mengatakan, potensi garam di Kabupaten Serang saat ini kurang lebih ada 400 hektar. Jika dirata-rata produksi, per hektar mencapai 100 ton per tahun. Maka, ada 400.000 ton garam yang bisa diproduksi. Namun demikian, saat ini yang baru jalan baru 60 hektar.
“Tahun 2015 lalu, kita bisa produksi sampai 3000 ton. Tapi tahun 2020, turun. Karena cuaca tidak mendukung, kita hanya memproduksi 600 ton,” kata Suhardjo, Rabu (24/3).
Ia menuturkan, di tahun 2021 ini pihaknya juga ada pengembangan 15 hektar di Desa Lontar dan Tirtayasa. Setiap tahun produksi garam ini ditarget 100 ton per hektar. “Optimis tercapai, tergantung cuaca,” ujarnya.
Terkait pemasaran tambahnya, saat ini garam produksi lokal masih sulit untuk diterima di industri. Karena kadar NaCLnya baru mencapai 93 persen, sementara untuk bisa masuk ke industri kadarnya harus 99 persen.
“Industri belum mau nerima garam kita, kita ada Sulfindo, ada Asahimas. Itu salah satu konsumen garam terbesar di Indonesia. Asahimas kurang lebih 1,3 juta ton per tahun, dan Sulfindo 800.000 ton per tahun. Jadi kalau menyerap garam, kita katakan 4000 ton sangat kecil itu,” tuturnya.
Baca Juga: DKPP Kabupaten Serang Targetkan Tanam Jagung Seluas 1.400 Hektar
Ia mengungkapkan, sementara ini pemasaran garam produksi di wilayahnya masih mencakup lokal dan non industri. Seperti untuk penggaraman ikan dan minuman. “Sekarang harga garam Rp 1000 per kilogram,” imbuhnya. (sidik/mardiana)
























