SATELITNEWS.ID, BENDA—Beban berat dirasakan Kiki dan Aas Sudarmika, dua guru yang tinggal di Kampung Baru Kelurahan Jurumudi, Kecamatan Benda, Kota Tangerang. Kiki dan Aas harus “bergelut” dengan permasalahan sengketa lahan tol Kunciran-Bandara yang membuat mereka kehilangan tempat tinggal tanpa ganti rugi layak. Mereka juga tetap melaksanakan kewajiban mengajar secara daring akibat pandemi Covid-19.
Aas Sudarmika adalah guru pengajar di Madrasah Ibtidaiyah Negeri 1 Jakarta Barat. Aas menyatakan, dalam kondisi sesulit apapun, ia tidak akan meninggalkan tugasnya dan tetap memantau kegiatan sekolah secara daring.
“Alhamdulillah fokus karena kebetulan online, masih memantau anak lewat handphone atau laptop” ujarnya.
Di dalam kontrakan sempit, ia mengajar anak-anak. Meski sudah menjadi guru SD sejak tahun 1998, namun kesulitan selama mengajar baru ia rasakan sekarang.
“Karena sekarang kondisi Covid-19, pasti pembelajaran menjadi kacau” ujar Asa kepada Satelit News beberapa waktu lalu.
Selama sengketa pembebasan lahan berlangsung, Aas mengaku kesulitan mengajar. Sebab, keterbatasan keadaan membuat pikirannya tidak fokus. Emosinya pun sesekali tak stabil. Namun, Aas mengaku dukungan para siswa membuatnya bertahan.
“’Ibu semangat. Kami akan selalu mendoakan untuk ibu kami berharap yang terbaik’,” ujar anak muridnya seperti yang diceritakan Aas.
Yang ia harapkan saat ini hanyalah keadilan untuk warga yang terkena gusuran. Dia meminta pemerintah berlaku adil.
Permasalahan serupa dirasakan Kiki. Guru bimbingan konseling di SMAN 2 Kota Tangerang itu mengaku harus berjibaku dengan persoalan sengketa lahan yang membelitnya serta tetap beraktivitas di sekolah.
“Kegiatan sekolah datang, walaupun lagi berjuang,”ungkap Kiki.
Tugasnya sebagai guru BK adalah melayani keluh kesah siswa. Kiki dekat dengan semua muridnya. Dia bahkan melayani konseling via whatsapp atau zoom hingga malam hari.
“Terkadang kejadian bentrok malam muncul, saya alihkan konseling ke hari esok,” ujarnya.
Setiap malam konsultasi guru BK masih dijalaninya melalui google meet atau via whatsapp bersama beberapa muridnya. Ia harus mengurus beberapa permasalahan siswa yang sedang mengalami konflik pribadi maupun melanjutkan ke perguruan tinggi.
Di tengah pandemi dirinya juga harus mengunjungi rumah murid. Permasalahan itu ia hadapi dan selesaikan sesegera mungkin agar kondisi belajar mengajar tetap aktif.
“Kelas 10-11 saya home visit ke rumahnya”ujarnya.
Menurut Kiki, guru BK harus memantau perkembangan siswa karena sistem daring memunculkan banyak permasalahan. Sebagian siswa, kata Kiki, mematikan kamera saat pertemuan online. Ada juga yang tidak hadir dalam kelas.
“Meskipun kondisi seperti ini kita tetap bertanggung jawab” ujar. (farida/gatot)