Perkembangan budi daya maggot di Kabupaten Tangerang menunjukkan peningkatan. Para pegiatnya sudah mampu menemukan celah bisnis dari usaha budi daya belatung pemakan sampah organik tersebut. Mereka bahkan kewalahan memenuhi kebutuhan pasar. Bagaimana kisahnya?
ALFIAN, Tigaraksa
Belasan orang menghadiri pertemuan yang diinisiasi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Tangerang di gedung Bappeda, Rabu (1/9/2021). Sekretaris Daerah Kabupaten Tangerang Moch. Maesal Rasyid tampak hadir. Sebagian peserta lainnya berasal dari komunitas maggot serta perwakilan Dinas Perikanan, Dinas Pertanian, Dinas Koperasi, Bappeda, Dinas Perindustrian dan Kelompok Pengusaha Muda Kabupaten Tangerang.
Pertemuan diawali dengan pidato SekdaMoch. Maesal Rasyid. Dia menyatakan Pemkab Tangerang tertarik melakukan pengembangan budi daya maggot. Untuk itulah, pemkab memfasilitasi pertemuan antar OPD dan pengusaha muda Kabupaten Tangerang dalam pembahasan budi daya maggot.
“Budidaya maggot ini merupakan salah satu upaya Pemerintah Kabupaten Tangerang dalam meningkatkan ekonomi di masa pandemi sekaligus upaya mengurangi sampah yang sering kali menjadi permasalahan,”ungkap Maesal Rasyid.
Sekda mengklaim, budidaya maggot ini akan direalisasikan di seluruh kecamatan yang ada di Kabupaten Tangerang. Namun untuk percontohan akan dibuat di satu lokasi terlebih dahulu yakni di wilayah Kecamatan Jambe.
Baca Juga: Jalan Pisangan Pakuhaji Dibongkar Lagi, Tak Sesuai Spesifikasi
“Nanti akan direalisasikan di seluruh kecamatan tahun 2022. Namun untuk yang pertama kita buat di Jambe. Untuk anggaran masih dalam pembahasan,”ungkap Sekda.
Keputusan Pemkab Tangerang dapat menjadi terobosan apabila benar-benar terealisasikan. Ketua Komunitas Maggot Kabupaten Tangerang Akbar menyatakan budidaya maggot memiliki banyak manfaat. Yang paling utama adalah maggot mengurangi sampah.
“Maggot mudah dibudidayakan. Pakan si belatung itu sendiri hanyalah sisa-sisa makanan atau sampah organik sehingga gampang dicari. Dengan demikian secara otomatis mengurangi sampah,”ungkap Akbar.
Selain itu, kotoran maggot juga bisa dimanfaatkan sebagai pupuk. Selain itu, budidaya maggot juga dapat meningkatkan ekonomi masyarakat. Menurut Akbar, maggot memiliki daya jual yang tinggi.
Akbar menjelaskan, satu kilo maggot apabila dijual secara ecer dihargai Rp10 ribu. Namun apabila dijual secara borongan, harganya turun menjadi Rp 6 ribu per kilonya. Sementara pupuk yang dihasilkan dari kotoran maggot bisa dijual seharga Rp6 ribu per 5 kilonya.
“Untuk eceran dihargai Rp 10 ribu, kalau beli borongan, di atas 100 kg dihargai Rp6 ribu per kilonya. Kotorannya juga berguna dan sangat bagus untuk pupuk. Selain itu kita juga bisa membuka lapangan pekerjaan, ” katanya.
Baca Juga: Tiga Tahun Tak Periksa Kesehatan, Fajar Manfaatkan CKG Pemprov Banten di Kecamatan Curug
Akbar mendukung rencana Pemkab Tangerang membangun budi daya maggot dalam skala besar di wilayah Kecamatan Jambe. Diharapkan, budi daya di kawasan tersebut dapat mengurangi 40 ton sampah setiap harinya. Sampah organik untuk pakan maggot akan diambil dari pasar-pasar tradisional dan pabrik-pabrik yang mengolah makanan.
“Ini sangat efektif dalam mengurangi sampah. Sehari kita targetkan untuk pakan maggot sebanyak 40 ton sampah organik. Kita akan ambil sampah itu dari pasar dan pabrik yang mengolah makanan, ” ujarnya.
Akbar menjelaskan, saat inipun dia sudah menjalankan budidaya maggot secara mandiri bersama kelompok komunitasnya, yang berlokasi di Desa Jeungjing, Kecamatan Cisoka.
Menurut Akbar, budidaya maggot miliknya ini dalam waktu sehari bisa menghabiskan 10 ton sampah organik. Dia juga mengatakan, dalam waktu 45 hari maggot bisa dipanen sebanyak 500 kg dan siap dijual ke para pengepul maggot.
Menurut Akbar, maggot pasarnya sangat bagus dan diminati. Bahkan dia sampai kekurangan maggot maka dari itu pihaknya mengajak kerja sama Pemerintah Kabupaten Tangerang.
“Pasarnya bagus. Saya saja ini sampai kekurangan maggot karena terlalu banyak permintaan pasar,”ujarnya.
Dalam waktu satu periode, atau satu kali panen, Akbar mengaku mendapatkan omzet sebesar Rp 150 juta. Walaupun itu harus dikurangi biaya operasional berupa gaji para pegawai dan sewa lapak.
“Ini sangat efektif untuk mengurangi sampah dan meningkatkan ekonomi,”pungkasnya. (gatot)
























