SATELITNEWS.ID, PANDEGLANG – Ditengah situasi ekonomi yang serba sulit, memaksa 10 Kepala Keluarga (KK) di Kabupaten Pandeglang meninggalkan kampung halamannya, dan lebih memilih menjadi transmigran ke Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
Hal itu terpaksa mereka lakukan, karena ingin mendapatkan hidup layak atau sejahtera. Sebab ke 10 KK itu, termasuk dalam keluarga tidak mampu.
Kepala Bidang (Kabid) Penempatan Tenaga Kerja pada Dinas Ketenagakerjaan dan Transmigasi (Disnakertrans) Kabupaten Pandeglang, Parti mengungkapkan, 10 KK yang memilih menjadi transmigran berasal dari Kecamatan Sobang dan Panimbang.
“Mereka memilih menjadi transmigran, karena ingin lebih sejahtera. Intinya, merubah nasib anak dan keluarganya,” kata Parti, Selasa (13/9/2022).
10 orang KK ingin merubah nasibnya melalui transmigran jelasnya, karena menjadi transmigran memiliki hak tanah seluas 2 hektar.
Belum lagi difasilitasi rumah, serta dikasih jaminan makan dalam satu tahun oleh Pemerintah.
Baca Juga: 388 Jemaah Haji Reguler Kloter 13 Asal Pandeglang Diberangkatkan Bupati Dewi Setiani
“Jadi, semua fasilitas hingga kebutuhan makan setahun akan dipenuhi, karena memang ini program transmigrasi dari Pemerintah Pusat,” tambahnya.
Program transmigrasi itu, telah diminati oleh 10 KK asal Sobang dan Panimbang katanya lagi, karena secara ekonomi mereka dalam kondisi memprihatinkan. Bahkan ungkapnya, jangankan rumah, lahan punya pribadi juga tak dimiliki oleh 10 KK tersebut.
“Jadi mereka ini tinggal menumpang sama orangtua. Jadi hidup bersama orang tua yang rumahnya juga menumpang di tanah orang lain atau tanah milik orang kaya Jakarta,” jelasnya.
Ditambahkannya, sebagian besar warganya memang kebanyakan membangun rumah menumpang di tanah orang lain. Jadi orangtuanya mereka ini, tidak memiliki lahan satu meter pun.
“Jangankan satu meter, satu jengkal tanah pun mereka tidak punya. Menjadi transmigran ini, disambut antusias karena memang secara ekonomi dibantu oleh Pemerintah,” pungkasnya.
Mereka semua diboyong ke Kabupaten Luwu Timur, untuk menempati rumah baru serta lahan garapan. Jadi telah disiapkan rumah, beserta lahan garapan sebagai bekalnya.
Baca Juga: Eks Napiter Ikuti Pelatihan Teknisi AC di Pandeglang
“Di sana mereka tinggal bersama dengan sesama warga transmigran. Ada juga sudah berhasil tanam lada,” ujarnya lagi.
Ketika awal menetap dijelaskan kembali, selama setahun dikasih jaminan makan. Sedangkan untuk penghasilan sehari-hari bisa menjadi buruh tani.
“Jadi di sana itu kalau metik lada dapat empat karung maka kita sekarung. Jadi memang kalau untuk penghasilan ruang pekerjaannya ada, jadi bisa menggarap lahan sendiri dan menjadi buruh tani,” pungkasnya.
Dia menilai, perjuangan transmigran dalam upaya mendapatkan hidup layak sangat luar biasa hingga mereka meninggalkan kampung halaman bersama keluarga kecilnya.
“Jauh dari orang tua dan sanak saudaranya. Tapi memang program transmigran ini sangat diminati, di kita yang daftar sebanyak 20 KK, namun kuota dari pusat hanya sebanyak 10 KK,” imbuhnya. (nipal)
