SATELITNEWS.COM, SERANG – Kepala Unit Pengelola bendungan Sindangheula Vita R Fitriana mengatakan pihaknya saat ini tengah mengkondisikan elevasi atau ketinggian waduk penampung bendungan SIndangheula di ketinggian 50 persen.
Hal itu dilakukan untuk mengantisipasi jika terjadi limpasan aliran air dari hilir akibat cuaca ekstrim berupa hujan deras yang menerus, waduk di Bendungan Sindangheula masih dapat menampungnya.
“Kita jaga di 50 persen elevasinya, yaitu di angka 98,8 meter. Itu dengan cara melakukan bukaan kran di angka tertentu sehingga elevasinya terjaga segitu,” kata Vita Ariesta kepada wartawan, Rabu (28/12/2022).
Dengan demikian, kata Vita, saat ini kondisi kapasitas waduk Bendungan Sindangheula masih tersisa 50 persen atau lebih.
Diungkapkannya, dari kapasitas 9,9 juta meter kubik air yang dimiliki waduk Sindangheula, saat ini hanya terdapat 3,3 juta meter kubik saja.
“Artinya kita masih mampu menampung 6,6 juta meter kubik lagi sampai full,” paparnya.
Baca Juga: Program Magang ke Jepang Minim Peminat, Di Banten Baru 73 Pendaftar
Berikutnya, kata dia, pihaknya juga saat ini sudah mulai mengaktifkan system piket banjir dengan menempatkan petugas untuk mengawasi elevasi air waduk secra berkala dan terjadwal secara bergantian.
“Jadi kalau nanti elevasi mendekati normal di angka 102 meter saja misalnya ya kita akan keluarkan peringatan,” imbuhnya.
Meski begitu, Vita optimistis elevasi mendekati normal tersebut tidak akan terjadi karena aliran air dari hilir yaitu dari Bendung Sungai Cibanten juga dalam koordinasi dengan pihaknya.
Koordinasi dimaksud adalah berupa akan dialirkannya air dari Bendungan Sindangheula secara terukur yaitu berbasis informasi aliran air dari hilir yang didapat informasinya dari Bendung Sungain Cibanten.
“Artinya semuanya di bawah kontrol dan kordinasi kita,” ujarnya.
Dengan demikian, kata Vita, pihaknya meminta masyarakat utamanya di Kota Serang yang pernah mengalami bencana banjir akibat meluapnya Bendungan Sindangheula pada tahun awal 2022 lalu untuk tidak terlalu khawatir secara berlebihan.
Baca Juga: Kekeringan Meluas, Ratusan Hektare Sawah di Banten Gagal Panen
“Tapi kalau waspada tentu saja harus. Insya Allah kita akan lakukan yang terbaik dalam menjaga kondisi air di Bendungan Sindangheula ini,” katanya.
Untuk diketahui, banjir yang merendam Kota Serang, pada awal tahun 2022 lalu dipastikan disebabkan luapan air Bendungan Sindangheula. Hal ini dibenarkan oleh Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Cidanau, Ciujung, Cidurian (BBWSC3), I Ketut Jayada saat itu.
Dia menerangkan, ada sekitar 2 juta kubik air yang luber dari waduk ke permukiman warga.
“Daya tampung bendungan kami itu hanya 9 juta. Dari hasil perhitungan kami, debit yang diterima (bendungan) sekitar 11 juta, ada kelebihan yang memang harus mengalir ke laut secara alamiah, bukan kami sengaja, memang bisanya dia mengalir ke sungai,” kata Jayada saat meninjau Bendungan Sindangheula bersama Wali Kota Serang Syafrudin dan Wagub Banten Andika Hazrumy beberapa waktu usai banjir terjadi.
Mereka melihat kondisi air dan memastikan penyebab banjir terbesar yang pernah dialami di Kota Serang.
Jayada mengatakan curah hujan tinggi menyebabkan debit air di Bendungan Sindangheula tidak lagi tertampung, kemudian membanjiri Ibu Kota Banten. Sejak 28 Februari hingga 1 Maret, curah hujan yang turun mencapai 243 milimeter.
“Pengamatan kami ada curah hujan yang cukup tinggi dengan durasinya panjang 243 milimeter. Banjir kala ulang, curah hujan ini kalau ulang 200 tahun ya ini terjadi sekarang, sementara (bendungan) ini di desain 1.000 tahun. Ini mungkin pengaruh perubahan cuaca global warming, cuaca ekstrem,” terangnya.
Banjir yang disebabkan luapan air dari Bendungan Sindangheula yang diresmikan Presiden Jokowi pada 4 Maret 2021 juga merendam kawasan Masjid Agung Banten.
Hingga Rabu sore, air masih menggenangi kawasan makam Sultan Banten dan komplek Keraton Kesultanan Banten, di Kecamatan Kasemen, Kota Serang. (mg2)
























