SATELITNEWS.COM, RAJEG—Ribuan ekor kelelawar yang bersarang di gudang bekas konveksi Kampung Rajeg Pasar RT 01/RW 01, Desa Rajeg, Kecamatan Rajeg Kabupaten Tangerang mati secara serentak. DPKP dan Dinkes Kabupaten Tangerang membawa sampel bangkai ke BVet Subang Kementan dan Lab BRIN untuk mengetahui penyebab kematian ribuan hewan tersebut.
Kepala Bidang Kesehatan Hewan pada Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Tangerang, Joko Ismadi menjelaskan kematian ribuan kelelawar tersebut terjadi pada Jumat (25/8) lalu. Musababnya adalah masyarakat Kampung Rajeg Pasar mencium aroma bau bangkai yang berasal dari gudang bekas konveksi. Merasa risih dengan bau bangkai yang sangat menyengat, pada Selasa (29/8) lalu, masyarakat bersama pihak Puskesmas Rajeg, BPBD, Babinsa, dan Camat melakukan investigasi ke titik lokasi.
“Saat diperiksa, ternyata di dalam gudang terdapat ribuan bangkai kelelawar yang sudah mati itu, ” kata Joko Ismadi Rabu (30/8).
Pada hari yang sama, Selasa (29/8) ,pihak DPKP, Dinkes, BPBD, Kecamatan Rajeg dan warga setempat langsung mengumpulkan bangkai tersebut, untuk dilakukan penguburan.
“Saat dikumpulkan, bangkai kelelawar itu mencapai 15 karung. Dan setiap karung berisi kurang lebih 300 ekor bangkai kelelawar maka kalau dikumlahkan mencapai 4,500 ekor bangkai kelelawar, ” katanya.
Selain dilakukan penguburan bangkai kelelawar, kata Joko, warga setempat juga langsung diperiksa kesehatannya oleh Puskesmas Rajeg. Karena, dikhawatirkan kematian ribuan kelelawar akan berdampak terhadap kesehatan masyarakat sekitar.
Baca Juga: Ribuan Ikan Mati di Situ Cangkring Tangerang, DLH Turun Tangan dan Larang Warga Konsumsi
“Kita juga langsung melakukan cek kesehatan masyarakat dan penyemprotan desinfektan di gudang tersebut, ” ujarnya.
Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (DPKP) Kabupaten Tangerang, Asep Jatnika menambahkan, sebagian bangkai kelelawar itupun dibawa ke Lab BVet Subang Kementan dan Lab BRIN untuk diketahui penyebab kematian ribuan kelelawar tersebut.
Karena, dikhawatirkan mengandung racun dan infeksi yang berdampak kepada masyarakat sekitar. Kata Asep, selama 14 hari kedepan, kesehatan masyarakat sekitar juga akan terus dipantau oleh Puskesmas Rajeg.
“Selama 14 hari kedepan akan terus dilakukan pemantauan kesehatan warga oleh Dinkes dan Puskesmas. Khawatir ada yang terinfeksi virus, ” ucapnya. (alfian)
























