SATELITNEWS.COM, TANGSEL—Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) mencatat musim kemarau tahun 2023 terparah dalam beberapa tahun ke belakang. Hal tersebut berdampak kekeringan yang dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah. Untuk itu, titik wilayah krisis air bersih angkanya melonjak signifikan.
“Iya bang tahun ini yang terparah,” ujar Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Kota Tangsel, M Faridzal Gumay saat dikonfirmasi.
Dari data yang diterima, pada tahun 2018 lalu tercatat ada lima titik wilayah yang mengalami kasus kekeringan di Tangsel. Jumlah itu naik pesat pada tahun 2019, angka kekeringan menjadi 36 titik. Namun, pada tahun 2020 sampai 2021 tidak terdapat kasus kekeringan.
“Kasus kekeringan rawan terjadi di wilayah Kecamatan Setu. Dua tahun di atas ya di Setu,” ungkap Gumay.
Kata Gumay, puncak kekeringan terjadi pada tahun ini. Gumay menyebutkan, per 25 Oktober 2023 sebaran wilayah terdampak krisis air bersih mencapai 43 titik. Jumlah tersebut bahkan meluas hingga ke wilayah di empat kecamatan. Bahkan meski sejumlah wilayah telah diguyur hujan skala lokal.
Kurang lebih terdapat 3.227 KK yang tersebar di 11 Kelurahan kekurangan air bersih. Untuk titik terparah kata dia berada di Kelurahan Kranggan sebanyak 17 titik.
“Kelurahan Setu 4 titik, Kranggan 17 titik, Muncul 6 titik, Jurang Mangu Barat 1 titik, Buaran 2 titik, Ciater 2 titik, Babakan 2 titik, Kademangan 5 titik, Pakualam 1 titik, Pakulonan 1 titik, dan Bakti Jaya 2 titik,” urai Gumay.
Untuk itu, kata Gumay, pihaknya terus mendistribusikan air bersih ke wilayah-wilayah. Sampai saat ini, pihaknya sudah memberikan bantuan air sebanyak 174.500 liter lebih.
“Armada pendistribusian sewaktu waktu dapat berubah menyesuaikan keadaan wilayah dan kondisi medan jalan,” katanya.
Sebagai informasi, Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) melalui Dinas Cipta Karya dan Tata Ruang (DCKTR) tengah berupaya mengatasi krisis air bersih di wilayahnya. Salah satunya yakni dengan menyebar 10 toren berukuran besar ke setiap wilayah yang mengalami kekeringan.
Kepada Bidang Air Minum dan Air Limbah DCKTR mengatakan, 10 toren yang sudah disebar itu sebenarnya belum mencukupi. Untuk itu, pihaknya akan penganggaran APBD Perubahan untuk pengadaan 50 toren berkapasitas 2000 liter. (eko)