SATELITNEWS.COM, TANGSEL—Duka menghampiri dunia penerbangan. Satu unit pesawat tipe Tecnam P2006T jatuh di area Lapangan Sunburst BSD, Cilenggang, Kecamatan Serpong, Kota Tangerang Selatan ketika hujan lebat turun, pada Minggu (19/5) sekitar pukul 13.50 Wib. Pilot, kopilot dan teknisi yang berada di pesawat tewas di lokasi kejadian.
Ada tiga orang di dalam pesawat nahas tersebut. Mereka adalah Captain Pulu Darmawan, co-pilot Captain Suanda dan engineer Farid Ahmad. Ketiganya merupakan anggota perkumpulan penerbangan Indonesia
Saat pertama kali ditemukan, satu korban tergeletak di luar pesawat berwarna putih tersebut. Sedangkan dua orang lainnya masih berada di dalam pesawat.
Peristiwa itu ini menyedot animo ratusan warga sekitar dan pengendara yang terlihat memadati lokasi. Mereka mengaku sangat penasaran akan adanya kecelakaan tersebut.
Petugas Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), aparat kepolisian dan Basarnas kemudian melakukan evakuasi terhadap awak yang masih berada di dalam bangkai pesawat. Proses evakuasi korban, selesai sekitar pukul 17.40 WIB.
Pada malam harinya, tim gabungan memulai proses evakuasi bangkai pesawat. Evakuasi dimulai sekitar pukul 20.00 WIB atau enam jam setelah insiden pada pukul 14.30 WIB. Proses evakuasi melibatkan empat kendaraan berat crane dari Polda Metro Jaya. Proses evakuasi melibatkan tim gabungan mulai dari Polri, TNI, Basarnas, KNKT, hingga Damkar.
Baca Juga: Karyawan Pergoki Pemuda Curi Laptop dan iPhone di ITC BSD
Kapolres Tangsel AKBP Ibnu Bagus Santoso menyampaikan kronologi singkat jatuhnya pesawat. Kata dia, pesawat terbang milik Indonesia Flying Club itu lepas landas dari Bandara Pondok Cabe.
“Jadi kita ingin sampaikan kronologi singkat telah terjadi kecelakaan pesawat Indonesia flaying club yang dari Pondok Cabe mengalami kecelakaan di wilayah BSD serpong pukul 14.00 wib,” ujarnya di lokasi.
“Tujuan pertama dari Pondok Cabe ya nanti arahnya kita belum tau. Informasi terakhir dari Tanjung Lesung mau kembali lagi ke Pondok Cabe terus ada informasi mayday abis itu hilang kontak,” sambungnya.
Ibnu menuturkan, seluruh awak pesawat yang berjumlah tiga orang dinyatakan meninggal dunia diantaranya sebagai pilot, co pilot, dan engineering. Setelah berhasil dievakuasi, kata dia, ketiga jenazah dibawa ke RS Polri Kramat Jati untuk dilakukan identifikasi.
“Informasi dari rekan-rekan, pilotnya yang terlempar keluar dari pesawat. Sudah dibawa barusan semuanya. Sekarang KNKT melakukan identifikasi,” katanya.
Untuk selanjutnya, kata dia, terkait dugaan sementara jatuhnya pesawat, pihaknya tidak bisa memberikan keterangan lebih lanjut. Kata dia, hal tersebut nantinya bakal disampaikan setelah Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) menyelesaikan proses identifikasi.
Ia menjelaskan hujan lebat terjadi saat jatuhnya pesawat. Namun dia tidak dapat menyimbulkan bahwa faktor cuaca menjadi penyebabnya.
Baca Juga: Pemotor Tewas Terlindas di Depan Taman Kota 1 Serpong
“Untuk sekarang kita serahkan kepada KNKT untuk melaksanakan identifikasi atas kejadian kecelakaan tersebut. Masih dalam proses penyelidikan oleh KNKT. Kita tidak bisa menyampaikan seperti itu. Tapi saat waktu kejadian hujan lebat,” ucapnya.
Ia menambahkan, seluruh instansi turut membantu dalam melaksanakan oleh tempat kejadian perkara mau pun proses evaluasi di lapangan. Untuk bangkai pesawat, belum diketahui pasti akan dievakuasi kemana.
“Dari jajaran Polri, Basarnas, dari semua instansi terkait kita melaksanakan untuk pembantuan pelaksanaan olah TKP. Nanti dari KNKT entah di Pondok Cabe atau dimana,” ucapnya.
Kepala Kantor SAR Jakarta, Desiana Kartika Bahari menyampaikan, dalam melakukan proses evakuasi dua awak yang masih berada di dalam pesawat terdapat kendala. Dimana, kondisi keduanya terjepit oleh badan pesawat.
“Ketiga korban telah berhasil kita evakuasi selesai pada pukul 16.40 WIB. Terima awal info itu kami di pukul 13.43. Kondisi tubuh utuh ketiganya. Untuk yang didalam pesawat ada dua, yang satu di luar. Jadi yang agak sulit yang di dalam pesawat karena perlu kehati hatian karena supaya tidak utuh,” ungkapnya.
Kalau kendala tidak ada, karena perlu kehati-hatian. Makanya kita perlu proses waktu untuk mengeluarkan korban satu persatu dengan lancar. Kendalanya karena crash ya jadi dia terjepit kita perlu berhati-hati untuk menarik keluar supaya tidak ada,” paparnya.
Desiana mengatakan, terdapat lima orang petugas yang diturunkan untuk melakukan evakuasi dengan sistem berupaya alat ekstriskasi.
“Untuk petugas sendiri dari kantor Basarnas Jakarta ada lima, dari BSD totalnya ada 10. Untuk pengangkatan nanti dari KNKT yang akan langsung mengevakuasi serpihan sekaligus untuk memeriksa mungkin,” katanya.
Salah satu warga Eni (70) mengatakan, jatuhnya pesawat sempat ia kira tabrakan yang melibatkan mobil besar. Pasalnya, ledakan keras terdengar hingga ke warungnya yang berada ratusan meter dari TKP.
“Dengar suaranya keras sekali sampai sini seperti aya suara mobil tronton tabrakan. Saya ngiranya tabrakan. Saya lagi masak di sini tidak kelihatan,” katanya.
Tidak berselang lama, Eni mengaku mendengar teriakan minta tolong. Saat ia keluar dari warung, ternyata teriakan itu berasal dari pedagang yang berada di dekat TKP.
“Ada suara teriakan minta tolong ternyata tukang mie ayam di dekat situ. Saya tapi ngga nyangka ternyata ada pesawat jatuh. Karena mikirnya tronton. Pas tau ternyata pesawat saya juga tidak berani mendekat,” bebernya.
Wali Kota Tangsel, Benyamin Davnie menyampaikan pihaknya telah menurunkan sejumlah petugas dari berbagai instansi guna membantu proses identifikasi KNKT di lapangan.
“Saya hanya bisa menyatakan bahwa pemerintah kota prihatin kecelakaan ini. Saya juga belum dapat data warga Tangsel atau bukan. Damkar membantu kemudian dengan peralatan yang kita miliki. Tapi yang berperan besar dari basarnas. Sekarang masih dalam penanganan dari KNKT untuk penelitian lebih lanjut,” pungkasnya. (eko)
























