SATELITNEWS.COM, TANGSEL—Peringatan HUT RI ke-17 di Kota Tangerang Selatan dimeriahkan dengan pemecahan rekor Muri dan rekor dunia yang dilakukan band I’M Star, sebuah band yang beranggotakan anak berkebutuhan khusus (ABK). I’M Star memecahkan rekor dunia dan Museum Rekor Indonesia (Muri) berkat bermain full band selama 2 jam tanpa henti di Aula Blandongan Puspemkot Kota Tangerang Selatan (Tangsel) pada Sabtu (17/8) lalu.
Band I’M Star terdiri dari lima personel autistik yang penuh semangat dengan bakat luar biasa. Mereka di antaranya Andhityas Cintya Widianna sebagai bassist, Arianda Wiradipa Prabowo sebagai vokalis dan saxophonist, Made Dwara Abhysma sebagai keyboardist dan saxophonist, M. Naufal Fawzie sebagai gitaris, dan Umran Zhafran Ibrahim sebagai drummer.
Berkat aksinya memainkan musik dua jam tanpa henti, band tersebut mendapatkan penghargaan dari Record Holders Republic (RHR) dan Museum Rekor Indonesia (Muri). Penghargaan itu diserahkan Wakil Wali Kota Pilar Saga Ichsan kepada I’M Star di ajang hari bebas kendaraan di Bintaro, Minggu (18/8).
Disampaikan Pilar, pemberian penghargaan di CFD ini sebagai bentuk promosi maupun pengenalan ke masyarakat Tangerang Selatan, bahwa ada Band Anak Berkebutuhan Khusus bernama I’M Star yang mampu memecahkan rekor dunia.
“Kita tahu bersama tepatnya kemarin di peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan ada sejarah, prestasi yang membanggakan bukan hanya untuk Tangsel tapi ini Indonesia,” ucapnya.
“Ini bisa menjadi inspirasi bagi anak-anak berkebutuhan khusus maupun orang tua yang memiliki anak-anak berkebutuhan khusus. Jangan takut, jangan ragu, maksimalkan potensi yang dimilikinya, pasti mereka menjadi sesuatu yang luar biasa,” kata Pilar.
Komponis dan musisi ternama, Purwacaraka, memberikan apresiasi tinggi kepada I’M Star yang berhasil memecahkan rekor dunia dan Muri dalam penampilan mereka yang luar biasa selama dua jam tanpa henti.
“Pertama yang harus saya katakan bahwa mereka main dengan lagu lagu yang cukup bagus. Saya juga mencatat beberapa nomor wajib semua musisi seperti New York New York itu tidak gampang,” ujarnya.
Purwacaraka menyoroti kemampuan luar biasa dari I’M Star Band yang berhasil membawakan lagu-lagu yang tergolong tidak mudah. Selain itu, Purwacaraka juga mengapresiasi penampilan mereka dengan lagu-lagu seperti Afrika dan September, yang menurutnya sangat membekas dan memiliki kesulitan tersendiri. Purwacaraka menjelaskan bahwa lagu-lagu yang dibawakan oleh I’M Star Band memerlukan keterampilan khusus karena kompleksitas chord dan genre yang beragam.
“Dan saya sih bangga, artinya tadi disuruh menilai apakah mereka main benar atau tidak, saya katakan mereka benar mainnya. Kenapa saya katakan lagu lagu itu sulit dengan cord juga yang tidak sederhana, itu juga membuktikan bahwa mereka serius bahwa meraka bermain dengan all genre. Pop Indonesia lagu daerah dia main itu memang membutuhkan keterampilan khusus,” ungkapnya.
Menurutnya, pencapaian ini merupakan kebanggaan bersama, yang menunjukkan bahwa masyarakat Tangerang Selatan bisa maju bersama-sama tanpa terkecuali, dalam semangat memperingati Hari Kemerdekaan Indonesia.
“Tentunya ini kebanggaan kita bersama dalam rangka menyemangati dan memperingati 79 Indonesia. Ini menunjukkan bahwa kita bisa maju bersama sama tanpa terkecuali,” katanya. (eko)