SATELITNEWS.COM, TANGERANG—Pilkada serentak 2024 Rabu (27/11/2024) resmi dilaksanakan. Siapa pemimpin daerah mereka selama 5 tahun ditentukan dalam pemilihan hari ini.
Di Kota Tangerang, kandidat wali kota-wakil wali kota terdiri atas tiga pasang. Mereka adalah Faldo Maldini-Fadlin Akbar, Ahmad Amarullah-Bonnie Mufidjar serta pasangan Sachrudin-Maryono. Sedangkan untuk tingkat Provinsi Banten diikuti oleh dua pasang. Mereka adalah pasangan Airin Rachmi-Ade Sumardi serta Andra Soni-Dimyati Natakusumah.
Rektor Universitas Raharja Tangerang Dr Po Abas Sunarya menyatakan, pemilu pada dasarnya adalah pesta rakyat, di mana amanah sepenuhnya ada pada rakyat untuk menentukan pimpinnya. Sehingga kelak siapa pun yang terpilih diharapkan agar bisa membawa kemajuan rakyat dan bisa membawa kemajuan untuk daerahnya.
“Apa-apa yang sudah baik oleh pemimpin sebelumnya ya diteruskan. Tapi mana-mana yang belum dilaksanakan, maka itulah tugas pemimpin selanjutnya,” ujarnya, saat ditemui wartawan, Rabu (27/11/2024). Abas mengatakan, sebagaimana diketahui bahwa Kota Tangerang saat ini masih daerah penyangga ibu kota.
“Sekali pun kelak ibu kota resmi pindah ke IKN, tapi tetap Jakarta adalah kota istimewa khususnya untuk kegiatan ekonomi. Oleh karena itu kedamaian, kenyamanan masyarakat di sekitar Jakarta adalah menjadi kebutuhan,” ungkapnya.
Apalagi situasi dunia sedang tidak baik-baik saja, di mana sedang terjadi perang di belahan dunia lainnya, sehingga akan menghambat ekononomi, khususnya untuk ekspor-impor yang terganggu. “Ujung-ujung pasti akan berkompetisi, maka SDM nya perlu ditingkatkan. Dalam suatu kesempatan saya selalu berpesan baik untuk calon wali kota/bupati maupun untuk calon gubernur agar menjaga dunia usaha dengan menciptakan suasana nyaman, kondusif. Sebab dengan suasana nyaman dan kondusif Insya Allah dunia usaha tenang,” ucapnya.
Baca Juga: Ribuan Ikan Mati di Situ Cangkring Tangerang, DLH Turun Tangan dan Larang Warga Konsumsi
Pria yang juga Ketua Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) Provinsi Banten ini menegaskan, selayaknya turnamen sepakbola dalam pilkada pasti akan ada yang menang dan kalah. Karena itu, dirinya berharap agar yang tidak terpilih bisa bergabung membangun daerah. “Itu kalau dia ingin ke depan betul- betul punya kesempatan. Jangan kebetulan tidak terpilih malah berpikiran “lain”, atau jadi oposisi yang mengganggu,” ujarnya.
Ditambahkannya, menjadi oposisi pun tidak masalah selama memberi koreksi dan kontrol secara obyektif. “Itu (koreksi dan kontrol positif) saya kira malah perlu, sehingga kalau daerah aman nyaman dan kondusif daerah terbangun,” ujarnya. Dia mengatakan semua paslon punya kelebihan dan kekurangan. “Makanya yang kekurangannya kita tinggalkan dan kelebihannya kita berikan kepada siapa pun yang terpilih untuk membangun daerah ini, itu yang terpenting,” pungkasnya. (made)
























