SATELITNEWS.COM, TANGSEL–Program makan bergizi gratis (MBG) di Kota Tangerang Selatan (Tangsel) sudah berjalan dua pekan lebih. Sejumlah hal terus dievaluasi, mulai dari pendistribusian ke sekolah hingga pemilihan menu yang tidak semua disukai siswa.
Untuk keberadaan food waste atau sampah makanan yang dihasilkan program Presiden Prabowo ini diklaim sudah terolah dengan baik. Diantaranya untuk budidaya magot dan pakan ternak warga sekitar dapur umum MBG.
Kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi Tangsel, Nindy Sabrina menyebut bahwa setiap harinya sekitar 50 kilogram lebih sampah makanan dihasilkan. Kata dia, pihaknya sudah berkoordinasi dan menyerahkan ke Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Tangsel untuk ditangani.
“Kami sudah koordinasi dengan DLH untuk diolah lebih lanjut. Sudah diarahkan sumber makanan untuk budidaya magot. Selama ini juga warga sudah mengambil sisa makanan buat ternak mereka,” ujar Nindy saat dikonfirmasi, Senin (20/1/2025).
Diketahui, limbah tersebut merupakan sisa makanan yang tidak dikonsumsi oleh penerima manfaat program MBG. Dimana, setidaknya saat ini program tersebut sudah berjalan pada tujuh sekolah mulai dari tingkat SD hingga SMA di kota berjuluk anggrek.
Kepala Bidang Persampahan DLH Tangsel, Tubagus Aprilliadhi mengklaim bahwa sampah sisa makanan diolah di Tempat Pengolahan Sampah Reduce Reuse Recycle (TPS3R) terdekat. Selain untuk makan magot dan hewan ternak, sampah makanan juga diaplikasikan untuk pupuk kompos.
Baca Juga: Kasus RT Jadi tersangka Usai Tegur Warga Bakar Sampah, Benyamin Minta Proses Hukum Dijalani
“Tidak hanya magot, kalau misalnya dengan masyarakat ada magot, untuk pakan peternakan ataupun pupuk. Kita pun sama, yang tidak bisa dikelola yang kita buang. Itu kerjasama dengan TPS3R terdekat atau dengan warga yang komunitas lingkungan, pecinta lingkungan kan bisa,” ucapnya.
Meski begitu, Tubagus belum mengatahui pasti berapa jumlah sampah yang sudah terolah. Kata dia, setiap harinya kurang lebih berkisar 50 sampai 100 kilogram.
“Sudah kita angkut ko, belum kita hitung. Perhari, cuma kan kita tidak sempat menghitung seperti itu, belum satu bulan kan. Sehari 50 kilo sampai, tidak sampai 100 kilogram,” pungkasnya. (eko)
























