SATELITNEWS.COM, TANGERANG – Akibat diguyur hujan deras ditambah dengan adanya air kiriman dari Kabupaten Bogor, Sungai Cimanceuri kembali meluap. Akibatnya, ratusan rumah warga di Kecamatan Legok dan Pagedangan terendam air hingga setinggi 100 hingga 150 centimeter, Selasa (4/3).
Ketua RT04/RW01, Kampung Ciparay Sasak, Desa Cirarab, Kecamatan Legok, Haerudin mengatakan, sebelumnya memang sempat pada Minggu (2/3) malam, hingga Senin (3/3) pagi. Lalu pada Senin (3/3) siang sempat surut hingga malam.
Namun, ketika Senin (3/3) pukul 22:00 wib air mulai kembali tinggi dan merendam pemukiman warga kembali. Menut Haerudin, berdasarkan data yang diterimanya ada 70 KK dan 250 jiwa yang terdampak banjir kiriman tersebut.
“Berdasarkan data yang diterima, sebanyak 70 kepala keluarga dengan 250 jiwa menjadi korban banjir, setelah air merendam rumah sejak pukul 22.00 WIB,” kata Haerudin kepada Satelit News, Selasa (4/3).
Menurut Haerudin, air yang merendam dengan ketinggian 100 hingga 150 centimeter ini, merupakan kiriman dari wilayah Bigor melalui Sungai Cimanceuri. Pasalnya, pemukiman warga yang terdampak memang tidak jauh dari bibir Sungai Cimanceuri.
“Sungai Cimanceuri yang memang tidak jauh dari pemukiman kami. Jadinya, sekampung ini terendam banjir sampai dengan sore ini, dengan ketinggian air mencapai 1 hingga 1,5 meter,” katanya.
Baca Juga: 3 Pelajar Ditangkap Buntut Kematian 2 Remaja di Alam Sutera
Dari 70 KK, dan 250 jiwa terdapat 37 rumah yang terendam banjir. Namun, meski terendam banjir kata Ketua RT Haerudin, masyarakat lebih memilih untuk bertahan dirumahnya masing-masing, karena menjaga barang atau perabotan rumah agar tidak hilang.
“Yang ke pengungsian itu cuma lansia sama bayi, itu sudah kita bawa ke posko ada 3 lansia dan 4 bayi. Tapi sisanya masih dirumah, karena mereka jaga barang-barang,” ujarnya.
Kata Haerudin, saat ini masyarakat membutuhkan logistik berupa sembako dan selimut. Halnitu, karena selimut dan sembako yang dimiliki sudah basah terkena air yang datang secara tiba-tiba.
“Kami butuh sembako lagi, selimut juga, karena basah, pas air datang tidak sempat diselamatkan,” ungkapnya.
Haerudin juga mengharapkan adanya solusi jangka panjang dari Pemerintah Kabupaten Tangerang dan Provinsi Banteng. Mengingat, banjir kiriman itu sudah menjadi langganan setiap tahun apabila Sungai Cimanceuri meluap.
“Kami berharap ada solusi jangka panjang juga. Karena, Sungai Cimanceuri sudah serihg meluap,” katanya.
Baca Juga: Pemkot Tangerang Dorong UMKM Segera Urus Sertifikasi Halal
Ditempat terpisah, Plt. Camat Pagedangan, Daniel mengatakan, bahwa akibat luapan air Sungai Cimanceuri, sedikitnya ada 350 KK yang terdampak banjir. Namun, yang mengungsi ke Masjid ada 100 KK, diwilayah Kecamatan Pagedangan.
“Ada yang masih mengungsi di masjid sekitar, lumayan banyak ada sekitar 100 kepala keluarga yang masih bertahan di pengungsian,” kata Plt Camat Pagedangan, Daniel.
Daniel juga mengatakan, bahwa pihanya telah membangun dapur umum untuk para pengungsi, sebagai lokasi pendistribusian logistik. Dirinya berharap, banjir bisa segera surut dan luapan air bisa segera teratasi.
“Kita juga sudah membangun dapur umum untuk lokasi pendistribusian logistik,” katanya.
Sementara itu, Wakil Bupati Tangerang, Intan Nurul Hikmah mengatakan, bahwa Sungai Cimanceuri merupakan kewenangan pemerintah pusat dalam hal ini Balai Besar Wilayah Sungài Ciliwung Cisadane (BBWS C2).
Maka, apabila terjadi longsor, banjir akibat luapan Sungai Cimanceuri, piahk Pemerintah Kabupaten Tangerang hanya bisa memberikan solusi jangka pendek menggunakan program belanja tanggap darurat (BTT).
“Sebetulnya, Sungai Cimanceuri merupakan kewenangan Pemerintah Pusat melalui BBWSC2. Tetapi, apabila terjadi longsor atau banjir maka penanganannya, hanya dilakukan untuk jangka pendek dan menengah melalui BTT,” kata Intan Nurul Hikmah.
Selain itu, Pemerintah Kabupaten Tangerang melalui Dinas Bina Marga dan Sumber Daya Air akan melakukan normalisasi terhadap sungai. Agar, tidak terjadi pendangkalan yang dapat menyebabkan tersumbatnya aliran Sungai Cimanceuri.
“Kita akan lakukan juga normalisasi aliran sungai. Melalui, DBMSDA Kabupaten Tangerang,” tukasnya.
Saat disinggung terkait, turab atau tanggul permanen untuk Sungai Cimanceuri. Kata wanita yang biasa disapa Teh Intan itu mengatakan, bahwa Pemerintah Kabupaten Tangerang akan mengusulkannya kepada Balai Besar Wilayah Sungài Ciliwung Cisadane (BBWS C2), yang merupakan pihak yang berwenang dalam mengelola Sungai Cimanceuri.
“Dikarenakan pemerintah Kabupaten Tangerang tidak dapat melakukan pembangunan tanggul/turap/bangunan permanen lainnya. Maka, pembangunan turab atau tanggul akan diusulkan kepada BBWSC2,” katanya. (alfian)





















