SATELITNEW.COM, TANGERANG — Sebanyak 127 puisi karya masyarakat Tangerang dibukukan oleh Dewan Pengurus Daerah Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPD KNPI) Kota Tangerang. Penerbitan antologi ini menjadi upaya membuka ruang bagi penulis muda sekaligus mendorong kebangkitan sastra di tengah persoalan rendahnya minat baca dan terbatasnya akses publikasi karya.
Buku tersebut diluncurkan di Gedung Pemuda KNPI Kota Tangerang, Jumat (9/10/2026), sebagai bagian dari rangkaian peringatan Bulan Pemuda dan Bulan Bahasa. Dari sekitar 390 puisi yang dihimpun melalui kegiatan Lesehan Sastra Pemuda pada Juli 2026, sebanyak 127 karya terpilih setelah melalui proses penyuntingan.
Budayawan Banten, Rip, mengapresiasi inisiatif tersebut. Namun, menurut dia, kebangkitan sastra tidak cukup melalui penerbitan buku dan kegiatan seremonial. Diperlukan pembinaan berkelanjutan, terutama dengan menghidupkan kembali kegiatan sastra di sekolah.
“Saya selalu optimistis bahwa dunia sastra ini bisa dikembalikan ke masa kejayaannya. Tapi memang harus dengan kerja keras. Karena itu, saya benar-benar mengapresiasi apa yang sudah dilakukan KNPI. Mudah-mudahan ini langkah awal,” ujar Rip.
Ia mendorong sekolah menyediakan ruang bagi siswa untuk membaca, menulis, dan memublikasikan karya. Majalah dinding, buletin, atau majalah sekolah dapat menjadi sarana sederhana untuk menumbuhkan kebiasaan berkarya tanpa harus bergantung pada penerbitan buku.
“Yang paling murah itu majalah dinding. Sekarang membuat majalah dinding gampang sekali. Kalau sekolahnya mampu, bisa dikembangkan menjadi buletin atau majalah sekolah. Itu akan lebih membangkitkan semangat siswa menulis,” katanya.
Baca Juga: KNPI Kota Tangerang Perkuat Literasi Lewat Lesehan Sastra
Rip juga menyoroti tantangan penggunaan telepon pintar dan kecerdasan buatan (AI) dalam proses belajar. Menurut dia, guru berperan penting membimbing siswa agar teknologi tidak menggantikan proses berpikir dan kreativitas mereka.
“Teknologi itu menjadi tantangan berat kalau tidak diarahkan oleh guru. Mau tidak mau, guru yang kita harapkan,” ujarnya.
Sementara itu, Sekretaris DPD KNPI Kota Tangerang, Ega, mengatakan penerbitan antologi berangkat dari kegelisahan pengurus terhadap rendahnya minat baca masyarakat. Ia menyebut tingkat melek huruf di Kota Tangerang mencapai 99,7 persen, sedangkan minat baca diklaim masih di bawah 10 persen. Namun, ia tidak merinci sumber data, tahun pengukuran, maupun metode penghitungan angka tersebut.
Menurut Ega, pengumpulan puisi dibuka untuk masyarakat luas, mulai dari pelajar dan mahasiswa hingga pegawai negeri sipil serta masyarakat umum. Dari sekitar 390 karya yang masuk, panitia menyeleksi 127 puisi untuk diterbitkan.
Ia menilai pembinaan sastra dan publikasi karya tidak semestinya hanya menjadi tanggung jawab organisasi kepemudaan. Karena itu, KNPI mendorong Dinas Pendidikan Kota Tangerang bekerja sama dengan instansi yang membidangi perpustakaan dan kearsipan untuk memfasilitasi penerbitan antologi khusus pelajar.
“Anak-anak yang bersemangat menulis bisa difasilitasi melalui forum resmi dan dibuatkan buku antologi puisi khusus pelajar,” kata Ega.
Baca Juga: Pemuda Kota Tangerang Didorong Jadi Pengusaha di Era Digital
Ia mengaku belum melihat adanya langkah konkret pemerintah daerah untuk merealisasikan usulan tersebut. Hingga berita ini disusun, belum diperoleh tanggapan dari Dinas Pendidikan maupun instansi perpustakaan daerah terkait usulan itu.
Ketua DPD KNPI Kota Tangerang, Dede Maulana Faisal, menyebut antologi puisi tersebut sebagai salah satu warisan kepengurusannya. Ia berharap buku itu menjadi pemantik bagi generasi muda untuk terus berkarya.
Peluncuran antologi menjadi bagian dari rangkaian Bulan Pemuda KNPI yang dijadwalkan berlangsung pada 22–28 Oktober 2026. Agendanya meliputi turnamen futsal pada 22–23 Oktober, kompetisi Mobile Legends, Color Run dan konser musik pada 24 Oktober, serta Apel Pemuda di Lapangan Ahmad Yani pada 28 Oktober.
Bagi Rip, keberhasilan membangkitkan sastra tidak cukup diukur dari jumlah buku yang diterbitkan atau kegiatan yang digelar. Hal terpenting ialah tersedianya ruang bagi generasi muda untuk belajar, menulis, dan menjangkau pembaca.
Antologi 127 puisi tersebut menjadi langkah awal. Keberlanjutannya akan bergantung pada pembinaan penulis muda, keterlibatan sekolah dan komunitas sastra, serta dukungan pemerintah daerah dalam menyediakan ruang publikasi bagi karya masyarakat. (ari)





















