SATELITNEWS.COM, LEBAK—Direktur Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Adjidarmo dr Budhi Mulyanto mengklaim kersediaan Serum Anti Bisa Ular (SABU) masih aman. Namun, demikian dirinya mengakui bahwa untuk puskesmas stok masih kosong.
“Di RSUD Adjidarmo tersedia, stok terakhir ada 78 vial. Namun untuk puskesmas tahun ini belum ada distribusi,” kata Budhi, Selasa (11/3/2025). Dia juga menjelaskan, distribusi ke pusat kesehatan masyarakat belum dilakukan karena belum ada pengadaan di tahun 2025.
“Masyarakat bisa menfaatkan rumah sakit, karena untuk puskesmas belum ada pengadaan,” ujar Budhi yang juga menjabat pelaksana tugas (Plt) Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Lebak ini.
Pernyataan ini merespons kekhawatiran masyarakat setelah seorang warga Baduy meninggal dunia akibat patukan ular tanah benerapa hari lalu. Korban terlambat mendapatkan SABU dan harus dirujuk ke RSUD Banten di Serang. Sementara puskesmas terdekat tidak memiliki stok.
Selain menyinggung ketersediaan SABU, Budi juga menegaskan bahwa setiap pasien, termasuk yang tidak memiliki identitas resmi, tetap akan mendapatkan pelayanan medis di Lebak. “Pasien tanpa identitas pun ditangani, apalagi kalau jelas-jelas itu warga Lebak,” tegasnya.
Terkait pembiayaan kesehatan bagi masyarakat kurang mampu, ia menjelaskan bahwa Surat Keterangan Tidak Mampu (SKTM) sudah tidak berlaku sejak akhir 2023. Sebagai gantinya, lanjut Budhi Pemkab Lebak telah menerapkan Universal Health Coverage (UHC), di mana pasien yang tidak mampu bisa langsung didaftarkan ke BPJS PBI melalui Dinas Sosial dan kepesertaannya aktif dalam 1×24 jam.
“Sudah disosialisasikan ke seluruh OPD, camat, dan kepala desa. Bahkan, di Balai Desa Kanekes sudah disediakan alat rekam data kependudukan, satu-satunya di Lebak,” ungkap Budi. Meski demikian, puskesmas belum mendapatkan distribusi SABU tetap menjadi perhatian serius.
“Pemerintah daerah segera mengupayakan pengadaan dan distribusi SABU ke puskesmas, agar tidak ada lagi korban meninggal akibat gigitan ular yang terlambat ditangani,” tandasnya.(mulyana)