SATELITNEWS.COM, TANGSEL-Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Tangsel) melalui Dinas Kesehatan (Dinkes) memastikan hingga saat ini belum ditemukan adanya kasus Hantavirus. Hal tersebut berdasarkan hasil pemantauan melalui Sistem Kewaspadaan Dini dan Respons (SKDR) serta surveilans penyakit infeksi emerging.
Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangsel, Allin Hendalin Mahdaniar mengatakan, meski begitu, masyarakat diminta agar tetap waspada menyusul meningkatnya perhatian global terhadap penyebaran penyakit tersebut.
Ia menjelaskan, Hantavirus merupakan penyakit zoonotik yang disebabkan oleh Orthohantavirus dan ditularkan melalui hewan pengerat seperti tikus dan celurut. Penularan dapat terjadi melalui urine, feses, air liur, maupun debu yang telah terkontaminasi virus.
Secara klinis, penyakit ini memiliki dua bentuk utama, yakni Haemorrhagic Fever with Renal Syndrome (HFRS) dan Hantavirus Pulmonary Syndrome (HPS). Gejalanya bervariasi, mulai dari demam, nyeri otot, hingga gangguan pernapasan berat.
Kewaspadaan terhadap Hantavirus semakin diperkuat setelah Kementerian Kesehatan menerbitkan Surat Edaran Nomor SR.03.02/C/2572/2026 tentang Kewaspadaan Penyakit Virus Hanta. Selain itu, laporan global terbaru juga mencatat adanya klaster kasus HPS di kapal pesiar internasional yang berpotensi memicu penyebaran lintas negara.
Di Indonesia sendiri, kasus HFRS dilaporkan muncul di beberapa provinsi sejak 2024 hingga 2026. Sementara untuk tipe HPS belum pernah ditemukan, namun tetap berpotensi masuk sebagai kasus importasi.
Sebagai langkah antisipasi, Dinkes Tangsel memperkuat sistem surveilans berbasis indikator dan Surveilans Berbasis Kejadian melalui SKDR. Pemantauan dilakukan terhadap tren kasus ISPA, pneumonia, Severe Acute Respiratory Infection (SARI), hingga sindrom demam dengan gejala tidak spesifik.
“Kami juga meningkatkan deteksi dini di puskesmas dan rumah sakit melalui pendekatan surveilans penyakit infeksi emerging, serta koordinasi lintas program dan lintas sektor dalam kesiapsiagaan penanggulangan penyakit,” ujarnya, Minggu (17/5/2026).
Selain memperkuat pengawasan, Dinkes Tangsel juga menyiagakan fasilitas pelayanan kesehatan, baik puskesmas maupun rumah sakit, untuk mendukung deteksi dini dan penanganan awal pasien. Penerapan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI), termasuk penggunaan alat pelindung diri (APD) bagi tenaga kesehatan, turut diperketat.
Fasilitas kesehatan juga telah menyiapkan ruang isolasi sementara, memperkuat sistem rujukan ke rumah sakit rujukan penyakit infeksi emerging, serta berkoordinasi dengan laboratorium rujukan untuk pemeriksaan spesimen sesuai standar biosafety.
Dinkes Tangsel mengimbau masyarakat tetap tenang dan menerapkan pola hidup bersih dan sehat guna mencegah penularan. Warga diminta rutin mencuci tangan menggunakan sabun atau hand sanitizer, menerapkan etika batuk dan bersin, menjaga daya tahan tubuh, serta menggunakan masker saat sakit.
Masyarakat juga diingatkan untuk menghindari kontak dengan tikus atau celurut beserta kotorannya, menutup akses masuk hewan pengerat ke dalam rumah, dan menjaga kebersihan lingkungan dengan metode pel basah jika menemukan jejak tikus.
Bagi warga yang melakukan perjalanan ke luar negeri, Dinkes meminta agar selalu mengikuti imbauan kesehatan di negara tujuan serta memantau informasi resmi dari Kementerian Kesehatan. (eko)