SATELITNEWS.COM, TANGERANG--Newcastle United jadi juara Carabao Cup 2024/2025. Kemenangan yang juga menyudahi kutukan Wembley untuk The Magpies.
Newcastle menghadapi Liverpool pada laga final Carabao Cup di Wembley, Minggu (16/3/2025 malam WIB.
Newcastle unggul dua gol duluan lewat gol-gol Dan Burn dan Alexander Isak, sebelum dipangkas Federico Chiesa di masa injury time.
Newcastle menang 2-1 sekaligus meraih trofi bergengsi pertamanya sejak 1955. Trofi yang tentunya sudah diidam-idamkan oleh Newcastle dan segenap pendukungnya.
Apalagi kemenangan ini juga mengakhiri catatan buruk Newcastle di Wembley. Newcastle sempat punya rekor bagus di Wembley dengan empat kemenangan beruntun di final Piala FA.
Namun, setelah final 1955, Newcastle tidak pernang menang dalam sembilan lawatan terakhir ke stadion terbesar di Inggris itu. Dimulai dari final Piala FA 1974 saat kalah dari Liverpool.
Lalu, final Piala Liga 1976 kala ditumbangkan Manchester City, lalu 1996 saat takluk dari Manchester United di FA Charity Shield (sekarang Community Shield), kemudian kalah dari Arsenal di final Piala FA 1998 dan Manchester United di final Piala FA 1999.
Kutukan berlanjut saat kalah dari Chelsea di semifinal Piala FA April 2000, lalu dua partai Liga Inggris saat bertemu Tottenham Hotspur di Mei 2018 dan Februari 2019, dengan skor 0-1, dan terakhir dua tahun lalu dari MU dengan skor 0-2 di final Carabao Cup.
“Harus ada pesta. Saya sudah pasti akan merayakannya, karena ini sangat jarang terjadi dala kehidupan saya, tapi kami harus merayakannya dengan para suporter karena mereka sudah lama menantikan ini,” ujar manajer Newcastle Eddie Howe di ESPN.
“Kemenangan ini untuk semuanya – klub, kota, semua yang sudah setia dan selalu mendukung selama beberapa dekade terakhir dan merasakan pahitnya kekalahan. Hari ini kita semua harus merayakannya.”
Bagi Liverpool, kekalahan ini makin membuat sepekan kemarin begitu suram. Sebab pada Selasa (11/3), Liverpool juga baru terluka usai disingkirkan Paris Saint-Germain di Babak 16 Besar Liga Champions. Bermain di Anfield, Liverpool kalah dalam adu penalti setelah agregat imbang 1-1 selama 120 menit.
Maret yang harusnya jadi bula yang membahagiakan untuk Liverpool malah berubah jadi mimpi buruk. Kini Liverpool cuma punya satu trofi untuk dikejar, yakni Liga Inggris.
Liverpool memuncaki klasemen Liga Inggris, unggul 12 poin atas Arsenal di posisi kedua dengan sembilan pekan tersisa. Oleh karenanya, Liverpool dituntut segera bangkit demi mewujudkan trofi juara liga ke-20.
“Hasil yang mengecewakan, performanya juga mengecewakan. Benar-benar berbeda rasanya ketimbang usai laga lawan PSG. Saya rasa ini kali pertamanya saya kalah di dua laga beruntun, tapi mungkin itu efek karena kami sudah memasuki fase akhir di kompetisi,” ujar manajer Liverpool Arne Slot di ESPN.
“PSG dan Newcastle adalah dua tim yang sangat bagus, dengan gayanya masing-masing. Kami sudah tahu sedari laga di St James’ Park, bahwa sulit mengalahkan mereka. Ini pekan yang berat, tapi juga pekan di mana kami memperlebar jarak di puncak menjadi 12 poin, jadi tidak jelek-jelek amat. Tapi, yang pasti dua laga terakhir tidak sesuai keinginan kami.”
Arne Slot juga mengungkap alasan kekalahan timnya.”Ini adalah laga yang berjalan sesuai keinginan mereka. Mereka punya energi ekstra tepat sebelum turun minum dengan gol yang mungkin layak mereka dapatkan kerena lebih mengancam ketimbang kami,” kata Slot dikutip Liverpool Echo.
“Kami kalah permainan dalam gaya mereka, itu benar. Itu yang dinamakan kalah kalah dalam permainan, mereka memenangi duel lebih banyak dari kami. Newcastle berhak menang karena laga berjalan sesuai keinginan mereka.”
“Bukannya kami cuma lari mengejar mereka ya, kami harus banyak bertahan dari bola-bola panjang dan bola-bola kedua, itu kekuatan mereka. Saya tak merasa mereka punya rasa lapar lebih besar,” imbuhnya.
Aspek lain yang jadi kunci kemenangan Newcastle adalah permainan direct untuk melewati pressing Liverpool. Slot pun mengakui lawannya itu punya rencana yang bagus dan memaksimalkan kekuatan.
“Laga ini hanya berkaitan dengan duel-duel dan sama sekali tak ada intensitas dalam hal lari. Anda juga tak bisa menilai apakah kami kelelahan.”
“Kami tak bisa menekan mereka. Anda bisa menilai sebuah tim kalau mereka lelah saat menekan balik lawan, tapi tidak ada yang bisa ditekan karena mereka melewati tekanan kami,” cetus pria Belanda itu. (dm)