SATELITNEWS.COM, JAKARTA—Badan Pusat Statistik atau BPS melaporkan aktivitas impor barang konsumsi mengalami kontraksi sebesar 14,28% sepanjang Januari hingga Februari 2025 atau menjelang Ramadan dan Lebaran, dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Penurunan tersebut utamanya akibat penurunan impor beras yang andilnya mencapai 13,87% secara kumulatif. “Karena impor beras di Januari Februari ini lebih rendah dari tahun lalu karena terkait ketersediaan suplai beras di domestik,” ujar Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam konferensi pers, Senin (17/3/2025).
BPS memang mencatat masih munculnya data impor beras selama periode Januari-Februari 2025, meskipun pemerintah menyatakan komitmennya untuk tak lagi mengimpor beras konsumsi sampai dengan 2026.
Untuk periode Januari-Februari 2025, total volume impor beras Indonesia sebesar 95,94 ribu ton, turun 89,11% dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun lalu seberat 880,81 ribu ton. Detailnya, per Januari 2025 seberat 79,36 ribu ton dan Februari 2025 seberat 16,58 ribu ton.
Total impor beras per Januari-Februari 2025 itu mayoritas berasal dari India seberat 26,78 ribu ton, lalu Vietnam 17,87 ribu ton, dan Thailand seberat 17,58 ribu ton. Adapula yang berasal dari Thailand seberat 16,82 ribu ton.
Secara tahunan atau year on year (YoY), impor barang konsumsi juga menunjukkan penurunan hingga 21,05% pada Februari 2025. Beras, memberikan andil penurunan sebesar 15,07%. Monitor berwarna memberikan andil penurunan sebesar 2,66% serta andil otomotive diesel fuel 1,01% pada Februari 2025.
Melihat penurunan impor barang konsumsi secara bulanan (month to month/MtM), nilai impor barang konsumsi secara turun 10,61% dan volumenya turun 27,63%. Penyumbang utama penurunan, yakni komoditas buah-buahan seperti jeruk dan apel yang mengalami penurunan impor masing-masing senilai US$29,2 juta dan US$17,9 juta.
Penurunan impor cabai (HS 09) mencapai US$16 juta pada Februari 2025. Sementara impor daging hewan mengalami penurunan US$44,8 juta, khususnya dari komoditas Frozen Bondless Meat of Bovine Animals (HS 02023000), dengan nilai impor turun US$43,5 juta dari bulan sebelumnya.
Barang konsumsi yang mengalami penurunan bulanan yakni komoditas serealia, termasuk beras yang turun US$37,8 juta. Utamanya dari komoditas Semi-Milled or Wholly Milled Rice (HS 1006309) yang nilai impornya turun US$37,07 juta dibandingkan bulan Januari 2025.
Menurut golongan penggunaan barang, turunnya nilai impor barang konsumsi terjadi paling besar pada jenis Alat Angkutan Bukan untuk Industri yang anjlok 37,65% MtM dan Makanan dan Minuman (Primary) untuk Rumah Tangga terkontraksi 36,29% (MtM).
Sementara barang konsumsi dari golongan Minuman & Makanan (Processed) untuk Rumah Tangga, turun 20,74% (MtM).
Secara umum, nilai impor Februari 2025 mencapai US$18,86 miliar, mengalami kenaikan baik secara bulanan maupun secara tahunan, masing-masing sebesar 5,18% dan 2,30%. Sementara nilai ekspor Indonesia mencapai US$21,98 miliar atau mengalami kenaikan sebesar 2,58% MtM dan 14,05% (YoY). Alhasil, neraca perdagangan barang Indonesia melanjutkan reli surplus 58 bulan berturut-turut, yang pada Februari 2025 mencatatkan surplus senilai US$3,12 miliar. (rmg/san)