SATELITNEWS.COM, TANGSEL-Kota Tangerang Selatan (Tangsel) sering menjadi sorotan soal kualitas udara yang buruk. Terbaru, lembaga pemerhati lingkungan Green Peace, memberikan ucapan selamat kepada Kota Tangerang Selatan yang menyabet predikat kota dengan kualitas udara paling buruk se Asia Tenggara.
“Selamat Kepada Kota Tangerang Selatan sebagai kota dengan kualitas udara paling buruk se-Asia Tenggara,” bunyi ucapan dalam unggahan akun instagram resmi @greenpeace.
Dalam penjelasannya, konsentrasi partikel udara berukuran sangat kecil atau partikel halus yang berdiameter 2,5 mikrometer di Tangsel pada tahun lalu 12 kali diatas ambang batas aman WHO.
Menanggapi hal tersebut, Wakil Wali Kota Tangsel, Pilar Saga Ichsan berupaya meningkatkan kualitas udara dengan peningkatan jumlah ruang terbuka hijau dan penanaman pohon. Selain itu, transportasi publik yang terintegrasi juga menjadi prioritas.
“Iya kita terus upayakan Pemkot Tangsel salah satunya adalah dengan peningkatan jumlah ruang terbuka hijau, penanaman pohon terus kita lakukan. Kemudian juga terkait Tangsel ini kan membutuhkan transportasi publik yang terintegrasi,” ujarnya, Jumat (21/3/2025).
“Alhamdulillah PT MRT kemarin ada laporan baik bahwa MRT Lebak Bulus-Serpong sudah masuk RPJMR, artinya ini akan menjadi target nasional untuk dibangun,” sambungnya.
Baca Juga: Warga Situ Rompong Desak Kejari dan BPN Usut Dugaan Maladministrasi Penerbitan SHGB
Pilar juga menyebutkan bahwa penetapan transportasi publik 33 trayek telah disahkan oleh Kementerian Perhubungan, sehingga dapat dilakukan lelang segera. Selain itu, penambahan bus sekolah gratis juga dilakukan untuk mengurangi polusi udara.
“Lalu juga transportasi publik penetapan transportasi publik 33 trayek ini sudah disahkan oleh Kementerian Perhubungan, kita bisa melakukan lelang segera. Terus juga ada penambahan bus sekolah gratis sekarang ada 10 bus, itu salah satu bagaimana untuk mengurangi polutan,” katanya.
Apalagi, lanjut Pilar, Kota Tangsel menjadi pertemuan antaranya Jawa Barat, DKI, dan Banten, sehingga akan sangat berdampak apabila transportasi terintegrasi berjalan.
“Makanya nanti kedepan juga kami butuh dukungan dari Provinsi Banten. Terkait bagaimana transportasi publik terintegrasi dengan Tangsel. Perlu tambah transportasi publik lain supaya orang masuk wilayah Tangsel gunakan transportasi publik yang ada beralih dari kendaraan motor mobil,” ungkapnya. (eko)
