SATELITNEWS.COM, TANGERANG—Pemerintah Kota Tangerang mulai meningkatkan kewaspadaan menghadapi potensi kekeringan pada musim kemarau. Kecamatan Batuceper menjadi wilayah yang mendapat perhatian khusus setelah masuk kategori Awas Kekeringan Meteorologis berdasarkan pemantauan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
Status tersebut tercatat pada Dasarian III Juli 2026. BMKG juga mencatat curah hujan di Kota Tangerang berada pada kategori rendah, yakni 0-10 milimeter per dasarian, dengan sifat hujan di bawah normal.
Selain itu, rencananya BPBD Kota Tangerang bersama organisasi perangkat daerah terkait juga akan mengecek ketersediaan sumber air, termasuk kondisi air bawah tanah di wilayah yang belum sepenuhnya terjangkau jaringan air bersih.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Tangerang Mahdiar mengatakan, kondisi tersebut berkaitan dengan keadaan cuaca di atas wilayah Batuceper, termasuk tutupan awan dan minimnya curah hujan. “Menurut teman-teman BMKG, lebih pada kondisi cuaca di area tersebut, di atas wilayah tersebut. Karena itu Batuceper menjadi salah satu wilayah yang perlu kita perhatikan lebih intens,” kata Mahdiar SatelitNews.Com, Kamis (13/8/2026).
Puncak musim kemarau di Kota Tangerang diprediksi berlangsung pada Juli hingga Agustus 2026. Karena itu, BPBD tidak hanya memantau Batuceper, tetapi juga sejumlah kecamatan lain yang dinilai berpotensi mengalami dampak kekeringan. Wilayah tersebut meliputi Kecamatan Benda, Cipondoh, Pinang, dan Tangerang. Salah satu yang menjadi perhatian adalah potensi berkurangnya ketersediaan air jika musim kemarau berlangsung lebih panjang.
“Ke depan kita juga mau mengecek kondisi ketersediaan air bawah tanah di wilayah-wilayah yang ada di Kota Tangerang,” ujarnya.
Baca Juga: Pemkot Tangerang Perkuat Penanggulangan Penyakit Tidak Menular
Meski demikian, Mahdiar mengatakan kondisi ketersediaan air bersih secara umum masih relatif aman. Hal itu didukung cakupan layanan Perumda Tirta Benteng yang telah menjangkau sebagian besar kecamatan di Kota Tangerang. “PDAM memang sudah mencakup hampir sebagian besar kecamatan dalam penyediaan air bersih. Selama Cisadane dan bahan bakunya aman, secara dominan rata-rata aman,” kata dia.
Pemkot Tangerang pun menyiapkan langkah antisipasi jika kekeringan mulai berdampak terhadap kebutuhan masyarakat. BPBD telah berkoordinasi dengan Perumda Tirta Benteng dan perangkat daerah terkait untuk menyiapkan dukungan distribusi air bersih.
Warga yang mulai mengalami kesulitan mendapatkan air diminta tidak menunggu kondisi semakin parah. Salah satu indikator yang bisa dilaporkan ialah debit air sumur yang mulai mengecil. Laporan dapat disampaikan melalui kelurahan, BPBD Kota Tangerang, maupun layanan darurat 112. Petugas nantinya akan menindaklanjuti laporan berdasarkan kondisi di lapangan. (ari)




















