SATELITNEWS.COM, LEBAK–Masyarakat adat Kasepuhan Cisitu yang terletak di Banten Kidul tepatnya di Kampung Sukatani, Desa Situmulya, Kecamatan Cibeber, Kabupaten Lebak, memilik tradisi tersendiri untuk menjaga ketahan pangan. Caranya adalah dengan mengikat gabah berbentuk pocong untuk disimpan di lumbung padi atau leuit.
Gabah-gabah tersebut merupakan hasil panen raya serentak pada luas 2.500 hektare sawah milik masyarakat adat. Sebelumnya oleh warga adat, padi hasil dijemur terlebih dahulu untuk pengeringan selambat-lambatnya 15 hari tergantung cuaca.
Di Adat Kasepuhan Cisitu, masih menjalankan tradisi yang diwariskan turun-temurun, mulai dari cara memanen dengan metode dietem atau memanen padi menggunakan alat tradisional bernama ani-ani.
Lalu menyimpan gabah-gabah tersebut di leuit. keberadaan Leuit atau lumbung padi juga menjadi salah satu ornamen yang sangat penting bagi warga adat Kasepuhan sebagai tempat ketahanan pangan mereka.
Menurut salah satu warga adat Kasepuhan Cisitu, Sutardi, masyarakat sangat menghormati padi atau pare sebagai kebutuhan pangan sehari-hari. Mereka meyakini hal tersebut sehingga membuat setiap keluarga diwajibkan memiliki leuit untuk menyimpan hasil panen.
“Masyarakat di sini minimal punya dua lumbung padi satu per Kartu Keluarga,”kata Sutardi, Jumat (11/4/2025).
Baca Juga: Perkuat Ketahanan Pangan, Pemprov Banten Optimalkan Puskagro
Selain memiliki makna solidaritas dan budaya gotong royong yang tinggi, leuit juga sebagai simbol keberkahan dan kesejahteraan masyarakat adat dalam menjaga ketahanan pangan sehari-hari di masa yang akan datang.
“Untuk stok, takutnya ke depan ada gagal panen akibat tidak adanya pupuk, dari hama, dari kurangnya air, soalnya kalau engga ada lumbung padi takutnya kelaparan orang disini,”kata Sutardi.
Sementara Abah Yoyo Yohenda, Kasepuhan Adat Cisitu mengatakan, tujuan panen raya ini, selain dalam rangka upaya mendukung program swasembada pangan nasional Presiden Prabowo Subianto juga sekaligus memperkenalkan tradisi adat istiadat serta budaya mereka kepada khalayak ramai.
“Ingin memperkenalkan kepada masyarakat luar bahwa di Cisitu ini panennya itu beda dengan tempat-tempat yang lain, jadi artinya masih menggunakan istilah tatali paranti aki kami baheula ( nenek moyang kami dulu ), artinya menggunakan etem ( ani-ani ) kurang lebihnya begitu, itu turun- temurun jadi nenek moyang kami dari sejak tahun 1621 sudah menggunakan etem ( ani-ani ) jadi tidak sama dengan daerah-daerah luar seperti itu,”pungkasnya.
Ada keunikan tersendiri sebelum panen raya digelar di Kasepuhan Cisitu, mereka berkumpul untuk melakukan beberapa rangkaian kegiatan, seperti melakukan ritual adat, menumbuk-numbukan halu, pada lesung sambil dipadu musik tradisional khas adat Banten Kidul.(mulyana)
























