SATELITNEWS.COM, TANGERANG—Hari Thalasemia Dunia diperingati setiap tanggal 8 Mei. Apa itu thalasemia?
Dokter Spesialis Anak pada Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Tigaraksa, dr. Qeis Ramadhan Sp.A menjelaskan, thalassemia adalah kelompok penyakit yang diakibatkan adanya mutasi genetik yang mempengaruhi dan mengganggu produksi hemoglobin (protein yang bertanggung jawab untuk membawa oksigen dalam sel darah merah).
Dikatakan dr. Qeis, sebanyak 7% dari populasi dunia merupakan pembawa sifat thalassemia. Setiap tahun, sekitar 300.000 hingga 500.000 bayi baru lahir disertai dengan kelainan hemoglobin berat.
Adapun, gejala umum yang mungkin dialami oleh penderita thalassemia meliputi:
1. Kelelahan dan lemah.
2. Kehilangan nafsu makan.
3. Pertumbuhan terhambat pada anak-anak.
Diantaranya berisiko mengalami; Keterlambatan dalam perkembangan kognitif, gangguan komunikasi, motorik, adaptif ataupun sosialisasi dibandingkan anak normal.
Perawakan pendek, pubertas terlambat, serta masalah perilaku dan emosi. Keterbatasan terhadap kegiatan sehari-hari di sekolah, tempat bermain.
4. Kulit pucat.
5. Detak jantung yang cepat.
6. Pembesaran organ seperti hati dan limpa.
7. Infeksi yang sering terjadi.
8. Tulang rapuh atau deformitas tulang pada beberapa kasus.
“Sampai saat ini belum ada obat yang menyembuhkan penyakit thalasemia secara total. Pengobatan yang paling optimal adalah transfusi darah seumur hidup,” kata dr. Qeis Ramadhan Sp.A, Kamis (8/5/2025).
Dijelaskan dr. Qeis, kebutuhan transfusi darah bergantung kepada kondisi setiap pasien dan dengan pertimbangan medis oleh dokter. Pengobatan thalasemia bertujuan untuk mengurangi gejala anemia, mengurangi komplikasi terkait, dan meningkatkan kualitas hidup penderita.
Adapun, langkah-langkah yang dapat diambil untuk mengurangi risiko thalasemia antara lain konseling genetik dalam memahami risiko thalasemia dan membuat keputusan yang tepat sebelum pernikahan dan skrining prenatal untuk mendeteksi thalasemia pada janin saat kehamilan.
“Thalasemia dapat menyebabkan berbagai komplikasi serius, termasuk anemia berat, peningkatan resiko infeksi, pertumbuhan dan perkembangan terhambat, dan gangguan organ (pembesaran hati dan limpa, serta komplikasi pada jantung, liver, dan sistem endokrin),” tandasnya. (*)