SATELITNEWS.COM, TANGERANG – Di tengah guncangan geopolitik dunia yang kian memanas—mulai dari bara konflik Iran melawan AS dan Israel, hingga kecamuk Rusia-Ukraina—ekonomi Kabupaten Tangerang justru menunjukkan taringnya. Meski nilai tukar Rupiah sedang terseok hingga menembus angka Rp17.500 per Dollar AS, keran investasi di wilayah ini justru mengucur deras.
Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) Kabupaten Tangerang mencatat capaian fantastis pada triwulan pertama tahun 2026. Nilai investasi meroket hingga Rp17 triliun, angka yang setara dengan 63 persen dari total target tahunan yang dipatok Pemerintah Provinsi Banten sebesar Rp25 triliun.
Kepala DPMPTSP Kabupaten Tangerang, Hendar Herawan, menyebut fenomena ini sebagai tren yang sangat positif di awal tahun. Pasalnya, lonjakan ini terhitung sangat signifikan jika dibandingkan dengan periode yang sama pada tahun sebelumnya.
“Di tahun 2025 lalu, triwulan pertama hanya menembus angka Rp8 triliun. Sementara tahun 2026 ini mencapai Rp17 triliun. Tentu ini peningkatan yang luar biasa,” ungkap Hendar Herawan kepada Satelit News, Kamis (7/5/2026).
Pilar Ekonomi dan “Magnet” PIK
Hendar menjelaskan, kekuatan investasi di Kabupaten Tangerang saat ini masih ditopang oleh empat sektor utama: Industri, Perumahan, Perdagangan, dan Jasa. Namun, ia juga memberi catatan khusus bagi sektor UMKM yang terbukti menjadi bantalan paling kuat dalam menghadapi krisis ekonomi.
Menariknya, motor penggerak utama investasi kali ini berasal dari Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN), disusul oleh Penanaman Modal Asing (PMA) yang didominasi investor asal Asia Tenggara dan Asia Timur. Di Kabupaten Tangerang sendiri, konsentrasi investasi asing skala besar terlihat nyata di kawasan pengembangan Pantai Indah Kapuk (PIK).
“Investor asing kita mayoritas masih dari Asia. Kalau Eropa, PMA lebih banyak masuk ke daerah proyek strategis nasional. Untuk wilayah kita, investasi asing yang besar terkonsentrasi di PIK,” tuturnya.
Mimpi Menjadi “Singapura” dari Tangerang
Saat ini, Pemerintah Kabupaten Tangerang mulai perlahan memutar kemudi arah kebijakan. Fokus investasi yang semula berat di sektor industri kini mulai digeser menuju sektor perdagangan dan jasa.
Langkah strategis ini diambil untuk mengantisipasi titik jenuh lahan serta menekan dampak polusi industri. Hendar pun tak ragu mengungkapkan visinya yang ambisius. Ia berharap Kabupaten Tangerang bisa bertransformasi layaknya Singapura—negara yang minim sumber daya alam namun mendominasi ekonomi melalui perdagangan dan jasa. Kehadiran infrastruktur kelas dunia seperti AEON Mall dan Indonesia Convention Exhibition (ICE) BSD menjadi modal kuat menuju ke sana.
“Kalau boleh saya bermimpi, saya ingin Kabupaten Tangerang seperti Singapura. Mereka tidak punya sumber daya alam, tapi bisa mengendalikan ekonomi Asia Tenggara melalui perdagangan dan jasa. Kita harus bergerak ke sana karena lebih ramah lingkungan,” ujar Hendar penuh optimisme.
Baca Juga: Pemkab Tangerang Bentuk Satgas Anti Rentenir, Perluas Akses Permodalan Masyarakat
Tetap Waspada di Tengah Depresiasi Rupiah
Meski angka-angka tersebut tampak berkilau, Hendar menegaskan bahwa pemerintah tetap memasang mata waspada. Ketegangan global bukan sekadar berita luar negeri, ia berdampak langsung pada stabilitas harga energi (minyak) dan bahan baku industri, seperti plastik.
Depresiasi Rupiah ke angka Rp17.500 per Dollar AS juga membawa dampak ganda. Di satu sisi, industri dengan bahan baku impor mulai terjepit tekanan biaya, namun di sisi lain, industri yang berorientasi ekspor justru meraup untung besar.
Di akhir penjelasannya, Hendar menjamin bahwa gemerlap investasi kelas atas ini tidak akan meninggalkan masyarakat kecil. Pertumbuhan ekonomi harus berjalan beriringan dengan pemenuhan hak-hak dasar.
“Kami pastikan pertumbuhan investasi akan tetap seimbang dengan pemenuhan hak masyarakat, khususnya pada sektor pendidikan dan kesehatan melalui rumah subsidi, sekolah, dan rumah sakit yang terjangkau,” tutupnya. (alfian/aditya)
























