SATELITNEWS.COM, JAKARTA—Ekonomi Indonesia tumbuh 5,61 persen secara tahunan pada triwulan I 2026, meningkat dibanding periode yang sama tahun lalu sebesar 4,87 persen. Di tengah perlambatan perdagangan global dan pola musiman awal tahun, pertumbuhan ini tetap ditopang permintaan domestik.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat produk domestik bruto (PDB) Indonesia pada triwulan I 2026 mencapai Rp 6.187,2 triliun atas dasar harga berlaku dan Rp 3.447,7 triliun atas dasar harga konstan. Secara kuartalan, ekonomi terkontraksi 0,77 persen dibanding triwulan IV 2025, sejalan dengan penurunan aktivitas setelah periode akhir tahun.
“Ekonomi Indonesia pada triwulan I 2026 tumbuh 5,61 persen secara year on year,” kata Kepala BPS Amalia Adininggar Widyasanti dalam konferensi pers di Jakarta, Selasa (5/5/2026).
Konsumsi rumah tangga menjadi penopang utama dengan kontribusi 54,36 persen terhadap PDB dan sumber pertumbuhan 2,94 persen. Komponen ini tumbuh 5,52 persen, didorong meningkatnya mobilitas masyarakat pada periode libur nasional dan hari besar keagamaan, Nyepi dan Idul Fitri.
Penguatan konsumsi juga tercermin pada sektor jasa. Pengeluaran restoran dan hotel tumbuh 7,38 persen seiring meningkatnya aktivitas perjalanan domestik serta pergerakan wisata pada awal tahun.
Dari sisi investasi, Pembentukan Modal Tetap Bruto (PMTB) tumbuh 5,96 persen dengan kontribusi 28,29 persen terhadap PDB dan sumber pertumbuhan 1,79 persen. Pertumbuhan ini mencerminkan berlanjutnya aktivitas pembangunan infrastruktur serta pengadaan barang modal oleh sektor publik maupun swasta.
Baca Juga: Timnas Voli Indonesia Berpeluang Pijak Semifinal
Sementara itu, konsumsi pemerintah tumbuh 21,81 persen dengan sumber pertumbuhan 1,26 persen. Kenaikan ini ditopang peningkatan belanja pegawai, termasuk pembayaran THR, serta belanja barang dan jasa, termasuk barang yang diserahkan kepada masyarakat dan program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Dari sisi produksi, industri pengolahan menjadi penyumbang terbesar dengan kontribusi 1,03 poin persentase. Sektor ini tumbuh 5,04 persen, didorong industri makanan dan minuman, kimia-farmasi, serta industri barang logam, komputer, elektronik, optik, dan peralatan listrik. Sejumlah sektor jasa mencatat pertumbuhan lebih tinggi, antara lain penyediaan akomodasi dan makan minum 13,14 persen, jasa lainnya 9,91 persen, serta transportasi dan pergudangan 8,04 persen.
Secara regional, pertumbuhan tertinggi terjadi di Bali dan Nusa Tenggara sebesar 7,93 persen, disusul Sulawesi 6,95 persen dan Jawa 5,79 persen. Di tingkat global, kinerja Indonesia berada di atas sejumlah negara besar, termasuk China (5 persen), Amerika Serikat (2,7 persen), Korea Selatan (3,6 persen), Singapura (4,6 persen), dan Malaysia (5,3 persen).
Di sisi ketenagakerjaan, dari total angkatan kerja sebanyak 154,91 juta orang, jumlah pengangguran pada Februari 2026 tercatat 7,24 juta orang dengan tingkat pengangguran terbuka (TPT) 4,68 persen. Angka ini turun 35 ribu orang dibanding tahun sebelumnya.
Sepanjang Februari 2025 hingga Februari 2026, terdapat 196,7 ribu orang yang mengalami pemutusan hubungan kerja (PHK). Dari jumlah tersebut, 113 ribu orang telah kembali bekerja, 69,1 ribu orang masih menganggur, dan 14,6 ribu orang masuk kategori bukan angkatan kerja.
Sementara itu, jumlah penduduk bekerja meningkat menjadi 147,67 juta orang, bertambah 1,9 juta orang dalam setahun. Rinciannya terdiri dari 98,59 juta pekerja penuh waktu, 38,35 juta pekerja paruh waktu, dan 10,73 juta setengah pengangguran.
Baca Juga: Indonesia Bawa Pulang 1 Gelar dari Australia Open
Mayoritas pekerja berstatus buruh, karyawan, atau pegawai, yakni 36,99 persen dari total pekerja, dengan pertumbuhan terbesar 555 ribu orang. “Jumlah pekerja formal pada Februari 2026 meningkat menjadi 59,93 juta orang atau 40,58 persen dari total penduduk bekerja,” kata Amalia.
Terkait ketimpangan gender, BPS mencatat perbaikan pada 2025. Indeks Ketimpangan Gender (IKG) Indonesia turun menjadi 0,402, membaik 0,019 poin dibanding tahun sebelumnya. Tren ini berlanjut dalam lima tahun terakhir, dari 0,472 pada 2020 menjadi 0,402 pada 2025.
Meski demikian, kesenjangan masih terlihat pada sejumlah indikator. Tingkat Partisipasi Angkatan Kerja (TPAK) perempuan tercatat 56,63 persen, jauh di bawah laki-laki yang mencapai 84,40 persen. Di lembaga politik, perempuan baru 22,28 persen anggota legislatif, sementara laki-laki 77,72 persen.
Menyoal jumlah penduduk, berdasarkan Survei Penduduk Antar Sensus (SUPAS) 2025, penduduk Indonesia mencapai 284,67 juta jiwa. Lebih dari separuhnya, 55,65 persen, terkonsentrasi di Pulau Jawa.
Secara umum, laju pertumbuhan penduduk menunjukkan perlambatan menjadi 1,08 persen per tahun dalam lima tahun terakhir, dari 1,10 persen pada hasil Long Form Sensus Penduduk 2020. Rasio ketergantungan juga naik tipis menjadi 45,05, dari 44,33 sebelumnya.
“Indonesia masih menikmati bonus demografi, namun mulai memasuki fase penuaan penduduk karena proporsi lansia sudah 11,97 persen,” ujar Amalia. (rmg/xan)




























