SATELITNEWS.COM, JAKARTA—Ekonomi Indonesia Maret 2026 menunjukkan gambaran campuran. Neraca perdagangan masih surplus dan inflasi melandai. Sementara impor tumbuh dalam laju terbatas, dan kunjungan wisatawan mancanegara mulai melambat setelah sempat menguat.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia pada Maret 2026 tetap membukukan surplus sebesar 3,32 miliar dolar AS, dengan ekspor 22,53 miliar dolar AS dan impor 19,21 miliar dolar AS.
“Surplus sepanjang periode Januari–Maret 2026 ditopang oleh surplus komoditas nonmigas US$10,63 miliar, sementara komoditas migas masih mengalami defisit US$5,08 miliar,” ungkap Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Ateng Hartono dalam konferensi pers di Jakarta, Senin (4/5).
Secara kumulatif Januari–Maret 2026, surplus neraca perdagangan mencapai 5,55 miliar dolar AS, dengan ekspor 66,85 miliar dolar AS dan impor 61,30 miliar dolar AS.
“Ekspor Indonesia pada periode tersebut ditopang beberapa komoditas unggulan, yakni besi dan baja, CPO dan turunannya, serta batu bara, dengan kontribusi 28,53 persen dari total ekspor nonmigas kumulatif Januari–Maret 2026,” ujarnya.
Sementara itu, impor Januari–Maret 2026 terdiri dari 52,97 miliar dolar AS nonmigas dan 8,33 miliar dolar AS migas. Bahan baku dan penolong masih menjadi komponen terbesar dengan nilai 43,17 miliar dolar AS, diikuti barang modal 12,98 miliar dolar AS, dan barang konsumsi 5,15 miliar dolar AS.
“Nilai impor migas sebesar 3,17 miliar dolar AS atau meningkat 1,34 persen secara tahunan. Sedangkan impor nonmigas senilai 16,04 miliar dolar AS atau meningkat 1,54 persen,” kata Ateng.
Ia menyebut impor barang modal tumbuh 4,98 persen, mengindikasikan investasi masih berjalan. Sebaliknya, impor barang konsumsi turun 10,81 persen pada Maret 2026. Tiongkok tetap menjadi pemasok utama impor nonmigas dengan porsi 41,56 persen, diikuti Australia dan Jepang.
Di sisi lain, aktivitas mobilitas masyarakat meningkat tajam pada Maret 2026 seiring periode Idul Fitri, dengan hampir seluruh moda transportasi mencatat pertumbuhan.
Kereta api menjadi moda dengan volume tertinggi, mencapai 48,14 juta penumpang atau tumbuh 17,76 persen dibanding Maret 2025. Angkutan udara domestik melayani 5,62 juta penumpang atau naik 32,35 persen, sementara angkutan laut domestik mencapai 3,12 juta penumpang dengan kenaikan 26,72 persen.
Lonjakan paling tinggi terjadi pada angkutan penyeberangan yang naik 72,73 persen menjadi 7,06 juta penumpang. Angkutan udara internasional juga tumbuh 8,14 persen menjadi 1,54 juta penumpang.
“Selama bulan Maret 2026, periode perayaan hari raya Idul Fitri, jumlah keberangkatan penumpang di seluruh moda transportasi meningkat,” ujar Ateng Hartono.
Dari sisi barang, angkutan laut dan kereta masing-masing tumbuh 2,92 persen dan 0,99 persen, sementara angkutan udara domestik turun 15,74 persen.
Seiring meredanya aktivitas musiman tersebut, tekanan harga mulai melemah. Inflasi April 2026 tercatat 0,13 persen secara bulanan, turun dari 0,41 persen pada Maret, sejalan dengan normalisasi permintaan pasca Ramadan dan Idul Fitri. Secara keseluruhan, inflasi tahun kalender berada di level 1,06 persen.
Kelompok makanan, minuman, dan tembakau mencatat deflasi 0,20 persen, dengan penurunan harga pada ayam ras, cabai, dan telur. Harga emas perhiasan juga turun 3,76 persen setelah periode kenaikan panjang.
Namun, kelompok transportasi masih mencatat kenaikan 0,99 persen, terutama dari tarif angkutan udara dan harga bensin, sehingga memberikan andil inflasi sebesar 0,12 persen terhadap total inflasi bulanan pada April 2026.
Di sektor pariwisata, kunjungan wisatawan mancanegara pada Maret 2026 mencapai 1,09 juta kunjungan. Meski angka ini naik 10,50 persen secara tahunan, namun turun 6,17 persen dibanding bulan sebelumnya.
Secara kumulatif Januari–Maret 2026, kunjungan wisman mencapai 3,44 juta, didominasi wisatawan dari Malaysia, Australia, dan Singapura.
Sementara itu, wisatawan nusantara mencatat 126,34 juta perjalanan pada Maret 2026, melonjak 42,10 persen dibanding tahun sebelumnya. Secara kumulatif, perjalanan wisata domestik mencapai 319,51 juta atau tumbuh 13,14 persen.
BPS menilai lonjakan mobilitas tersebut terutama dipengaruhi periode Idul Fitri dan bersifat musiman, namun turut memperkuat aktivitas ekonomi domestik pada awal tahun. (rmg/xan)