SATELITNEWS.COM, JAKARTA—Pemerintah memastikan dana tambahan Transfer ke Daerah (TKD) senilai Rp 10,65 triliun untuk penanganan pascabencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat telah tersalurkan sepenuhnya ke pemerintah daerah. Dana tersebut kini menjadi penopang utama percepatan pemulihan di wilayah terdampak.
“Telah ada transfer ke daerah sebesar Rp 10,65 triliun yang sudah diterima semua oleh daerah, dan secara bertahap dan tuntas pada 4 Mei yang lalu,” kata Juru Bicara Satgas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera, Amran, dalam konferensi pers di Kantor Kementerian Dalam Negeri, Jakarta, Rabu (6/5/2026).
Ia mengatakan, dengan tuntasnya penyaluran tersebut, pemerintah daerah kini lebih leluasa mempercepat pemulihan di lapangan, mulai dari infrastruktur hingga layanan dasar masyarakat.
“Sudah bisa terlaksana secara maksimal di daerah,” ujarnya.
Penyaluran dilakukan dalam tiga tahap, yakni 40 persen atau Rp 4,38 triliun pada 27 Februari 2026, 30 persen atau Rp 3,19 triliun pada 31 Maret 2026, dan 30 persen atau Rp 3,06 triliun pada 4 Mei 2026. Seluruhnya disalurkan tanpa syarat salur, sehingga daerah dapat langsung menggunakan anggaran begitu diterima.
Sebelumnya, pemerintah memperkirakan kebutuhan langsung daerah terdampak berada di kisaran Rp 8 triliun. Namun cakupan diperluas agar pemulihan tidak terfragmentasi antarwilayah.
Baca Juga: BMKG Prediksi Cuaca Ekstrem Mengintai Selama Lebaran
Dari total dana Rp 10,65 triliun, Aceh menerima Rp 1,65 triliun, Sumatera Utara Rp 6,35 triliun, dan Sumatera Barat Rp 2,63 triliun. Dana itu mencakup Dana Bagi Hasil (DBH), Dana Alokasi Umum (DAU), serta Dana Otonomi Khusus (Otsus) yang telah mengalir hingga tingkat kabupaten/kota.
Aceh juga memperoleh tambahan sekitar Rp 287 miliar melalui mekanisme hibah untuk delapan kabupaten/kota terdampak paling berat, dengan dukungan lintas daerah dari Sumatera Utara dan Sumatera Barat.
Di sektor pertanian, pemerintah mengalokasikan Rp 877 miliar untuk rehabilitasi 94.742 hektare lahan sawah terdampak bencana di Sumatra, yang menjadi salah satu fokus utama pemulihan pascabencana.
“Terkait dengan sawah terdampak, ya karena ini didorong terus untuk segera dipulihkan untuk memperkuat ketahanan pangan, maka berdasarkan data 94.742 hektare itu yang terdampak, dan ini sudah diberikan bantuan juga transfer ke daerah di tiga provinsi, sebesar Rp 877.126.124.000,” ujar Amran.
Percepatan rehabilitasi lahan pertanian menjadi bagian penting dalam pemulihan pascabencana agar produksi pangan dapat kembali berjalan normal, mengingat dampak bencana tidak hanya merusak infrastruktur, tetapi juga mengganggu sumber penghidupan masyarakat.
“Perhatian pemerintah sangat besar dalam hal segera proses pemulihan melalui program rehabilitasi dan rekonstruksi,” katanya.
Baca Juga: Pemulihan Sumatera Dikebut, Infrastruktur Ditargetkan Pulih Sebelum Lebaran
Program tersebut mencakup perbaikan lahan terdampak material bencana, pemulihan jaringan irigasi, serta dukungan bagi petani agar dapat kembali menggarap lahan secara bertahap.
Di lapangan, tanda-tanda pemulihan mulai terlihat. Fasilitas kesehatan seperti rumah sakit dan puskesmas yang sempat terganggu kini kembali berfungsi penuh.
Aktivitas pasar rakyat juga telah pulih dengan tingkat berbeda di tiap provinsi: Sumatera Barat 100 persen, Sumatera Utara 98,2 persen, dan Aceh sekitar 89 persen.
Jalan-jalan nasional yang sebelumnya terputus kini kembali dapat dilalui. Arus barang dan kebutuhan pokok mengalir lebih lancar, sementara pasokan listrik dan bahan bakar minyak relatif stabil di sebagian besar wilayah terdampak.
Di sisi teknis, pembersihan material lumpur telah mencapai 95,78 persen dari total 634 titik terdampak di tiga provinsi.
Di Aceh masih tersisa 27 lokasi, di Sumatera Utara satu titik, sementara Sumatera Barat telah sepenuhnya bersih. “Jadi sudah sangat besar, 95,78 persen terselesaikan,” kata Amran.
Saat ini, pekerjaan lapangan bergeser ke tahap akhir, seperti pembersihan saluran drainase dan parit yang masih tertimbun material sisa bencana.
Dengan seluruh dana yang telah tersalurkan dan kondisi lapangan yang terus membaik, pemerintah menyebut fase rehabilitasi dan rekonstruksi kini memasuki tahap percepatan di seluruh wilayah terdampak. (rmg/xan)
