SATELITNEWS.COM, TANGSEL-Sekolah Auliya Insan Utama genap berusia 31 tahun. Tapi tahun ini, ada yang berbeda. Tidak ada pesta megah. Tidak ada perayaan glamor. Sebaliknya, ada gerakan meluluhkan hati yang menggugah. Perayaan ulang tahun berubah menjadi misi kemanusiaan dengan tujuan membangun Sekolah Darurat di Gaza, Palestina.
Kampanye penggalangan dana dilakukan dengan cara kreatif dan mendidik. Diantaranya dengan melakukan program One Day One Dollar selama 31 hari, simbol usia Auliya yang ke-31. Tindakan itu sebagai simbol batu bata—konsep sederhana yang membuat anak-anak merasa turut membangun sekolah impian di Gaza, satu demi satu.
Tidak sampai di situ, dalam puncak milad yang dikemas berupa konser amal bertajuk “31st Auliya Milad Charity Concert for Palestine” di Ballroom Fatimah Az-Zahra, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang Selatan (Tangsel), turut diselenggarakan pameran dan lelang karya seni dari seluruh jenjang, mulai dari TK hingga SMA.
Ratusan karya siswa dilelang untuk penggalangan dana, dan hasilnya luar biasa terkumpul lebih dari Rp100 juta dari lelang seni saja. Salah satu karya paling mengesankan adalah lukisan belah semangka, simbol perlawanan dan harapan Palestina, dan karya 3D Hiu Palestina, lambang kekuatan dan keberanian anak-anak Gaza.
“Lukisan ini menandakan perasaan dari anak-anak ini untuk membagi kebahagiaan, keceriaan dari awliya kepada anak-anak Gaza. Tadi ada istilahnya belah semangka, lukisan belah semangka itu menyiratkan soal itu. Kemudian yang kedua ada karya tiga dimensi yang menggambarkan seekor ikan hiu, mereka menamakannya hiu Palestina,” ujar Ketua Yayasan Auliya Insani Utama, Tri Wisaksana dalam keterangannya, Minggu (18/5).
Hingga saat ini, donasi yang terkumpul sudah mencapai Rp1 miliar, yang akan disalurkan melalui mitra Avi Al-Quds Volunteer Indonesia untuk membangun sekolah darurat di Gaza. Sekolah Auliya juga berharap adanya koneksi langsung antar siswa Auliya dan Gaza melalui program komunikasi digital.
Baca Juga: Perubahan APBD Tangsel Bertambah Rp100 Miliar
Ia menambahkan, peluncuran dan penggalangan donasi untuk program “Auliya Sister School in Gaza” bukan sekadar konser amal biasa, melainkan panggung kepedulian dari Indonesia untuk menunjukkan empati terhadap penderitaan anak-anak Palestina yang kehilangan hak dasar untuk mengenyam pendidikan.
Program Auliya Sister School in Gaza hadir sebagai respons atas krisis pendidikan yang melanda Gaza karena lebih dari 90 persen bangunan sekolah rusak dan 658.000 anak usia sekolah tidak memiliki akses pendidikan formal.
“Program yang bermitra dengan Alquds Volunteer Indonesia (AVI) dan akan membangun sekolah yang dapat menampung 250-300 anak Gaza,” sebutnya.
Nantinya, di sekolah itu terdapat sarana seperti ruang belajar, meja-kursi, genset, peralatan belajar, dan honor untuk para guru serta relawan. Pengajaran akan mencakup Al-Qur’an dan tahfizh, seni, bahasa Inggris, dan kelas keterampilan lainnya dengan sesi kelas pagi dan siang. Untuk tim pengajar melibatkan guru lokal, psikolog anak, serta relawan.
Tri melanjutkan, meski puncak Milad digelar pada Sabtu (17/5), pameran dan lelang karya akan terus berlangsung hingga akhir tahun ajaran bulan Juni. Auliya juga bersiap menyelenggarakan Auliya Celebration Day, sebagai bentuk kelanjutan solidaritas yang akan kembali difokuskan untuk Palestina.
“Kita ingin membangun solidaritas, rasa empati, peduli dari siswa-siswa Sekolah Auliya termasuk juga dengan guru-gurunya agar mereka menyadari bahwa kegembiraan, kebahagiaan dirasakan saudara-saudaranya di Palestina sehingga kita berkontribusi bagi apa yang kita istilahkan dengan Auliya Sister School di Gaza. Kita ingin donasi ini bisa membangun sekolah darurat di Gaza,” paparnya.
Baca Juga: Bea Cukai Banten Musnahkan Rokok dan Miras Ilegal senilai Rp 62 MilIar
Salah satu siswi, Zahira mengaku sangat antusias dalam mempersiapkan karya-karya terbaiknya untuk dilelang dalam sebuah acara kemanusiaan ini. Acara ini menjadi bentuk kepedulian nyata dari para siswa terhadap kondisi pendidikan di Palestina yang sangat memprihatinkan, terutama di tengah konflik yang merusak banyak fasilitas pendidikan.
“Untuk kita sih sangat antusias ya, apalagi dalam proses pembuatan karya ini, kita diberikan kebebasan untuk menciptakan karya kita, dan kita berharap semoga dengan karya kita ini, kita bisa memberi sedikit manfaat,” bebernya.
Kata siswi kelas X ini, beragam karya yang dilelang dalam acara ini mencerminkan ekspresi dan kepedulian para siswa. Mulai dari lukisan, baju, hingga tas. Semua merupakan hasil karya tangan para pelajar. Zahira mengungkapkan keprihatinannya terhadap anak-anak Palestina yang kehilangan hak dasar mereka untuk belajar.
“Menurut aku sebagai pelajar ya, kasihan banget sih. Apalagi, mungkin kita sebagai pelajar itu punya mimpi, kita punya harapan untuk saat kita dewasa, mungkin ingin melakukan ini, melakukan itu, tapi anak-anak di sana, mereka sekolahnya dihancurkan, nah maka dari itu, kita sebagai pelajar, sebagai siswa, dan sebagai yayasan auliya ini, ingin membantu mereka untuk membangun sekolah yang ada di sana,” paparnya. (eko)
























