SATELITNEWS.COM, SERANG–Pemprov Banten menargetkan pembangunan Jalan Usaha Tani (JUT) sepanjang 80 kilometer, selama lima tahun kedepan. Sebagai pilot project, JUT itu akan dibangun di tiga lokasi di Kecamatan Wanasalam, Kabupaten Lebak, dengan total panjang mencapai 7 kilometer.
JUT sendiri dibangun pada kawasan pertanian tanaman pangan, untuk pengangkutan sarana produksi menuju lahan pertanian, memperlancar mobilitas alat dan mesin pertanian serta mengangkut hasil produk pertanian dari lahan pertanian menuju tempat pengumpulan sementara, tempat pengolahan atau pasar.
Program JUT itu, diyakini dapat memangkas biaya angkut petani. Dimana setiap panen total biaya angkut yang dikeluarkan petani dari tiga lokasi itu mencapai sekitar Rp9 Miliar.
Berdasarkan perhitungan, dengan adanya JUT itu dapat memangkas biaya angkut mencapai Rp3 Miliar.
Kepala Dinas Pertanian (Distan) Provinsi Banten Agus Tauchid mengatakan, untuk pilot project program JUT ini dilaksanakan di Desa Cisarap, Parung Panjang dan Cipedang Kecamatan Wanasalam, Kabupaten Lebak. Dengan JUT ini juga akan terbangun konektivitas yang baik.
“Luas pertanian di Desa Cisarap 412 hektar, di Desa Parung Panjang 215 hektar dan di desa Cipedang 520 hektar. Sehingga totalnya 1.147 hektar,” kata Agus, seusai meninjau lokasi yang akan dijadikan sebagai pilot project Bersama Gubernur Banten, Senin (26/5).
Baca Juga: Pemprov Banten Terapkan Pembelajaran Jarak Jauh
Dengan JUT itu, kata Agus, akan terjadi efisiensi yang luar biasa di Tingkat usaha petani, karena biaya ongkos angkut akan menjadi lebih murah. Belum lagi saat ini Pemprov juga akan melakukan perbaikan di Bendungan Cikoncang, yang menjadi sumber utama pengairan di kawasan pertanian Wanasalam.
Ujungnya nanti daya saing petani akan meningkat menjadi tiga kali dalam setahun, nilai tukar petani meningkat dan indeks ketahanan pangan juga akan semakin baik, terutama di wilayah Banten Selatan.
“Apalagi nanti jalur pengairannya berjalan dengan baik,” pungkasnya.
Setelah program ini berhasil dan masyarakat mendapatkan timbal baliknya yang baik, maka program ini akan dilanjutkan sampai lima tahun kedepan dengan target 80 kilometer yang tersebar di seluruh Pemda yang mempunyai potensi pertanian.
Agus menjelaskan, jika luas lahan di Kecamatan Wanasalam yang menjadi centra produksi padi di Provinsi Banten mencapai 1.272 hektar dengan produksi padi sebanyak 76.320 kwintal atau 152.640 karung. Jika dikonversi menjadi beras sebanyak 7.632 ton sekali panen.
Dimana setiap satu kwintal, menghasilkan dua karung beras. Biaya angkut sebelum ada JUT sebesar Rp60.000/karung, sehingga jika dijumlah 152.640 karung maka menghasilkan biaya angkut sebesar Rp9.158.400.000.
Baca Juga: Waspada Sebaran Abu Vulkanik GAK, Masyarakat Diminta Gunakan Masker
“Namun jika diterapkan JUT, biaya angkut terpangkas menjadi Rp15.000/karung, sehingga jika dijumlah 152.640 karung mencapai Rp2.289.600.000 atau ada selisih nilai biaya angkut mencapai Rp6.868.800.000,” rincinya.
Gubernur Banten Andra Soni mengakui jika biaya ongkos angkut ini cukup besar, sehingga itu menjadi beban bagi apra petani dan dapat mengurangi pendapatan mereka. Maka dari itu, pemerintah hadir memberikan Solusi melalui Pembangunan JUT ini.
“Insya Allah kita akan koordinasikan dengan DPRD agar bisa dialokasikan anggaran untuk JUT ini di perubahan APBD 2025,” ujarnya. (luthfi/mardiana)
























