SATELITNEWS.COM, PANDEGLANG – Perhatian Pemkab Pandeglang, terhadap dunia pendidikan rupanya belum optimal. Buktinya, masih ada sekolah yang belum merasakan pemerataan pemmbangunan, sampai menyebabkan atap atau plafon ruang belajar ambruk.
Salah satu bukti luputnya pandangan Pemkab Pandeglang terhadap dunia pendidikan yaitu, Sekolah Dasar Negeri (SDN) Cikayas 3 di Kampung Bejod, Desa Cikayas, Kecamatan Angsana. Selama hampir 16 tahun lebih, sekolah tersebut belum pernah mendapatkan perbaikan.
Akibatnya, bangunan atap kelas yang terbuat dari kayu itu ambruk pada hari Senin (2/2/2025) dini hari sekira pukul 02.23 WIB. Peristiwa itu terjadi karena kondisi kayu plafon kelas sudah lapuk dan mudah ambruk. Padahal, sekolah tersebut kerap menyampaikan dan mengajukan rehab ruang kelas.
Sekolah itu hanya satu dari sekian banyak sekolah yang membutuhkan intervensi anggaran untuk kenyamanan dalam belajar mengajar. Buruknya perencanaan dan kedekatan atau orang dalam menjadi masalah yang harus segera dihilangkan agar pemerataan pendidikan bisa terwujud.
Hal itu bukan tanpa alasan, karena hampir setiap tahun dana rehab sekolah atau pembangunan sekolah dilakukan terhadap sekolah yang masih kokoh atau ada yang dekat dengan pegawai diinatansi terkait. Sedangkan sekolah yang jauh dari pusat kota, hanya bisa mengajukan tanpa tahu kapan akan direalisasikan.
Padahal, jika mengacu pada pagu anggaran yang ada, lebih dari 40 persen pos anggaran pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupten Pandeglang untuk instansi pendidikan. Meskipun, porsi anggaran untuk pembangunannya tidak sampai 40 persen, melainkan hanya 20 persen lebih.
Melihat besarnya anggaran yang ada, seharusnya persoalan sekolah lapuk, sekolah ambruk, sekolah kumuh bisa terselesaikan dengan baik. Namun apalah daya, keseriusan terhadap dunia pendidikan belum menjadi prioritas utama, melainkan lebih kepada untung rugi atau adanya kedekatan personal dengan pejabat agar bisa mendapatkan baantuan.
Kepala Sekolah (Kepsek) SDN Cikayas 3 Dewi Setiawati mengakui, jika bangunan yang ambruk itu belum pernah mendapatkan perhatian Pemkab Pandeglang sejak tahun 2008 lalu. Padahal, pihak sekolah kerap menyampaikan permohonan bantuan rehab sekolah.
“Sudah lama belum pernah ada perbaikan atau srehab, sejak tahun 2007 atau 2008 belum ada perbaikan bantuan lagi. Peenah ada yang meriksa, tetapi sampai sekarang belum ada realisasinya,” katanya lagi.
Dewi mengatakan, untuk sementara ruang kelas tersebut belum biaa digunakan karena kondisinya mengkhawatirkan. Proses belajar mengajar dialihkan keruang kelas lain untuk sementara waktu sampai adanya perbaikan ruas kelas yany rusak itu.
“Ruang kelas dua ini enggak bisa digunakan sama ruang perpustakaan. Untuk sementara proses belajar mengajar menggunakan kelas lain dulu, sampai ruang kelasnya dilakukan perbaikan,” ujarnya.
Dia mengatakan, mayoritas ruang kelas di SDN Cikayas 3 membutuhkan perbaikan karena kondisinya sudah lapuk dan mengkhawatirkan. Oleh karena itu, dia berharap kepada instansi terkait agar bisa segera melakukan perbaikan agar siswa bisa belajar dengan aman dan nyaman.
“Kalau melihat kondisi dan kenyataannya, ada tujuh ruang kelas yang harus mendapatkan perbaikan, karena kondisinya rusak dan sudah lama enggak ada perbaikan. Itu untuk dilakukan rehab atau pembangunan,” pungkasnya.
Ketua Forum Kampung Siaga Bencana (KSB) Kabupaten Pandeglang, Madsira mengatakan, pihaknya langsung mendatangi lokasi kejadian untuk membantu melakukan evakuasi dan menyampaikan laporan kepada instansi terkait mengenai kejadian itu.
“Segera kelokasi untuk membantu evakuasi. Kalau mellihat dari kondisi bangunannya, memang semuanya sudah lapuk dimakan usia dan membutuhkan perbaikan dengan segera. Semoga saja bisa ditindaklanjuti secepatnya,” imbuhnya. (adib)