SATELITNEWS.COM, TANGSEL–Petugas Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkar) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) dibuat geger oleh laporan palsu dari seorang debt collector yang menyamar sebagai warga melaporkan adanya ular. Alih-alih menyelamatkan warga dari ancaman hewan berbisa, tim Damkar justru dijebak untuk menagih utang pinjaman online (pinjol).
Kejadian unik ini pun mendorong Damkar Tangsel memperketat Standar Operasional Prosedur (SOP) dalam menerima laporan dari masyarakat. Hal tersebut diungkapkan Komandan Regu (Danru) Alpha Rescue Damkar Tangsel, Darussalam.
Darussalam mengungkapkan mengungkapkan kronologi kejadian yang menghebohkan tersebut. Ia menjelaskan bahwa peristiwa bermula dari laporan masuk ke call center Damkar mengenai adanya ular yang berada di balik lemari sebuah rumah warga.
“Laporan datang ke call center kami, lalu diteruskan ke pos rescue. Sesuai SOP, kami konfirmasi ulang ke pelapor. Nada bicaranya tenang dan informasinya cukup meyakinkan. Dia bilang ular berada di balik lemari dan di rumah hanya ada istrinya,” ujar Darussalam dalam keterangannya, Minggu (15/6/2025).
Tim Damkar kemudian bergerak menuju lokasi yang disebutkan, namun mulai merasakan kejanggalan saat tidak ada warga sekitar yang mengenali nama pelapor maupun alamat yang diberikan. Mereka bahkan sempat menghubungi ketua RT setempat untuk memastikan keaslian laporan tersebut.
“Saat kami tiba dan mencari titik lokasi, kami tanya ke warga sekitar tapi tidak ada yang mengenal nama tersebut. Kami juga konfirmasi ke pak RT, dan ternyata beliau juga tidak mengenal nama yang disebut,” jelas Darussalam.
Baca Juga: Ular Sanca 5 Meter Bikin Heboh Warga Pondok Aren
Kejutan terjadi saat tim mencoba kembali menghubungi si pelapor melalui telepon dan WhatsApp. Di sinilah niat sebenarnya dari pelapor terungkap.
“Ternyata dia bilang tujuan dia membuat laporan itu supaya kami bisa datang ke rumah nasabahnya, berinisial DI, dan menagih utang. Jadi kami dimanfaatkan untuk menjadi alat penagih pinjaman online,” kata Darussalam dengan nada geram.
Menurutnya, si pelapor tidak menyebutkan jumlah utang yang harus ditagih dan hanya meminta petugas “menyampaikan pesan” kepada si pemilik rumah. Setelah itu, nomor pelapor tak lagi bisa dihubungi, diduga telah memblokir kontak Damkar atau menonaktifkan nomornya.
“Kita kaget ya, karena memang baru pertama kali seperti ini ya, kejadian yang unik ya. Sekaligus begini juga sebuah plecehan profesi ya. Lalu ke depannya kita harapkan ya untuk masyarakat kita imbau untuk laporan yang lebih otentik dan lebih realita ya,” paparnya.
Dampak dari kejadian ini, Damkar Kota Tangsel kini memperketat SOP pelaporan darurat. Mulai sekarang, pelapor diwajibkan memberikan data lebih lengkap dan dapat diverifikasi sebelum tim diterjunkan ke lapangan.
“Karena nomor kedaruratan ini bukan untuk mainan ya, kita untuk pelayanan publik ya. Lalu selanjutnya mungkin kita akan lebih tegas lagi dengan catatan kita setelah kita adanya laporan fiktif atau palsu, kita akan berkoordinasi dengan jajaran pihak terkait atau pihak yang berwajib,” jelasnya.
Baca Juga: Polisi Masih Selidiki Ungkap Kasus Dugaan Penculikan Siswa SMP di Tangsel
Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak bermain-main dengan nomor darurat. Menurutnya, nomor tersebut adalah saluran vital bagi keselamatan warga dan tidak boleh disalahgunakan untuk keperluan pribadi apalagi menipu petugas.
“saya harapkan kepada seluruh masyarakat, khususnya orang Tangerang Selatan ya, untuk tidak bermain-main dengan nomor darurat ya,” katanya.
Kasus ini menjadi pengingat penting bahwa penyalahgunaan layanan publik bukan hanya tindakan tak etis, tapi juga berpotensi melanggar hukum. Masyarakat diharapkan semakin bijak dalam menggunakan layanan darurat demi kepentingan bersama. (eko)



















