SATELITNEWS, LEBAK—Suku Baduy merupakan kelompok etnis masyarakat adat suku Sunda di wilayah pedalaman Kabupaten Lebak. Selain terkenal dengan hasil bumi berupa gula aren, madu, dan durian, masyarakatnya juga dikenal penghasil tenun. Harganya pun tak tanggung-tangggung bisa mencapai Rp 1 juta per helai.
Menenun merupakan warisan para leluhur dari nenek moyang mereka. Kain tenun ini adalah benda budaya kearifan lokal yang menjadi ciri khas tradisional masyarakatnya, baik masyarakat adat suku Baduy luar maupun Baduy dalam.
Di perkampungan adat Suku Baduy terlihat sejumlah perempuan Baduy sedang menenun di bale – bale rumah mereka. Tak heran jika saat memasuki perkampungan Baduy di setiap rumah dapat dijumpai peralatan menenun tradisional. Para perempuan Baduy menenun di sudut – sudut rumah mereka.
Salah satu warga Baduy luar, Ambu Sani mengatakan, keahlian menenun ini sudah dipelajarinya sejak usia masih 10 tahun. Bahkan menurutnya, hampir seluruh perempuan Baduy di Kampungnya bisa menenun.
Untuk menghasilkan kain tenun Baduy ini, prosesnya memakan waktu cukup lama. Hal ini lantaran disebabkan oleh besar dan kerumitan membuat motif kain. Biasanya motif kain suku Baduy berupa garis warna-warni dan motif yang terinspirasi dari alam. “Keahlian ini sudah dari kecil dari umur 10 tahun, tapi ada juga yang dari umur 7 tahun sudah pada bisa nenun,” kata Ambu Sani, Senin (23/6/2025).
Dirinya menyebut, proses menenun ini bisa memakan waktu dua minggu hingga satu bulan untuk satu helai, tergantung besar dan tingkat kesulitannya. “Waktunya itu bisa 2 minggu, ada juga yang satu bulan tergantung besar dan kecilnya yang ditenun,” ujarnya.
Baca Juga: Disiapkan Jadi Gerbang Wisata Baduy, Agrowisata Cikapek Kurang Dana
Dia menambahkan, ada beragam motif tenun Baduy yang biasa dibuat warga Baduy. “Motifnya macam-macam ada yang motif mancung, suat, songket, banyak motifnya juga, ada yang suat Janggarwari, Poleng Kacang sama Poleng untuk sarung,” jelasnya.
Untuk harga, tenun Baduy dijual mulai Rp 35.000 hingga yang paling mahal yaitu Rp 1 juta, tergantung motif, ukuran dan tingkat kesulitannya. Sedangkan untuk yang paling lama dan sulit dibuat adalah tenun Janggarwari. “Untuk sarung itu harganya paling Rp 200.000, yang ada gawangnya Rp 300.000 gimana motifnya, ada juga yang Rp 35.000, jadi tergantung motif sama besar dan kecilnya saja,” ucapnya. “Kalau yang paling mahal itu Janggawarih, ada yang Rp 1 juta, karena bikinnya itu mah paling lama,” pungkasnya.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lebak, Imam Rismahayadin membenarkan bahwa hampir sebagian masyarakat suku adat Baduy perajin tenun. Bahkan, hasil tenuannnya berupa batik sudah merambah ke berbagai daerah. “Di Lebak, terdapat 12 motif batik yang diakui sebagai batik khas Baduy dan Lebak, yaitu Motif Seren Tahun, Gula Sakojor, Pare Sapocong, Kahirupan Baduy, Leutik Sijimat, Rangkasbitung, Caruluk Saruntuy, Sadulur, Kalimaya, Angklung Buhun,” tutur Imam.
Ke-12 motif batik Lebak ini tidak hanya indah secara visual, tetapi juga sarat dengan nilai-nilai budaya dan filosofi yang menggambarkan kehidupan masyarakat Baduy dan kearifan lokal Kabupaten Lebak. “Masing-masing Motif memiliki makna dan filosofi tersendiri yang terinspirasi dari budaya masyarakat Baduy dan kearifan lokal,” tandasnya.(mulyana)
























