SATELITNEWS.COM, LEBAK–Pengembangan Agrowisata Cikapek di Kecamatan Leuwidamar, Kabupaten Lebak, yang disiapkan menjadi gerbang wisata menuju Baduy, hingga kini belum tuntas akibat keterbatasan anggaran. Pemerintah daerah masih membutuhkan sekitar Rp 57 miliar untuk menyelesaikan proyek wisata terpadu tersebut.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Lebak, Yosep M Holis mengatakan, total kebutuhan anggaran pembangunan kawasan Agrowisata Cikapek berdasarkan master plan mencapai sekitar Rp 70 miliar. Namun hingga pertengahan 2026, pembangunan yang telah terealisasi baru sekitar Rp13 miliar. “Yang benar-benar selesai baru satu zona. Sisanya masih dilakukan bertahap menyesuaikan kemampuan anggaran yang tersedia,” kata Yosep.
Menurut Yosep, pembangunan kawasan mulai dilakukan sejak 2024 dengan alokasi anggaran sekitar Rp3,8 miliar. Selanjutnya pada 2025, pemerintah daerah kembali mengucurkan dana lebih dari Rp8 miliar untuk pembangunan infrastruktur dan penataan kawasan wisata.
Meski pembangunan terus berjalan, keterbatasan kemampuan fiskal daerah membuat seluruh rencana pengembangan belum dapat diselesaikan sesuai target awal. Karena itu, Pemkab Lebak mulai membuka peluang kerja sama dengan pihak swasta untuk membantu percepatan pembangunan kawasan wisata tersebut.
“Kalau hanya mengandalkan APBD tentu cukup berat. Sekarang mulai kami tawarkan juga kepada pihak swasta agar bisa ikut mendukung pengembangannya,” ujar Yosep. Ia menjelaskan, untuk tahun anggaran 2026 pemerintah daerah hanya menyiapkan sekitar Rp 300 juta. Anggaran tersebut difokuskan untuk pembenahan ringan sambil menunggu pengembangan lanjutan dan kemungkinan masuknya dukungan investasi.
Agrowisata Cikapek dirancang berdiri di atas lahan seluas sekitar 52 hektare. Kawasan itu nantinya dipersiapkan menjadi pusat wisata berbasis pertanian, peternakan, ekonomi kreatif, hingga rest area bagi wisatawan yang melintasi jalur menuju kawasan wisata adat Baduy. “Masih butuh 57 miliar agar Agrowisata Cikapek itu benar-benar rampung,” katanya.
Selain menjadi destinasi wisata baru, keberadaan kawasan tersebut juga diharapkan mampu mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat sekitar melalui sektor UMKM, jasa wisata, hingga hasil pertanian lokal. Namun hingga kini, pembangunan baru menyentuh satu zona dari total sembilan zona yang dirancang dalam konsep pengembangan kawasan.
Meski belum sepenuhnya rampung, pemerintah daerah berencana mulai memperkenalkan Agrowisata Cikapek kepada publik melalui sejumlah agenda promosi dan kegiatan wisata dalam waktu dekat. Langkah itu dilakukan untuk mengenalkan potensi kawasan sekaligus menarik minat wisatawan dan investor agar pengembangan kawasan dapat terus berlanjut. (mulyana)