SATELITNEWS.COM, PANDEGLANG – Miris, di tengah gencarnya Sistem Penerimaan Murid Baru (SPMB) Tahun Ajaran 2025/2026. Sekolah Dasar Negeri (SDN) Karaton 5, di Kampung Parung Sentul, Kelurahan Karaton, Kecamatan Majasari, Kabupaten Pandeglang, terancam tutup.
Hal itu diakibatkan, karena kekurangan murid pada tahun ajaran baru 2025/2026. Dan kondisi tersebut, sudah terjadi sejak beberapa tahun lalu.
Diketahui, SDN Karaton 5 lokasinya sangat dekat dengan pusat kota Pandeglang, sekitar 2 Km. Namun pada SPMB tahun 2025/2026 ini tidak mendapatkan murid.
Kepala SDN Karaton 5, Tati Patmawati mengatakan, ia masuk ke sekolah itu sejak tahun 2023 lalu.
“Memasuki tahun ajaran 2024/2025, jumlah murid yang mendaftar memang sangat sedikit, hanya ada dua orang,” kata Tati, kepada wartawan, Senin (7/7/2025).
Namun demikian, proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) tetap berjalan seperti biasanya. Artinya, sesuai dengan kurikulum yang berlaku secara nasional.
Baca Juga: Sidak WP, DPRD Pandeglang Canangkan Revisi Perda Pajak Daerah
“Alhamdulillah, guru – guru di sini tetap semangat mengajar. Walau memang jumlah siswanya sedikit,” tandasnya.
Menurutnya, memasuki tahun ajaran 2025/2026, tidak ada sama sekali murid baru yang mendaftar ke sekolah tersebut.
“Sama sekali tidak ada murid baru, yang mendaftar ke sekolah ini. Kami prediksikan akibat dua hal, yaitu karena sudah lama warga mengetahui kalau sekolah ini akan di merger, dan setiap tahunnya jumlah pendaftar terus menurun,” ujarnya.
Selain wacana merger, ujarnya, para orangtua juga melihat kondisi bangunan sekolah. Pada saat ini, kondisinya sudah memprihatinkan karena memang mengalami kerusakan pada bagian kursi, pintu, atap dan beberapa bagian bangunan lainnya.
“Kalau saya, berharap agar segera direalisasikan untuk di merger. Agar proses KBM berjalan optimal,” harapnya.
Guru Pendidikan Agama Islam (PAI) SDN Karaton 5, Dayat Ahdiat mengatakan, jumlah siswa di sekolah tempatnya mengajar sangat sedikit.
Baca Juga: UPT Puskesmas Bojong Pandeglang Bahas Kesehatan Masyarakat
“Untuk kelas 2, dua orang. Kelas 3, sembilan orang. Kelas 4, lima orang. Kelas 5, sebelas orang dan Kelas 6 kemarin baru lulus 5 orang. Jadi saat ini, dikurangi jumlah siswa lulus tinggal ada 31 orang, dari kelas 2 sampai kelas 6,” pungkasnya.
Dayat juga mengatakan, untuk KBM selama ini berjalan seperti biasa. Mengikuti proses pembelajaran, dewan guru tetap aktif semangat mengajar.
“Sampai hari ini, pendaftar dari masyarakat sekitar yang ingin menyekolahkan anaknya ke sini belum ada. Tapi bagaimanapun juga, kami tetap menunggu sesuai fungsi kami di sini, sebagai guru dan juga ada ibu Kepala Sekolah,” paparnya.
Dayat berharap, pada masyarakat sekitar, bagi anak-anaknya yang sudah memasuki usia SD, silakan mendaftar ke sini.
“Intinya, sekolah di sini juga tetap punya pemerintah, harus ada perhatian dari pemerintah. Karena, sekolah itu harus mendapatkan perhatian dari pemerintah, guru dan masyarakat,” tukasnya.
Sementara, warga Kampung Parung Sentul, Kelurahan Karaton, Kecamatan Majasari, Kabupaten Pandeglang, Surahman mengatakan, kondisi sekolah yang kekurangan murid itu sudah berlangsung sejak 10 tahun lalu.
“Ini bukan hal baru. Mungkin puncaknya, ya di tahun 2025 ini,” tandasnya.
Suharman mengungkapkan, situasi itu tidak harus terjadi jika dibarengi dengan adanya kebijakan pemerintah yang mendukung keberadaan sekolah tersebut.
Artinya ujar pria berbadan sedang ini, semisal pemerintah bersama pihak sekolah menginstruksikan warga sekitar untuk sekolah di SDN Karaton 5.
sebetulnya hal itu tidak akan terjadi kalau saja dari pemerintah mengeluarkan aturan. Misalkan menginstruksikan kepada warga agar menyekolahkan anaknya ke sekolah terdekat.
“Yang jelas, sekarang muridnya semakin sepi. Karena, orang tua termasuk warga di sini lebih memilih menyekolahkan anaknya ke SDN Karaton 2, Karaton 1 dan SDN Karaton 3,” imbuhnya.
Kalau kondisinya sudah seperti ini, tambahnya, sudah semakin sulit. Sehingga, tinggal menunggu kebijakan pemerintah setempat. (mardiana)
























