SATELITNEWS.COM, KELAPADUA--Ada fenomena yang sering disaksikan di Indonesia, seorang atlet memiliki prestasi hebat di masa junior namun loyo pada level senior. Lantas, apa penyebabnya?
Dekan Fakultas Ilmu Keolahragaan dan Kesehatan Universitas Negeri Jakarta (UNJ), Novi Marlina Siregar mengungkapkan hal itu dapat terjadi akibat ada yang salah dalam proses pembentukan atlet pada masa usia dini hingga remaja.
Kesalahan itu dapat berupa pemberian program latihan yang berlebihan. Hingga, motivasi untuk berprestasi yang telah lebih dahulu habis pada masa junior. Sehingga, atlet junior akan kehabisan “tenaga“ dan motivasi saat harus bersaing di level senior.
Hal itu diungkapkan profesor Navi Marlina Siregar ketika menjadi pemateri dalam kegiatan Pelatihan Pelatih yang diselenggarakan KONI Kabupaten Tangerang pada Jumat (18/7) lalu.
Menurut Lina, motivasi untuk berprestasi adalah hal penting yang harus ditumbuhkan di benak atlet, baik yang berada di level usia dini hingga dewasa. Motivasi untuk meraih prestasi harus terus dijaga sehingga atlet memiliki keinginan untuk terus mengembangkan kemampuannya.
Menurut Lina, motivasi dapat berasal dari diri atlet itu sendiri. Namun juga dapat muncul dari orang lain. Yakni pelatih dan orang tua.
Selama masih pada level usia dini atau junior, atlet anak harus berfokus pada proses, bukan pada hasil. Mereka diajak bermain dan bergerak sehingga dapat memaksimalkan potensinya. Pada level ini, pelatih mau pun orang tua harus menciptakan lingkungan bebas tekanan kepada sang anak.
Sedangkan pada level junior, atlet sudah dapat diberikan target jangka pendek dan jangka panjang. Kemudian, mulai ditanamkan kedisiplinan.
“Seringkali orang tua mendorong anak untuk berprestasi di usia dini dan junior sehingga mereka akan jago pada level tersebut. Namun, habis pada masa senior,“ ungkap dia.
Kegiatan Pelatihan Pelatih dengan tema Peningkatan Kapasitas Pelatih Menuju Juara Umum Provprov VII Banten ini diikuti 27 pelatih dari berbagai cabang olahraga. Dalam sesi tanya jawab dengan Navi Marlina, pelatih basket Samuel mengemukakan fenomena yang terjadi di cabang olahraganya. Dia membeberkan fakta bahwa orang tua seringkali memaksakan anaknya meraih prestasi padahal semestinya sang anak masih harus bermain dengan gembira.
“Saya suka sedih karena anak-anak diajak bermain play for champion bukan play for fun. Ini berdampak kepada banyak anak kecil yang sudah menderita cedera ACL, MPL dan lainnya. Anak-anak itu bahkan harus bertanding di kala waktunya liburan. Lantas, bagaimana menyikapi fenomena ini?” tanya Samuel kepada Navi.
Navi kemudian membeberkan sejumlah pendapatnya mengenai fenomena tersebut. Menurut dia, pelatih tetap harus memberikan edukasi kepada orang tua atlet. Pelatih juga dapat memanfaatkan “ambisi” orang tua tersebut untuk memberikan program latihan yang tepat ketika sang atlet berada di rumah.
“Yang pertama adalah memberikan edukasi kepada orang tua. Mereka dapat dipanggil dan diajak berdiskusi terkat perkembangan informasi olahraga terbaru. Kemudian manfaatkan keingintahuan orang tua itu dengan memberikannya pekerjaan rumah terkait latihan atlet. Langkah selanjutnya adalah dengan mendatangkan pakar dari bidang lain untuk memberikan edukasi. Bisa dari KONI atau yang lainnya. Yang terakhir, bisa juga melakukan gathering dengan orang tua dan ajak berbicara mengenai prestasi anak-anak,”ungkap dia.
Diketahui, kegiatan Pelatihan Pelatih ini dibuka Sekretaris Dinas Pemuda Olahraga Kebudayaan dan Pariwisata Kabupaten Tangerang Iskandar Nordat. Hadir dalam pembukaan kegiatan ini Ketua KONI Kabupaten Tangerang Eka Wibayu dan jajarannya. Kegiatan ini digelar selama tiga hari sejak Jumat (18/7) hingga Minggu (20/7). (gatot)