SATELITNEWS.COM, SERANG – Semua wilayah di Provinsi Banten, rentan terkena berbagai bencana, baik alam maupun non alam. Terkait hal itu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Banten, mengaku sudah melakukan berbagai kesiapan.
Diketahui, potensi bencana yang bisa terjadi di wilayah Banten yaitu, Tsunami seperti yang pernah terjadi dipenghujung tahun 2018 silam, dimana ratusan orang kehilangan nyawa karena terkena dampak tsunami, terlebih Banten berdekatan dengan sesar Sumatera dan jalur cincin api.
Kemudian genpa bumi, karena Provinsi Banten terletak di zona subduksi lempeng Indo-Australia dan Eurasia. Banjir dan banjir bandang, bencana ini memgancam hampir semua wilayah di Banten, karena memiliki beberapa sungai besar seperti Ciliman, Cidurian, dan Cisadane, karena bisa meluap ketika hujan lebat dengan intensitas tinggi.
Bencana longsor, juga mengancam hampir semua wilayah di Banten, karena banyak wilayah perbukitan dan pegunungan di Banten, khususnya wilayah Kabupaten Pandeglang, Lebak. Letusan gunung merapi juga masuk dalam bencana alam yang berpotensi terjadi, karena di Banten ada beberapa gunung merapi yang aktif, yaitu Gunung Anak Ktakatau, Gunung Karang.
Selanjutnya bencana Angin Puting Beliung yang bisa terjadi sewaktu-waktu, dan merata disemua wilayah Banten. Kemudian bencana kekeringan, yang selalu terjadi diwilayah Kabupaten Pandeglang, tetapi jika terjadi kemarau panjang, beberapa wilayah seperti Kabupaten Serang, Kota Cilegon, dan daerah lainnya juga mengalami hal yang sama.
Kemudian bencana kebakaran, potensu bencana ini sangat tinggi di Banten, baik di hutan, lahan, maupun permukiman. Sedangkan untuk bencana non alam yaitu kegagalan industri, karena di Banten banyak industri seperti petrokimia, baja, demen, dan tekstil dan bencana jenis ini sangat berbahaya bagi masyarakat.
Terkait hal itu, Kepala Pelaksana BPBD Banten Nana Suryana mengatakan, pihaknya terus memberikan edukasi terkait semua potensi bencana baik alam maupun non alam. Oleh karena, Banten merupakan wilayah yang masuk rentan terjadi berbagai bencana alam.
“Kesiapan dari BPBD Banten, tentu harus maksimal dari semua tahapan bencana, sepuluh bencana yang berpotensi terjadi selalu kita antisipasi dan kalaupun terjadi, kita pasti langsung kelokasi,” katanya, Minggu (27/7/2025).
Nana mengatakan, ditengah banyaknya potensi bencana di Provinsi Banten, pihaknya masih kekurangan sarana dan prasarana (sarpras) penunjang penanganan bencana. Meski demikian, hal itu tidak dijadikan alasan untuk tidak melakukan penanganan dengan prima.
“Meskipun sarpras penunjang masih belum memadai tidak mesti menjadi hambatan. Kalau apa saja yang kurang, nanti akan kita sampaikan. Tetapi yang jelas, kita masih kekurangan sarpras kebencanaan,” tambahnya, tanpa menyebutkan kekurangan sarpras kebencanaan.
Nana mengatakan, ada skema lain untuk mengahadapi bencana alam dan non alam, agar tidak menimbulkan banyak korban jiwa maupun kerugian materil dalam skala besar. Salah satunya dengan melakukan koordinasi dengan semua pihak terkait agar bisa bekerja sama dengan baik.
“Karena kita bisa koordinasi dengan semua unsur penthahelix termasuk Instansi terkait di Pusat, provinsi maupun kabupaten/kota serta seluruh unsur relawan kebencanaan,” tuturnya.
Dikonfirmasi terpisah, Ketua Forum Kampung Siaga Bencana (KSB) Provinsi Banten Madsira mengatakan, ada beberapa hal yang menjadi catatan ketika terjadi bencana alam, yaitu minimnya sarpras penunjang kebencanaan, termasuk ketersediaan bantuan logistik di lumbung sosial (Lumsos).
Selain itu, rendahnya pemahaman kepada masyarakat terkait semua jenis bencana dan tindakan yang harus dilakukan ketika terjadi bencana juga menjadi persoalan yang harus segera diselesaikan.
Oleh karena, pemahaman dalam menghadapi setiap jenis bencana baik alam maupun non alam bisa menjadi salah satu hal penting untuk mencegah terjadi korban jiwa dalam skala besar.
“Kalau berbicara potensi bencana dan penanganan bencana, tentunya selalu dilakukan berbagai kegiatan dan lainnya. Tetapi, yang paling pentingnya itu adalah kelengkapan sarana penanganan kebencanaan, dan masyarakat yang mengerti terhadap bencana,” pungkasnya.
“Pemberian pemahaman itu penting, karena masyarakat bisa melakukan pencegahan terhadap bencana alam yang bisa terjadi. Kalaupun sudah terjadi, masyarakat bisa melakukan antisipasi sehingga kemungkinan korban jiwa bisa dicegah,” imbuhnya. (adib)