SATELITNEWS.COM, LEBAK – Tak sedikit penjual Bendera Merah Putih atau atribut HUT Ke-80 RI, bermunculan di Kabupaten Lebak, dan mengeluhkan pendapatan. Menurut mereka, penjualan melalui daring menjadi penyebab turunnya pendapatan, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
Di Kabupaten Lebak sendiri, khususnya di wilayah Kota Rangkasbitung, penjual Bendera atau atribut Merah Putih kurang lebih satu bulan sudah menjajakan dagangangnya, seperti di Jalan Raya Multatuli, Hardiwinangun, Sunan Kalijaga, Jendral Sudirman.
Rata-rata, pedagang yang berjualan diatas trotoar selain warga Lebak juga dari berbagai daerah lainnya, diantaranya Jawa Barat.
Di momen HUt RI Ke-80, tak sedikit pula dari mereka bisa mendapatkan keuntungan yang besar dari usahanya. Namun, penjualan melalui daring rupanya menjadi saingan terberat mereka, hingga kenyataannya omzet yang didapat menurun drastis.
Salahsatunya dirasakan Supriyadi, setiap hari tidak kurang dari 50 ribu hingga 100 ribu hasil yang didapatnya dari penjualan atribut merah putih. Sehingga, jika dibandingkan dengan tahun sebelumnya, mengalami penurunan omzet yang signifikan.
“Tahun sebelumnya juga sudah mengalami penurunan tapi tidak separah ini. Tetao di tahun sebelumnya juga akibat penjualan secara daring. Sehari tidak kurang dari 100 ribu yang saya dapat,” kata warga Jawa Barat ini, Jumat (15/8/2025)
Baca Juga: Waduk Karian Lebak Semakin Mengering, Jejak Permukiman Lama Jadi Magnet Wisata
“Tahun 2024 paling gede Rp500 ribu. Sekarang mah paling mau 200 ribu sehari saja sulitnya minta ampun. Kemarin aja dari pagi sampai sore dapat cuma Rp50 ribu,” ujar Suryadi, menceritakan betapa sulitnya bersaing dengan daring.
Ditambahkannya, menjual bendera dan pernak-pernik agustus sudah dijalaninnya selama 20 tahun lamanya. Namun terparah penurunan omzet di Tahun sekarang.
“Jadi setiap tahun berjualan disini, menjadi tradisi bagi saya menjual bendera, untuk mengais rezeki anak istri,” tandasnya.
Sekretaris Disperindag Lebak, Agus Nugraha mengatakan, dunia digital yang kian hari memberikan kemudahan kepada masyarakat untuk jual beli bisa mempengaruhi penjualan secara offline.
“Sekarang tidak hanya di wilayah kota yang berbelanja melalui daring, tapi sudah menyeluruh ke pelosok dampak kecanggihan teknologi. Saya kira inilah efek perkembangan jaman,” tandasnya.(mulyana)
























