SATELITNEWS.COM, PONDOK AREN--Dalam rangka menyambut Hari Lahir Kejaksaan ke-80 pada 2 September 2025 mendatang, Kejaksaan Negeri (Kejari) Kota Tangerang Selatan (Tangsel) menggelar kegiatan bakti sosial (baksos) di Yayasan Sayap Ibu Bintaro Cabang Banten, tepatnya di Kecamatan Pondok Aren. Bakti sosial itu dilakukan pada Rabu (20/8).
Kepala Kejari (Kajari) Tangsel, Apsari Dewi turut didampingi para kepala seksi Kejari Tangsel, antara lain Kasi Intelijen Ronny Bona Tua Hutagalung, Kasi Pidana Khusus Gigih Fajar, Kasi Pidana Umum Hifni, Kasi Perdata dan Tata Usaha Negara Romy, serta para kasi bidang lainnya. Ikatan Adhyaksa Dharmakarini (IAD) Kejari Tangsel juga hadir mendampingi kegiatan sosial tersebut.
Apsari Dewi bersama jajarannya menyerahkan bantuan berupa susu, popok, kebutuhan sehari-hari, serta uang tunai untuk anak-anak berkebutuhan khusus di yayasan tersebut.
“Ini adalah salah satu bentuk bakti sosial kami, cara kami berbagi kepada masyarakat, berkontribusi terhadap anak-anak istimewa dengan memberikan susu, popok, kebutuhan sehari-hari, dan uang tunai. Ini bentuk rasa cinta kami kepada masyarakat,” ujar Dewi.
Dewi menambahkan, kegiatan baksos menjadi momentum untuk meningkatkan rasa syukur bagi seluruh jajaran Kejari Tangsel karena masih diberikan kesehatan untuk beraktivitas normal setiap hari.
“Nilai yang paling utama adalah bagaimana kita harus bersyukur. Hal yang bagi kita biasa, bagi anak-anak istimewa ini adalah sesuatu yang luar biasa,” ucapnya.
Baca Juga: Doa Bersama untuk 5 Jurnalis dan 3 Awak Kapal Digelar di Islamic Center Tangsel
Dalam kesempatan itu, Dewi juga mengajak masyarakat dan para pemangku kepentingan di Kota Tangsel untuk lebih peduli terhadap anak-anak berkebutuhan khusus.
“Banyak anak yang tidak seberuntung kita. Dengan kemampuan masing-masing, kita bisa memberikan atensi, kontribusi, serta tidak bersikap ignorant terhadap mereka,” ungkapnya.
Suasana haru sempat menyelimuti kunjungan tersebut ketika Dewi melihat langsung aktivitas para anak berkebutuhan khusus. Bahkan ia meneteskan air mata saat menyaksikan seorang anak berusia 23 tahun yang menderita hidrosefalus dan hanya bisa terbaring di tempat tidur.
“Ini hikmah yang sangat besar. Anak ini berjuang hidup di tengah keterbatasan dan masih bisa bertahan hingga usianya 23 tahun. Dari sini kita belajar bahwa hidup memerlukan perjuangan dalam bentuk apa pun,” tutur Dewi dengan mata berkaca-kaca. (dra/rmg)
























