SATELITNEWS.COM, LEBAK– Bupati Lebak Hasbi Asydiki Jayabaya menyatakan komitmennya meningkatkan sektor pertanian sekaligus menekan angka kemiskinan ekstrem di wilayah Kabupaten Lebak.
Hasbi menyebut bahwa dalam sektor pertanian, dirinya menekankan pentingnya hilirisasi padi. Ia juga mengungkapkan bahwa dalam waktu dekat Kabupaten Lebak akan memiliki rice milling unit (RMU) atau mesin penggiling padi agar pengolahan gabah kering panen menjadi beras dapat dilakukan di daerah sendiri.
“Insya Allah dalam waktu dekat Kabupaten Lebak akan memiliki rice milling unit sehingga pengelolaan beras atau hilirasi padi dari gabah kering panen menjadi beras bisa dikelola di Kabupaten Lebak. teu kudu deui ka daerah-daerah lain (tidak perlu ke daerah-daerah lain). Kita ini daerah penghasil,” kata Hasbi, Jumat (22/8/2025).
Hasbi juga menyampaikan, bahwa Kabupaten Lebak diketahui memiliki 52.025 hektare sawah produktif. Pada panen raya di tambak baya belum lama ini kata dia, hasil produksi padi yang biasanya 6 ton per hektare kini meningkat siginfikan menjadi 7,1 ton per hektare. Hal itu kata dia, tidak lain adalah berkat dukungan pupuk hayati cair. Angka ini jauh di atas rata-rata nasional sebesar 5,6 ton per hektare.
“Artinya ada kenaikan 1,1 ton. Kita memang di atas rata-rata nasional. Rata-rata nasional itu 5,6 ton per hektare. Artinya ada potensi-potensi. Petani jadi teu kudu lieur-lier deui ngejual gabah ka mana ieu? (Petani tidak perlu pusing lagi untuk menjual gabahnya kemana?) Dibeli ku pemerintah daerah melalui badan usaha milik daerah (Dibeli oleh pemerintah melalui badan usaha milik daerah). Insya Allah nanti Lebak Niaga kita hidupkan kembali. BUMD ini harus sesuatu yang produktif supaya petani tidak ragu lagi,” katanya.
Kata dia, bahwa dirinya memiliki tanggung jawab besar terhadap 1,5 juta lebih penduduk yang berada di Kabupaten Lebak yang tersebar di 28 kecamatan, 340 desa, 5 kelurahan, dan 1.827 kampung.
Baca Juga: Pemprov Banten Prioritaskan Sektor Pertanian untuk Ketahanan Pangan
Lebih lanjut kata Hasbi, berdasarkan Data Terpadu Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), Lebak memiliki 111.000 jiwa warga miskin, di antaranya 5.698 keluarga termasuk kategori miskin ekstrem atau sekitar 18 ribu jiwa.
“Dari 111.000 5.698 KK, itu mereka yang berada di Desil 1. Artinya yang miskin ekstrem. Lamun saimah eta satu kakak (Kalau satu rumah itu ada satu kepala keluarga), ada dua ayah dan ibu, satu anak, 5.698 dikali tiga, hampir 18.000 lebih warga yang berada di bawah garis kemiskinan. artinya miskin ekstrrm,” tuturnya.
Hasbi juga menargetkan penurunan angka tersebut melalui implementasi Inpres Nomor 8 Tahun 2022 tentang Penghapusan Kemiskinan Ekstrem dan program bantuan pangan bergizi gratis dari pemerintah pusat.
“Karena urang kudu bahasana kieu, kudu boga rasa memiliki terhadap daerah. Urang lamun boga handphone nya, eta handphone ragak. Eta ku urang langsung dicokot, langsung diusap eta ku urang handphone.
Karena kita merasa memiliki kepada handphone itu. Kenapa kepada daerah juga kita tidak seperti ini? Itu. Kita harus punya memiliki terhadap rasa memiliki terhadap Kabupaten Lebak. Lamun urang boga rasa memiliki mah, Insya Allah Kabupaten Lebak bisa menjadi Kabupaten yang berkembang, lebih maju dan lebih ruhai,” pungkasnya.
(Karena kita harus berbicara seperti ini, kita harus memiliki rasa memiliki terhadap daerah. Kalau kita punya handphone, handphone itu jatuh sedikit saja, langsung kita ambil, kita bersihkan, kita rawat. Karena kita merasa memiliki handphone tersebut. Mengapa terhadap daerah kita tidak bisa bersikap seperti itu juga? Kita harus punya rasa memiliki terhadap Kabupaten Lebak. Jika kita memiliki rasa itu, insyaallah Kabupaten Lebak bisa menjadi kabupaten yang berkembang, lebih maju, dan lebih sejahtera),” pungkasnya.(mulyana)
Baca Juga: Hari Keempat, Pencarian Rombongan Jurnalis yang Hilang di GAK Masih Nihil
























